Pencarian

Tentang

Pak Guru (bukan profesi sebenarnya): Menulis, mengeluh, dan terus menggerutu sampai maut menjemput paling lambat seratus tahun lagi.

Selengkapnya »

< Facebook Twitter Google+ Plurk <

Detail tulisan

Penulis:
Terbit: 18/01/11 @ 00:37
Tautan pendek: Tautan
Tanggapan: 53 tanggapan
Kategori: Dari Redaksi, Komunitas
Tag: , , , , ,
Metadata lain: Thumbnail
Print: Print
Sebarluaskan:

Pariwara

Kalau Anda nekat, kebetulan banyak ruang kosong mubazir di sini yang bisa disewakan. Silakan hubungi pengelola untuk bernegosiasi.

Dari RedaksiKomunitas

Blog dan Hal-Hal yang Tak Perlu

Atau, Mengeblog dan Hal-Hal yang Tidak Mesti Anda Selesaikan. Atau, Sebuah Pembukaan—mati surinya blogosfir, fenomena ekor panjang, serta proyek tak jelas yang makan waktu hampir tiga tahun untuk dirampungkan.

Blog dan Hal-Hal yang Tak Perlu

Dahulu sewaktu saya memulai blog yang lama kata-kata pembukanya lebih kurang seperti ini: membuka blog tidak perlu selebrasi, sebab blog itu bukannya sedikit dan membikinnya bukannya perlu berpeluh. Mukadimah seperti ini mestinya masih tepat, sebab mengeblog sekarang tidak hanya sekadar gampang, praktiknya sendiri passé! Jadi sudah gampang, basi pula. Tidak perlulah Anda bersulang untuk itu.

Banyak juru-juru blog Indonesia yang dulunya sangat bersemangat menghujat Roy Suryo pun (sebab kita tahu sang pakar mencemooh praktik ini) sekarang sudah hijrah ke Twitter, dan entri terakhir di blog boleh jadi setahun atau dua tahun yang lalu. Ini jelas ironis, tapi ada pembelaannya: nge-tweet itu juga mengeblog, hanya saja secara mikro. Ada benarnya, ada juga salahnya. (Pertama, jargon "mengeblog mikro" itu 'kan separuh marketing; kedua, Twitter ini pastinya juga bakal sama basinya dengan Friendster. Kita sekadar menunda saja itu nubuat Roy Suryo.)

Tapi kita ada baiknya tidak membahas ini. Yang saya maksudkan tentu blog yang "sejati" dan bukan versi ecek-ecek macam Twitter. Jangan ambil kuda-kuda dulu, saya pun menggunakan Twitter walau tidak sering. Paham betul saya daya tariknya, dan mengerti pula saya manfaat-manfaat uniknya yang tidak bisa disediakan blog versi makro/gendut. Hanya saja keduanya tidak bisa mensubstitusikan yang satunya. Dan yang satu memang sudah bolehlah dikatakan mampus.

Kawan saya sora9n bela-belain membikin riset singkat tentang mati surinya blogosfir. Kesimpulannya di situ, mengeblog itu sudah kadaluwarsa eranya sebagai "mainan", dan pangsa pasarnya akan menyisakan beberapa pengguna saja yang betul-betul bisa memanfaatkan teknologi ini sebagai medium. Di satu sisi pastinya patut disyukuri, sebab walau kuantitasnya menurun, apa-apa yang tersisa standarnya akan lebih tinggi. Bagus juga untuk menyegarkan imej mengeblog, karena selama ini citra seorang blogger sebetulnya tidak terlalu keren. Ia setali dua uang dengan pengguna YouTube yang distereotipekan sebagai pemuda yang banyak mulut tapi bacritannya kurang mutu dan seringkali terlampau bersemangat, berisik. Kadang blogosfir mengingatkan kita pada Pangeran Leopold di The Illusionist (2006) yang sekitar akhir cerita mengomel tentang demokrasi ("There's a thousand different voices screaming to be heard, and nothing will be done!"), walau tentu kutipan ini tidak pada konteks.

