Pencarian

Tentang

Pak Guru (bukan profesi sebenarnya): Menulis, mengeluh, dan terus menggerutu sampai maut menjemput paling lambat seratus tahun lagi.

Selengkapnya »

< Facebook Twitter Google+ Plurk <

Arsip

Arsip di bawah hanya berlaku pada Banalitas.org saja. Untuk arsip blog lama dan tulisan lainnya yang tidak termuat di sini, silakan cek halaman dokumentasi.

BudayaKomunitas

Satir, Masihkah Ada Manfaatnya?

Usil di Internet

Pada tahun 2001, sebuah media ternama menerbitkan "laporan" yang berjudul: "Gay-Pride Parade Sets Mainstream Acceptance Of Gays Back 50 Years". Menurut "berita" tersebut, warga Los Angeles yang rata-rata sudah berpikiran terbuka dalam menyikapi permasalahan LGBT tiba-tiba menjadi antipati terhadap kaum gay sebab pawainya vulgar sekali dan seolah-olah mengkonfirmasi banyak stereotipe-stereotipe jelek. "Saya kira mereka manusia biasa yang kebetulan seleranya berbeda," keluh salah seorang penonton. "Rupanya, owalah…"

* * *

Sengaja saya letakkan kata "laporan" dan "berita" di dalam tanda kutip sebab media ternama yang saya maksud adalah The Onion, media yang berspesialis di bidang satir. Jadi kisah yang dikutip itu bohong-bohongan saja, satir; suatu candaan yang setelah bikin Anda ketawa, dia mengajak supaya berpikir. Definisi asli "satir" sendiri agak lebih rumit, tapi toh kasarnya pasti kita sudah kenali dari bertahun-tahun melayari Internet. (more…)

Baca selengkapnya »

AktualBahasaBudayaHiburan

4 Cara yang Salah untuk Berpura-Pura Punya Wawasan Luas

Vicky Prasetyo

Saya sama sekali tidak berniat mencela Bung Vicky Prasetyo. Yang dia upayakan toh manusiawi dan dipraktikkan oleh kita semua: pura-pura lebih berwawasan, lebih serba tahu, dan lebih waskita dari tingkat yang sebenarnya. Tidak salah itu kalau menurut saya, justru ia bagian alami dari proses belajar. Kalau seandainya segenap umat manusia puasa sama sekali dari sok tahu-menahu, tak bakal ada lagi diskusi dan musyawarah. Sebab semua jadi sungkan—seperti sepantasnya.

Lantas kalau niatnya sudah biasa, dan hasilnya (gagal) juga sudah biasa, mengapa Bung Vicky ini jadi ramai ditertawakan? Jika kita asumsikan kalau Bung Vicky bukan seorang troll, maka saya kira ini akibat dari salah-perhitungan yang memang langka: keliru memahami standar khalayak ramai. Kurang mawas diri! Dia masih kabur, takaran seperti apa yang akan dianggap "konyol" oleh orang banyak, sehingga kesulitan mereka-reka dosis omong-kosong yang mesti dimuntahkan. Jadi, ini masalah tidak mengenal audiens yang hendak dikibuli. Delusi, atau waham. Mana bisa seperti itu.

Kegagalan jenis demikian seringkali membuat paranoid. Bisa bikin membatin, jangan-jangan celotehan kita selama ini juga oleh kawan-kawan dijadikan bahan tertawaan. Nasib baik saja kesoktahuan itu disiarkan di media sosial dan bukan Cek & Ricek! Nah, usaha saling mengidentifikasi "cara-cara salah untuk ber-sok tahu" ini, saya pikir, adalah usaha kita semua secara kolektif dan terus-menerus. Berikut empat sumbangsih saya: empat teknik pura-pura berwawasan yang sering ditemui, tapi menggelikan. Umum, tapi sering korsleting. Demikian semoga Anda jauhi. (more…)

Baca selengkapnya »

Musik

Mengumpulkan Lagu-Lagu Buangan Manic Street Preachers

Panduan/setengah-panduan jitu mengumpulkan dan mengkategorisasi lagu-lagu Manic Street Preachers yang tak dimuat di album-album utama mereka. Disertai pembenaran singkat mengapa saya terperangkap menjadi pendengar setia.

Mengumpulkan Lagu-Lagu Buangan Manic Street Preachers

I. Ta'aruf

Mari mulai dengan menganggapi serius pertanyaan basa-basi di bawah ini:

"Musisi merk apa yang paling Bung gemari?"

Bagi sebagian kerabat, pertanyaan usil di atas bisa dijawab dengan sederhana saja. Ada yang lantas mantap menyebutkan Radiohead. Atau kadang U2. Atau barangkali Muse. Ada pula Slank, Megadeth, The Who—pokoknya tidak perlu mikir, seakan-akan yang ditanyakan itu nomor paspor atau golongan darah.

Sebagian kawan yang lain seleranya lebih sulit dipetakan, jadi kemudian kompensasi dengan menyusun daftar tiga besar. Beberapa kali justru tiga masih kekecilan, jadi dibuatkan lima besar. Jika sudah lebih gendut dari lima saya kira sang penanya akan keburu bosan; gak ada yang peduli!

Saya (awalnya termasuk golongan yang memakai daftar) belakangan sudah bisa menjawab dengan kesederhanaan yang berharga itu: saya akan terpaksa jawab "Manic Street Preachers".

