
Retorika "berpikirlah mandiri" pada awal kemunculannya saya kira kuat dan relevan. Barangkali dia berkembang di lingkungan-lingkungan dengan tradisi yang kaku, di mana ada perbedaan pendapat antara pandangan awam dan pandangan cendikiawan. Retorika seperti ini berupa ajakan; ajakan supaya orang yang tengah digurui lebih rajin dan kritis lagi, supaya orang itu mau memeriksa kasusnya lebih dalam lagi. Supaya tidak sekadar bertaklid pada guru-gurunya, sekolahnya, pemerintahnya, orang tuanya, atau siapa-siapa saja yang bisa mempengaruhi arah dia berpikir.
Cara berdebat semacam ini paling enak dipakai sewaktu kita ada di posisi minoritas, atau terlalu nyeleneh sehingga opini yang kita kemukakan tampak sulit untuk bisa dikampanyekan tanpa berujung ribut-ribut. Ini gaya berpikir yang romantis lah, sebab meletakkan diri sendiri sebagai pejuang, sebagai pemikir independen yang walau kewalahan menghadapi rombongan orang dungu, tetap bisa gagah berdiri.
Ya tapi apa iya kita ingin orang berpikir mandiri? Atau ini malah berhala saja? Menyuruh orang bertaklid, walau tidak sampai buta, itu tidak politically correct sebetulnya. Susah untuk mengatakan "Berpikir jangan terlalu mandiri" tanpa kedengaran agak totaliter. Dalam bahasa Inggris perintahnya lebih keras: "think for yourself." Ini kalau dilarang kesannya kita jahat. (more…)

There is no shortage of compelling reasons in favour of abandoning Facebook for good. There are good reasons, too, in believing that it will be abandoned for good. And from there it must follow that its decline in nigh and need not be met with much regret. These are all very well, but the most fashionable forms in the arts of Facebook-slamming tend to manifest in fewer truisms and more annoying drivel.
The sheer volume of Facebook-inspired, self-styled world-weariness is so overwhelming that this is now a familiar mental image, regardless of whether or not you've actually seen it in person: The young user shrugs, shakes his head in an overwrought way, and animatedly laments the pit of waste that is his Facebook newsfeed. In his protestations, the word "friends" is said with intense rollings of his eyes. The banality of everyday life, it would seem, offends his sensibilities.
As for my own experience, I probably wouldn't go so far as to say it's positively good; but it has been largely agreeable. And so, time and again, when confronted with a complaint with one too many instance of unnecessary dramatics, I see it as a personal affront. After all, if somebody nibbles on a chicken finger from the same plate I ate one from and then vomits or makes a sour face, it signals that something is wrong with my palate. (more…)

Adapun kata "kosmopolitan", jauh sebelum identik dengan majalah wanita yang genit itu, pertama kali digunakan oleh Diogenes dari Sinope. Diwartakan bahwa Diogenes, ketika ditanyai dia penduduk kota mana, menjawab bahwa dia "penduduk alam semesta", seorang "kosmopolit". Cosmos sebagaimana kita tahu bermakna "alam semesta", sedangkan polis berarti "kota". Orang di sekitar Diogenes waktu itu amat kental semangat kesukuannya, sehingga pernyataan Diogenes terdengar asing sekali.
Apabila merujuk ke pengertian akademis, maka "kosmopolitan" maknanya akan lebih ruwet lagi, sebab melibatkan konsep-konsep seperti keseragaman moralitas dan kebudayaan. Tetapi kegunaan sehari-harinya tentu tidak sesemrawut itu, dan lebih kurang mirip dengan eklektisisme. Maksudnya, paradigma di mana seseorang tidak merasa terkungkung di dalam satu kebudayaan. Orang ini merasa bebas mengamalkan dan memanfaatkan budaya dari mana-mana saja, tidak hanya dari tempat kelahiran atau tempat tinggalnya. Realisasi gagasan seperti ini bisa dalam, bisa pula dangkal. (Paling dangkalnya ya sekadar suka masakan Korea dan masakan Padang sekaligus, lalu merasa sudah jadi masyarakat madani.) (more…)