Lantas kenapa masih menulis? Ya sederhana saja: karena ingin. Toh ingin tidak mesti rasional. Ngapain lagi orang naik gunung di Himalaya? (Ups, maaf, lagi-lagi cari musuh. :) ) Sudah lama sekali memang hendak membuka blog ini, kemudian terus menundanya sampai, tidak main-main, nyaris tiga tahun sudah. Penyebabnya apa lagi kalau bukan malas dan sok sibuk. Apa salahnya, toh ongkosnya tidak dengan mencuri; rugi, rugi sendiri. Apalagi telat itu konon budaya Indonesia, hitung-hitung melestarikan.

Gambar: Speaker's Corner, Hyde Park. Via markandrew.

«
»

53 tanggapan untuk "Blog dan Hal-Hal yang Tak Perlu"

  • Ah, pertama-tama, selamat atas dibukanya blog ini deh…

  • @ Amd

    Bersulang!

  • Yah, gagal pertamax.

  • @ Nenda F

    Pertamax blog 'kan udah!

  • Wogh! Ada blog lain lagi lahir paska blog-blog adsense-mania + togel + bokep + digital-aktivisme-dengan-karakter-sebengek-nafas + selebriti-social-media lahir!

    Kongretulesyen! Semoga baqa, tidak sefana isu-isu trending topics yang silih-berganti macam tisu toilet.

    PS: Bahasa postingan ini macam sudah 60 tahun usia, bahasa Indonesia saat negara baru mbrojol dan bangsanya baru bisa bilang "aku".

    Sekali lagi: Selamat sajalah… Kalo 2012 kiamat, adalah apa awak kenangkan *halah*

  • @ Alex©

    Iya. Blog-blog modal SEO itu nyusahin, ya. Halamannya lebih berat <head>-nya ketimbang <body>?

    BTW, heh, ini blog berbayar! Musti langgeng kalau tak mau rugi.

    PS: Bahasa postingan ini macam sudah 60 tahun usia, bahasa Indonesia saat negara baru mbrojol dan bangsanya baru bisa bilang “aku”.

    Dua hari yang lalu raon-raon sampai pagi sekitar label.blogombal.org. Barangkali itu yang patut dipersalahkan.

  • Nah, tidak di blog, tidak di twitter, galau jugalah ujungujungnya

  • @ Geddoe

    Ho-oh. Berat kali pun loading-nya. Isi kadang2 seupil, iklan bertabur macam kurap. Lebih naas lagi kalo tersesatkan permainan, awak cari bahan bacaan, sesat ke blog penipu yang bermain keyword cuma utk disuruh klik lagi demi recehan rezeki si empunya blog lalu digiring ke laman lain cuma untuk mendapatkan gambar betina ber-BH dgn tulisan "View my webcam. I'm so horny". Oh yess.

    Jangan2 Si Pujangga Batavia Post kemarin kandas pulsa internetnya karena tersesat blog-blog penipu itu…

  • Itu nama awak tolong direparasi sikit… Gak muncul pulak tanda © itu… #kode

  • tweet this ?

    *klik yes*

    *eh*

  • Salam kenal …

    "Lantas kenapa masih menulis? Ya sederhana saja: karena ingin"
    saya setuju dengan kalimat di atas :)

    Jadi … Kenapa tetap mau ngeblog? jawabnya karena ingin.

  • ngeblog dulu buat saya semacam katarsis dan "crusade" terselubung, meskipun thinly veiled. tapi ada sedikit. sekarang sih udah apa aja, bena-benar hal-hal yang tidak perlu. ngebacrit asal-asalan. :)

  • Potong tumpeng! :mrgr——eh, jalan gak nih, smiley-nya?

    Eiya, biarpun sudah terlihat bergengsi dan terkesan (sok) mapan dengan hostingan berbayar, jangan lupa untuk tetap waspada dengan masa hidup, alias jangan sampai blog ini isdet pula dicekik masa expire, macam lapak tintamerah yang sekarang sudah ke alam baka itu. :))

    PS:
    font-nya ganti lah, dengan Georgia atau Goudy Out Style, atau apalah yang terlihat lebih smooth. Ini font sudah kecil menyiksa mata pula. *protesbloggerpinggiran*

  • @ lintang

    Lho kok galau? :))

    @ alex©

    Betul. Lebih bodoh lagi iklan-iklan aplikasi ponsel yang bisa tembus. :))
    Kode sudah diperbaiki.