Apakah Manics adalah band yang paling haibat sejagat sejujurnya ya bukan. Ini keputusan yang aneh memang. Hanya saja, kebetulan baru mereka lah yang saya ikuti secara kaffah dan tidak tebang pilih. Dalam mendengar Bob Dylan, misalnya, saya mengabaikan sama sekali era setelah album John Wesley Harding. Saya hanya akrab dengan Pink Floyd di antara Atom Heart Mother sampai Animals. My Bloody Valentine malah hanya Loveless yang saya gubris. Brian Eno atau Mogwai saya tahunya cuma sedikit. Baru Manics yang saya "ikuti" seperti bagaimana saya pahami seorang penggemar "mengikuti" band yang dia suka. (more…)

Baca selengkapnya »

AktualKomunitas

Dibingungkan Kontes Monorel Jakarta

UPDATE 1 14/07/13: Rangkuman perkembangan →

UPDATE 2 14/07/13: Hasil sayembara →

Dibingungkan Kontes Monorel Jakarta

Kontes penamaan monorel Jakarta adalah perseliweran banyak hal-hal yang saya tidak paham benar bagaimana persisnya. Ini melibatkan infrastruktur Jakarta, lembaga negara yang agak gagap budaya pop, komunitas hobiis, dan politika-politiki Internet yang maha mengherankan. Kalau Anda kebetulan mengerti, mungkin sudi meluruskan?

1. Analisis naif

Rekap awalnya, melalui kacamata awam saya, seperti ini:

  1. Di Jakarta akan ada monorel.
  2. Sebagai upaya promosi, pada situs JakartaMonorail.com diadakan sayembara penamaan layanan monorel ini.
  3. Salah satu entri yang populer pada sayembara ini yaitu Nusantara Trans Rapid (NTR). (Sebelumnya "Nusantara Trans Railways".)
  4. Belakangan, di Facebook saya, sebagian kenalan terlihat ikut membagikan laman promosi untuk "NTR" ini.
  5. Kenalan-kenalan yang saya sebut kecenderungannya adalah penggemar anime/manga/budaya populer Jepang. Laman promosi yang dimaksudkan juga haluannya serupa.
  6. Dalam konteks anime, "NTR" mengacu pada "netorare", genre cerita yang lumrahnya porno (walau tidak harus). [TV Tropes] [Wikipedia] [Wiktionary] [Urban Dictionary] [Visual Novel DB]

    [Update: Definisi "netorare" di kalangan otaku lokal ternyata, meski masih genit, tidak seganas pengertian umum. Baca senarai "informasi baru" pada update untuk lebih lanjut.]

  7. Konotasi biru ini disadari penuh oleh setidaknya sebagian dari pendukung entri "NTR". Sampelnya sebagai berikut: [Sampel Facebook/Twitter]
  8. Terakhir kali saya cek pada sore hari 12/7/13, entri "NTR" berhasil meraih suara sementara terbanyak.
  9. Waduh.

(more…)

Baca selengkapnya »

Budaya

Romantisisme Berpikir Mandiri

Romantisisme Berpikir Mandiri

Retorika "berpikirlah mandiri" pada awal kemunculannya saya kira kuat dan relevan. Barangkali dia berkembang di lingkungan-lingkungan dengan tradisi yang kaku, di mana ada perbedaan pendapat antara pandangan awam dan pandangan cendikiawan. Retorika seperti ini berupa ajakan; ajakan supaya orang yang tengah digurui lebih rajin dan kritis lagi, supaya orang itu mau memeriksa kasusnya lebih dalam lagi. Supaya tidak sekadar bertaklid pada guru-gurunya, sekolahnya, pemerintahnya, orang tuanya, atau siapa-siapa saja yang bisa mempengaruhi arah dia berpikir.

Cara berdebat semacam ini paling enak dipakai sewaktu kita ada di posisi minoritas, atau terlalu nyeleneh sehingga opini yang kita kemukakan tampak sulit untuk bisa dikampanyekan tanpa berujung ribut-ribut. Ini gaya berpikir yang romantis lah, sebab meletakkan diri sendiri sebagai pejuang, sebagai pemikir independen yang walau kewalahan menghadapi rombongan orang dungu, tetap bisa gagah berdiri.

Ya tapi apa iya kita ingin orang berpikir mandiri? Atau ini malah berhala saja? Menyuruh orang bertaklid, walau tidak sampai buta, itu tidak politically correct sebetulnya. Susah untuk mengatakan "Berpikir jangan terlalu mandiri" tanpa kedengaran agak totaliter. Dalam bahasa Inggris perintahnya lebih keras: "think for yourself." Ini kalau dilarang kesannya kita jahat. (more…)

Baca selengkapnya »

Komunitas

In Defence of Facebook Interactions

Deactivating your account, as they say, can either be a measured decision for personal privacy, a digital equivalent of running away from home, or somewhere in between.

Sheeple

There is no shortage of compelling reasons in favour of abandoning Facebook for good. There are good reasons, too, in believing that it will be abandoned for good. And from there it must follow that its decline in nigh and need not be met with much regret. These are all very well, but the most fashionable forms in the arts of Facebook-slamming tend to manifest in fewer truisms and more annoying drivel.

The sheer volume of Facebook-inspired, self-styled world-weariness is so overwhelming that this is now a familiar mental image, regardless of whether or not you've actually seen it in person: The young user shrugs, shakes his head in an overwrought way, and animatedly laments the pit of waste that is his Facebook newsfeed. In his protestations, the word "friends" is said with intense rollings of his eyes. The banality of everyday life, it would seem, offends his sensibilities.

As for my own experience, I probably wouldn't go so far as to say it's positively good; but it has been largely agreeable. And so, time and again, when confronted with a complaint with one too many instance of unnecessary dramatics, I see it as a personal affront. After all, if somebody nibbles on a chicken finger from the same plate I ate one from and then vomits or makes a sour face, it signals that something is wrong with my palate. (more…)

Baca selengkapnya »