Kawan saya Pak Mario baru-baru ini dibikin tertegun, sebab menyadari bahwa selama ini dia memesan bawang goreng dengan cara yang keliru. "Saya biasanya ngomong 'fried onion'," katanya mengaku sambil terisak dan tertunduk lesu (mungkin). Padahal terjemahannya yang benar adalah "fried shallots". "Onion" artinya bawang bombai. Bawang merah, yang biasanya dijadikan bahan bawang goreng, nama kerennya yaitu "shallot".
Saya sendiri mengerti soal ini belum lama memang. Persoalan yang serupa adalah "spinach", yang sebetulnya tidak sama dengan "bayam". Jadi, Popeye si Pelaut tidak pernah makan bayam. Menurut Wikipedia, yang dia makan supaya menjadi digdaya itu adalah "horenso", kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia. "Bayam" yang sering saya makan dengan teri dan kacang itu oleh orang Inggris dinamai "amaranth".
Menerjemahkan jenis-jenis tanaman dan hewan saya rasa wajar kalau sering terpeleset. Karena kekayaan jenis makhluk hidup, seringkali orang menerjemahkan sesuatu yang sekadar mirip sebagai sesuatu yang sama; entahlah secara sadar atau melalui kesilapan. Perbedaan dialek saja kadang menimbulkan kesalahpahaman, apalagi perbedaan bahasa.
Ini ya spekulasi amatir saya saja, tapi seharusnya sih betul. Kenapa lagi coba? (more…)
Prodigal website.
Marilah mulai dengan mengingat tragedi September Berdarah-nya Bang Amed, blogger merangkap pak guru (betulan) yang tahun lalu secara tak sengaja menghapus semua tulisan di blog beliau.
Jadi disebutkan di situ, setelah tertiup angin misterius, entah kenapa beliau iseng melemparkan semua tulisan yang sudah dipublikasikan ke kotak sampah virtual. Ternyata ini keliru yang sungguh keliru sekali, sebab, berbeda dengan WordPress, platform Blogspot tidak ada pakai kotak sampah virtual—adanya pembakar sampah virtual. Apabila Anda menghapus satu tulisan di sana, maka hangus lah dan tidak bisa diselamatkan lagi.
Nah, tragedi yang agak-agak mirip juga menjatuhi blog ini lebih kurang empat bulan lalu. Saya, karena sok sibuk, alpa membayar setoran tahunan. Jatuh tempo lah dan blognya tewas… wasss.
Saya masih belum bisa memutuskan kasus mana yang lebih sembrono.
Pikir-pikir barangkali kasus ini, sebab kesurupannya berbulan-bulan dan tidak bisa beralasan kesambet. Tapi yang terjadi ada baiknya kita ikhlaskan saja. Walau memang perlu disayangkan, bagaimana dunia jadi kesulitan mengakses mutiara-mutiara kebijaksanaan yang saya tuliskan di sini. ;)
Detailnya tak akan saya sebutkan di sini sebab (1) tidak penting, (2) memalukan, dan (3) saya ragu ada yang peduli, namun yang jelas kerusakannya yang utama adalah hilangnya komentar. Tulisan-tulisan semuanya berhasil saya selamatkan, tapi komentar tidak. Adapun empat tulisan terakhir (sebelum tulisan ini) ludes semua komentarnya dan sekarang jadi sunyi senyap.
Itu mau diapakan juga saya belum tahu pasti. Paling ya direlakan saja, sebagaimana Bang Amed merelakan yang hilang dari estudiƩ.
Gambar: Murillo, Return of the Prodigal Son (1667-1670)

Dulu di telinga saya "makruh" seringkali terdengar menakutkan; tragis. Terjemahannya yang agak pas barangkali "discouraged", di mana melakukannya tidak lantas dosa, tapi kalau dihindari mendapat berkah.
Walau posisi hukumnya tidak sekeras pengharaman, apabila keduanya dibandingkan pemakruhkan sesuatu justru terasa lebih menyedihkan, sebab sayup-sayup ada pengakuan bahwa yang dimakruhkan tidaklah sepenuhnya batil. Analogi asal-jadinya mungkin seperti ini: pada krisis zombi, "haram" adalah zombi yang tiba-tiba muncul dari balik pintu WC dan kemudian harus Anda tembak, sementara "makruh" adalah rekan Anda yang kena gigit oleh zombi pertama (dan kemudian harus Anda tembak). "Haram" adalah Abu Lahab; "makruh", Abu Talib.
Menangisi makruh tentunya akan pilih-pilih. Kita rasanya tak punya keterikatan dengan makan sambil berdiri atau kain sutera untuk pria, jadi itu tidak perlu Anda tangiskan. Tapi tentu beda perkaranya dengan, umpamanya, seni musik atau tembakau. Ini bisa jadi bikin masygul—amannya memang berhenti, tapi toh tidak dosa! Celakanya setelah diteruskan, tiap sedotan rokok dan tiap gesekan biola kemudian ada rasa pahitnya. Kita paham bahwa beriman seringkali dijalankan dengan lebih berpusat pada menghindari yang jelek ketimbang mengejar yang bermanfaat, sehingga apa-apa yang makruh akan selalu terasa mengganjal. Pendeknya begini, makruh yang pada hakikatnya tidak berdosa, ujung-ujungnya akan tetap bikin merasa berdosa. Ada rasa kasihan terhadap si perkara makruh, yang selamanya cemar. Yang makruh jadi tidak bisa dipakai dakwah, dan barangkali tidak bakal tersedia di Firdaus sana. (more…)