    Soal Sang Pujangga coba tanyakan langsung pada Beliau.

    @ irdix

    Akun Masbro yang mana?

    @ nia

    Salam, Mbak! Memang kalau sekadar ingin dan tak merugikan, tak ada salahnya toh?

    @ gentole

    Kalau begitu. Mungkin saatnya ngetweet? :D Eh tapi Masbro gak bisa bersajak di Twitter, paling banter haiku, itu pun tak berbaris.

    @ Pak Presiden

    Ohsiap. Setelah (sok) mapan tentunya ada tanggung jawab tersendiri pula. Smiley tak saya nyalakan BTW.

    PS:
    Tidak.

  • saya baru tau…
    lha, ndak jadi baksosuper? :lol:

  • @ setanmipaselatan

    Baksosuper sudah mendapat pemilik yang layak. :D

  • Oh, ya ampun… pas pertama lihat pingnya, saya kira yang nulis aktivis sebangsa mas alex. :))

    jangan tanya kenapa nama blog ini terasosiasi dengan beliau

    BTW, komen yang nyambung topik;

    (Pertama, jargon “mengeblog mikro” itu ‘kan separuh marketing; kedua, Twitter ini pastinya juga bakal sama basinya dengan Friendster. Kita sekadar menunda saja itu nubuat Roy Suryo.)

    This. Also, Facebook.

    Saya punya perasaan aneh bahwa socmed itu berpotensi jadi bubble. But that may be just me… :-/

  • @ sora9n

    Saya memang aktivis.

    BTW kenapa nama blog ini terasosiasi dengan beliau?

    This. Also, Facebook.

    Saya punya perasaan aneh bahwa socmed itu berpotensi jadi bubble. But that may be just me… :->

    Kita tidak sendiri toh? Tinggal tunggu tanggal mainnya saja. :D Bisa sebentar, bisa lama. Tapi kalau Fesbuk saya bingung long tail-nya nanti mencakup siapa — kalau blog 'kan bisa jadi jurnal online, dan Twitter jadi untuk komunikasi satu arah media massa. Fesbuk jadi apaan? Jadi kerajaan Zynga? Untuk Farmville/Mafia Wars?

    (BTW, sudah diedit.)

  • judul postingan ini kayaknya dari buku GM. dan temanya hitam-putih. pas. :)

  • saya baru tau kalo kamu biasa dipanggil "mas karno" juga…

  • @ Pak Guru

    Fesbuk itu barangkali niche-nya buat lingkar silaturahmi sih (IMHO). Misal: orang tua yang anaknya kuliah beda kota/di luar negeri, kontak teman SMA atau kuliah, dsb. Tapi ya cuma segitu.

    Kalau buat mengumumkan sesuatu secara global ya agak kurang cocok lah. Wong mayoritas konten privasinya terbatas? :P

    (BTW, terima kasih)

  • @ gentole

    Iya, sok pretensiuslah. Kalau bukan, tak jelas maksudnya toh? :))

    @ setanmipaselatan

    Mas Karno?

    @ sora9n

    Lah sekarang bukannya memang seperti itu penggunaannya? :

  • Numpang ngiklan juragan. :lol:

  • @ Pak Guru

    Ya, maksudnya seandainya 10 tahun lagi fesbuk jadi long tail, maka niche-nya kira-kira di situ. :P Tapi ini amatan pribadi aja sih.

