Resensi

James May's Toy Stories

Ini tontonan ringan dari BBC Two yang tayang tahun 2009 silam. Orang yang menukanginya yaitu si lamban dari Top Gear, James May. Kalau Anda punya masa kecil, waktu luang, daya khayal, dan, yang paling penting, kocek yang dalam, Anda bisa membangun versi gila dari mainan-mainan zaman dahulu dan membuat PlayStation terlihat membosankan.

James May's Toy Stories

"Cara menyupir saya dalam perjalanan singkat ini," seloroh James May sebelum berangkat, "akan menebus tuntas sejarah keugal-ugalan mobil van di jalan raya. Karena akan tertib sekali. Saya akan menyupir seperti orang suci."

Yang sedang diangkut oleh May di atas van-nya — mungkin Anda kenal dia sebagai presenter program otomotif Top Gear — adalah sekian kuintal bunga-bunga tiruan yang dibuat dari lilin mainan. Kawasan yang dia tuju waktu itu "piala dunia"-nya berkebun: RHS Chelsea Flower Show di London. Dia hendak adu berkebun dengan para ahlinya, tapi hanya memakai bunga jadi-jadian. Lancang memang dia mendaftar di situ.

Terlihat dia menyupir dengan waswas. Goyang sedikit, bunga lilin yang dibawa bisa rusak. "Ini seperti kalau Anda menyupir mobil sambil membawa gulai. Gulainya menjadi benda terpenting sealam semesta. Kalau ada orang yang tiba-tiba menyeberang… Apa boleh buat. Mampuslah dia."

Untungnya tidak ada yang mampus di perjalanan itu.

(more…)

Baca selengkapnya »

Selebrasi Diri

Memperingati

Sebuah non-eulogi yang terlambat sudah tiga ratus enam puluh enam hari.

Memperingati

Mekkah. Musim haji 2010.

4/4.

Yang menyulitkan dari eulogi adalah kesan resminya. Ini 'kan bukan sambutan pembukaan arisan. Jadi kata demi kata, aksara demi aksara mesti diukur dan dipikirkan masak-masak supaya seolah-olah bisa mewakilkan duka-cita dan bingung-luar-biasa Anda. Tengok, misalnya, Dylan Thomas, yang mengantarkan kepergian bapaknya dengan sajak-sajak abadi: "Sajak pada hari ulang tahunnya," "Elegi," dan tentunya "Do not go gentle into that good night." Ada dorongan, dan tekanan, untuk menyisipkan sesuatu yang seremonial, dan bisa ditunjuk di kemudian hari ketika sejenak ingin melihat ke belakang. (more…)

Baca selengkapnya »

Budaya

Praduga Tak Munafik

Serial ngelindur ed. 1/2012: Mengapa sering sekali menumpukan argumentasi pada kemungkinan/keyakinan bahwa lawan kita kurang disiplin dalam menegakkan apa yang mereka khotbahkan? Kadang ini tidak mengapa dilakukan, tapi "kadang" tentu tak sama dengan "selalu". "Biasanya" justru kurang baik. Barangkali. Boleh jadi. Mungkin. Bisa-bisa. Jangan-jangan.

Praduga Tak Munafik

Munāfiq sejatinya merujuk kepada ketidakjujuran dalam beriman Islam. Tapi jargon lah ini, kurang membumi. Munafik dalam Bahasa Indonesia lebih luas pengertiannya, yaitu ketidakjujuran secara umum; lain apa yang di mulut dengan apa yang diperbuat. Ini tidak baik, sebaiknya jangan dibiasakan. Tengok, umpamanya, kaum Farisi yang habis dihardik oleh Yesus karena keimanannya hanya di bahagian luar saja.

Saya pernah membaca satu kritikan pedas buat komedian-satiris kondang Bill Maher (konon selebritas liberal yang paling menyebalkan selain Michael Moore). Disebutkan (tidak verbatim), "Yang ngawur dari Bill ialah, apabila dia tak sepaham dengan seseorang, maka dia akan meyakini bahwa yang bersangkutan adalah munafik." Kita sama-sama akrab dengan cara berpikir seperti ini. Orang-orang yang kritis terhadap gereja Katolik Roma, misalnya, wacana yang dibawa ke meja diskusi biasanya klise: skandal putra-putra altar. (more…)

Baca selengkapnya »

AktualBudaya

Star Wars, Schmar Wars

Kembali menggerutui orang-orang yang sibuk memolisi apa yang orang-orang lain boleh dan tidak boleh baca atau tonton. Juga dari Internet, tapi kali ini biang keroknya dari kalangan bule.

Star Wars, Schmar Wars

Pelik memang menjadi bagian dari massa middlebrow—kelas menengah dari tatanan kebudayaan kita. Memang menggoda untuk menengok ke bawah dan menjulurkan lidah, tetapi sering cemas akan ada juluran lidah balasan dari orang-orang di "atas". Barangkali inilah perasaan penjahat-penjahat tingkat bawah pada sinetron-sinetron di televisi: ingin ikut serta dalam tindas-menindas, namun sewaktu-waktu bos besar (yang lebih bengis) bisa datang dan meruntuhkan ego mereka. Perumpamaan ini tentu familiar, sebab pertama kali ini saya bincangkan, perkaranya adalah sinetron. Sekarang, ini kembali mengganggu pikiran.