    E tapi melihat sejarah MySpace & FS, saya kok ragu fesbuk bakal masih ada tahun 2021. :)) boleh jadi kelak kena bubble atau digusur perusahaan lain

    *IMHO though*

  • @ Pak Presiden Tanpa Negara

    Engkau mengajarkan nilai-nilai agama meski kadang-kadang dicap sesat di blogmu, engkau dakwahkan kesantunan beretik, tapi engkau sebut-sebut apa-apa yang sudah wafat. Tidakkah engkau tahu bahwa tidak elok -dalam ajaran agama- mengungkit apa-apa yang sudah almarhum? Tercela! Tidak kurang dari seabad digangbang di neraka ganjarannya. :(

    Sudah begitu, engkau suruh pula orang mengganti font-nya. Bapak Guru satu ini masih guru muda, kalau di Dinas Pendidikan masuk kategori guru honor dengan rapel 3 bulan gaji diterima malah 4 bulan sekali. Jangan samakan matanya yang masih awas itu dengan matamu yang sudah kena efek usia… :P

    @ sora9n

    Aktivis?? Jika itu dimaksudkan (dan membenarkan ke-ge-er-an) daku… maka: wuanjrit! Kenapa imej begitu melekat? Daku cuma hamba dhaif yang berbakti pada nusa, bangsa dan agama dengan jadi penjaga gudang. Tiada sepantas itu menyandang gelar… aktivis…? T_T

    *lipat sajadah dengan ekspresi tawadhu'*

    Jadi begini…

    Soal Fesbuk, Twitter, Friendster, dan segala jenis socmed vs blog itu cuma soal rotasi saja. Ada masa jenuh masing-masing juga. Roy Suryo yang dulu menuding blog cuma trend sesaat™ pun kini juga bermain di twitter yang diklaimnya ASLI™ dan pada dasarnya juga berpotensi trend sesaat™ juga.

    Cuma untuk soal Fesbuk, agaknya temponya masih akan lama untuk tumbang atau meletup pecah. Fesbuk, dalam beberapa hal, memiliki sisi personal sekaligus juga sisi sosial yang belum bisa dikompromikan dengan blog. Misal, orang akan lebih suka (dan nyaman) berbagi (album) foto pribadi di fesbuk daripada di blog. Dalam hal sisi sosial, Fesbuk juga menjadi media lain untuk sarana aspirasi, semisal gerakan sejuta fesbuker ini dan itu, atau melalui grup-grup yang dibentuk dengan minat yang sama. Bahkan juga menjadi media alternatif untuk buka lapak dagangan, dengan sistem yang memodernisasi pola door-to-door salesman selama ini. Di blog, hal seperti ini belum ada. Membuka blog untuk berjualan, misalnya, itu seperti membuka kios di simpang jalan untuk umum, dengan persaingan ketat di kiri-kanan. Sementara mereka yang melapak di Fesbuk, cukup dengan modal tag untuk memberitahu kolor terbaru/BH motif renda macam apa yang di-launching di toko pakaiannya.

    Jadi, masih akan lamalah agaknya Fesbuk itu.

    Adapun soal Twitter, juga sama. Masa jenuh akan tiba, tapi dengan banyaknya media-media seperti radio, koran dan televisi kini berlomba punya akun twitter, media berkicau itu masih akan bertengger lama. Pembaruan informasi dan opini langsung bisa disampaikan. Contohnya, ya seperti interaksi para user twitter dengan acara obrolan warung kopi di MetroTV yang konon provokatif dan gaul itu (meski pun sama saja macam obrolan tukang becak di warkop pelabuhan).

    Dan blog? Blog akan tetap tinggal sebagai blog. Statis. Hidup segan, isdet tak mau. Seperti milis-milis lawas, (i.e. Apa Kabar, misalnya), masih tetap aktif dan jadi sarana diskusi, karena tetap dibutuhkan satu ruang yang lebih lega, warung kopi yang lebih nyaman untuk ramai-ramai beropini. Satu melempar isu dan lain datang menggunjingkan tanpa pembatasan jumlah karakter atau pembatasan lain seperti di socmed. Selain itu, seumpama twitter-plurk-facebook itu starbucks yang elite, kafe eksklusif, tetap saja orang-orang akan merasa lebih ramai untuk datang mengghibah di tempat lain tanpa batasan asap rokok atau gula saset non-kalori yang sampah itu. Jika pun tidak bergabung, apa-apa bacritan di blog, akan menjadi kabar untuk digosipkan di kafe-kafe kecil. Begitulah kira-kira.

    Jadi?

    Jadi, bagi kalian yang masih muda-muda dan kalian-kalian yang sudah tua-tua, lanjutkan perjuangan kalian untuk nge-blog. Kalian-kalian *tunjuk cermin dan satpam Pabrik Kata* yang melewati usia pertengahan kegelapan, lanjutkan perjuangan kalian menemukan arti kehidupan ini paska tertunda mati di usia 25-lebih-sedikit-kemarin, dengan curi-curi waktu berkatarsis di blog atau twitter, atau mungkin bisa membuat blog jadi: dibilang blog tidak, twitter pun bukan. Blog iya, plurk pun iya. Contohnya ya macam… hehehe… *cengengesan lirik Gentole* ;))

    *lirik-lirik draft sendiri di dashboard, yang bertera: Sudah Basi, Cuma Untuk Makanan Ternak*

  • Astaghfirullah 1: Geddoe itu Mas Karno!

    =))

    Astaghfirullah 2: … jadi nge-blog di sini…

    *keluyuran lagi*

  • @alex

    Haha. Iya saya sebenernaya memperlakukan blog seperti Fesbuk dan Twitter juga. Malah dulu pernah sekali bikin post judulnya "Status Fesbuk". Ini emang agak aneh sih, kenapa beda jumlah huruf aja dipermasalahkan sekali. Kan bedanya twitter sama blog kan tak seperti beda sajak dan prosa.

    Kalau ada beda mungkin audiens-nya. Tapi ngoceh di depan teman kantor, apalagi paman dan sepupu, sepertinya kurang menyenangkan. Kecuali sora9n alias hakim aslias whoever he is di dunia offline. Kayaknya di dunia maya bakal selamanya jadi orang tak dikenal oleh sebagian besar pembacanya. Jadi nadanya sama saja. :)

  • Dari sora9n:

    Saya punya perasaan aneh bahwa socmed itu berpotensi jadi bubble. But that may be just me… :-/

    Well, count me in. Saya termasuk generasi awal (setidaknya di sekitar saya) yang bikin account Facebook, dan termasuk generasi awal yang delusional terhadap Facebook. :mrgreen: *halah*
    Saya kembali ngeblog bulan lalu dan memilih kadang-kadang saja buka Facebook, karena beberapa alasan sebagai berikut.

    Alasan psikis, bahwa saya berpotensi OCD. Sedikit-sedikit cemas dan buka Facebook, jadinya kerja terbengkalai.
    Orang di Facebook terlalu banyak. Dan by the law of elitism, semakin banyak orang, semakin menyebalkan dan semakin tidak logis. Orang kwalitet wahid itu cuman sedikit.
    Poin sebelumnya diikuti dengan perubahan mood tergantung status orang lain yang dibaca, misalnya apakah ngeMT, atau meng-endorse ide konformis dan klise, dll.
    Dan Facebook ga ada historinya! Gimana kita bisa mengenang-ngenang perasaan galau 1 tahun lebih yang lalu, serta komentar teman-teman yang menghina kegalauan diri, kalau ga scroll down dan klik panah terus menerus sampai jemari kelu? Saya pernah menelusuri status Facebook sampai ke yang paling awal (Nicholas … has joined Facebook) pake script, dan ianya butuh beberapa jam untuk menyelesaikannya (saya tinggal tidur, literally) dan berGB-GB memori dikonsumsinya! Pagi-pagi komputer ngelag, history ga bisa disave, dan komputer mesti direstart. :(
    Oleh karena itu, ada baiknya pembuatan tulisan, baik yang berdasar logika ataupun emosi, dipublikasi di blog sahaja. Pembacanya lebih cultured, trolls put aside, lalu mudah ditelusuri kembali, dan updatenya ga sesering Facebook. u_u

    Kok jadi terbaca seperti rage

  • Rupanya tag html ul li ga jalan ya. Ok lah kalau begitu :))

  • @ Gentole

    Lho, justru saya ngeblog anonim itu (dulu) karena ingin menyampaikan hal-hal yang tak enak disampaikan IRL. Plus karena malas kalau ditemukan orang masa lalu lewat gugel dsb. So there goes. :P

    Walaupun pada akhirnya ketahuan juga sih sama keluarga. Thanks to seorang sepupu kampret yang sampai sekarang susah saya maafkan. Grmbl grmbl. >:|

    :::::

    @ lambrtz

    Dan by the law of elitism, semakin banyak orang, semakin menyebalkan dan semakin tidak logis. Orang kwalitet wahid itu cuman sedikit.