Jadi begini. Waktu membunuh waktu di Internet kemarin saya perhatikan ada yang mengolok-olok pembaca serial remaja (wanita?) Twilight, dan menganjurkan supaya yang bersangkutan membaca "sastra sebenarnya" sembari mempertunjukkan The Lord of the Rings-nya J.R.R. Tolkien. Ini hanya berupa guyonan dan tidak betul-betul terjadi, tapi ramai-ramai kemudian diamini oleh para hadirin. Saya duga ada kebanggaan tersendiri di situ. Merasa seperti pemerhatilah mereka, menggeleng secara berjamaah menyayangkan selera awam yang kurang terasah sembari memuja-muji legendarium Tolkien: naga-naga, penyihir-penyihir, dan suku kerdil berbulu kaki lebat. Kegiatan demikian rasa-rasanya memang menyenangkan.

Celakanya, datang pula orang iseng yang balik mengerdilkan. Ini apa ini. Ini bukan sastra ini! Jadi, jangan Lord of the Rings yang dibaca, tapi Lord of the Flies. Tentu saja ribut jadinya. Orang-orang yang baru dilukai ini tidak terima dan mulai membela karya yang barusan dihujat tersebut. Argumentasi yang disediakan: ini karya yang mendetail sekali dan dibikin dengan kehati-hatian. Atau, kelas-mengelas karya seni itu cuma konstruksi sosial saja yang keblinger dan perlu disambit keluar dari wacana-wacana kita. Atau, berpura-pura jadi lebih berselera lagi untuk menyatir, misalnya, dasar hipster! Lord of the Flies itu udah gak jaman! Pergi sana baca F. Scott Fitzgerald dan Immanuel Kant! (Hah? Immanuel Kant?) (more…)

Baca selengkapnya »

BudayaSelebrasi Diri

(Junk) Food for Thought

Ada kebijaksanaan dan ada "kebijaksanaan"—yang terakhir ini cetek dan langsung layu ketika substansinya kita periksa secara serius. Bahasa Inggrisnya, platitude. Bahasa Indonesianya entahlah. Ini filosofi-filosofi ecek-ecek yang katanya bisa kita dapatkan melalui program-program motivasi atau bahkan dari mulut blogger-blogger besar kepala yang merasa sudah bestari. Barangkali berbahaya, barangkali tidak; tapi seringnya menyebalkan.

Obesitas intelektual

Katanya ini obesitas intelektual.

Jadi begini. Baru saja 1 ada lacak-balik yang mampir ke blog ini. Bunyinya: "Jadilah Diri Sendiri dan Berfikirlah Secara Positif Agar Anda Sukses Besar dan Dikagumi Orang Karena Meskipun Anda Luar Biasa Hebat Anda Itu Ternyata Orangnya Baik Hati dan Tidak Sombong Seperti Piyu Padi". Adapun judul aslinya bahkan lebih panjang dari itu, dan saya tak paham benar mengapa nama Piyu Padi dibawa-bawa—tapi isi gerutuan Mas Gentole ini memesona sekali sehingga saya batal berkomentar dan langsung sekalian menyusun esai balasan. Ada baiknya Anda singgah ke sana dulu supaya mengerti duduk persoalannya.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mencari solusi, 2 hanya untuk bahan obrolan saja. Juga sedikit acakadut susunannya, akibat berupa ide kurang matang yang langsung dibawa ke dapur. Kemauan (dan kemampuan) hanya sampai ke sana, harap maklum. (more…)

Baca selengkapnya »

Dari Redaksi

Maling, bg. 1

Maling

Jadi begini, paling tidak sejak Kamis (15/9) tempo hari blog ini sempat dimasuki maling kesiangan dan halaman depannya kemudian diubah (masih zamannya ya?). Biasalah ini. Kebetulan memang saya memakainya seenak hati saja dan tidak terlalu sering memperbarui program-program yang digunakan. Saya sendiri baru tersadar setelah… "disadarkan" melalui Facebook.

Berhubung agak sibuk, serta toh isinya masih sedikit dan telah di-backup sebelumnya, saya baru coba menumbangkan kebatilan ini hari Minggu (18/9). Repotnya kenapa, entah apa musababnya fungsi impor/ekspor bawaan WordPress tidak lancar menangani media yang diunggah—sekalipun diunggah ulang nanti struktur direktorinya malah berantakan (semua gambar di folder uploads/2011/09). Fungsi bawaan yang ada juga payah sekali dan banyak bug-nya. Anda juga kesulitan karena fungsi kaku WordPress ini? Tidak fleksibel, ya? Makanya, *intonasi iklan obat batuk* pakai Custom Upload Dir karya Mas Ulf Benjaminsson. Direktori untuk mengunggah bisa diutak-atik tanpa efek samping. Demikian.

Sekarang semuanya sudah kembali seperti sediakala. Kalau Anda ingin menengok seperti apa wajah situs ini ketika tengah diperkosa oleh maling yang disebut, (ngapain? Tapi ini negara bebas) mungkin bisa coba minta dari Sdr. Mas Sus, yang kemarin berbahagia sekali atas kemalangan di atas dan telah membuat "dokumentasi"-nya. (more…)

Baca selengkapnya »

Pencarian

Tentang

Pak Guru (bukan profesi sebenarnya): Menulis, mengeluh, dan terus menggerutu sampai maut menjemput paling lambat seratus tahun lagi. Selengkapnya »

< Facebook Twitter Google+ Plurk <

Arsip

Arsip di bawah hanya berlaku pada Banalitas.org saja. Untuk arsip blog lama dan tulisan lainnya yang tidak termuat di sini, silakan cek halaman dokumentasi.

Kategori & Tag

(Hanya untuk tag yang terdaftar pada >1 tulisan)