    This. (ninja)

    Dan Facebook ga ada historinya! Gimana kita bisa mengenang-ngenang perasaan galau 1 tahun lebih yang lalu

    E kalo ndak salah ada aplikasinya deh. Kemarin pas menjelang tahun baru banyak yang pakai app tersebut — "My Status During 2010" atau apalah itu. Jadinya menampilkan status yang udah lewat di album foto (berbentuk gambar). :-?

    Oleh karena itu, ada baiknya pembuatan tulisan, baik yang berdasar logika ataupun emosi, dipublikasi di blog sahaja. Pembacanya lebih cultured, trolls put aside, lalu mudah ditelusuri kembali, dan updatenya ga sesering Facebook. u_u

    Yup, yup. :3

  • ^

    E kalo ndak salah ada aplikasinya deh. Kemarin pas menjelang tahun baru banyak yang pakai app tersebut — “My Status During 2010? atau apalah itu. Jadinya menampilkan status yang udah lewat di album foto (berbentuk gambar). :-?

    Komentar sinis orang-orang itu lho Bos. Seperti yang saya tulis,

    serta komentar teman-teman yang menghina kegalauan diri,

    Ini yang susah. :P :(

  • @ Dana

    Tapi ngiklan di sini gak manjur… :))

    @ Alex©

    Komennya lebih panjang dan berisi ketimbang postingannya…

    BTW maap lama ngertinya soal Mas Karno — gak tau itu, dulunya sekadar dilepas, tiba-tiba ada bakso betulan yang nangkring di situ. Mustinya mungkin dulu saya jual secara langsung.

    @ gentole

    Sebetulnya kira-kira lebih berbeda dari itu. Soal panjang okelah kita abaikan, tapi Twitter gak menyediakan platform yang baik untuk berdiskusi. Jadi untuk ide-ide sekelebat yang tak berharap ditanggapi memang lebih pas.

    Pendekatannya jadi berbeda, walau ini Twitter, bukan mikroblogging secara keseluruhan. Plurk, misalnya, itu sama saja dengan FB tapi hanya ada update status. Bisa bikin diskusi di situ. Ini yang dulu bikin gagap waktu icip-icip Twitter, walau saya pakai Plurk cukup banyak juga dulunya: terasa agak hambar dan ngomong sendiri.

    @ lambrtz

    OCD bisa mengganggu memang, termasuk perkara pengarsipan yang buruk itu 'kan perpanjangan dari OCD juga. Soal orang banyak sebetulnya gak terlalu masalah, soalnya blog yang nota bene bisa dibaca semua orang 'kan lebih banyak lagi audiensnya.

    Dan ya list gak bisa dipake. :P Kalau bisa pun berantakan indentasi CSSnya.

    @ sora9n

    Kok samar-samar saya ingat kisah sepupu kampret™ ini. Yang mana itu?

  • Nah, baru sempet serius nih. Rasanya Facebook itu memang masih akan lama berlakunya. Saya sendiri menggungakan facebook lebih kepada sebagai sarana belajar. Percaya atau tidak, saya banya belajar dari guru-guru perdaganan saham di Facebook. Mereka memberikan kursus gratis melalu account facebook masing masing. Jadi rasanya, jika tidak ada pengganti yang mumpuni, Facebook masih akan terus berjaya.

  • @ Pak Guru

    Yang mana itu?

    Dulu memang saya sempat cerita di plurk. Waktu mbahas anonimitas di tret @gunawanrudy kalo ndak salah. ^^;

    Ybs-nya sendiri silent reader sih. Nggak pernah meninggalkan komen, cuma kebetulan tahu bahwa saya nulis di alamat sora9n dulu.

  • *melirik komen-komen yang sahut menyahut, dari nama-nama veteran pula..*

    *merasa nostalgik*

    *menyeka pinggir mata*

    Ah, memang kharisma dan daya pikat Pak Karno Guru ini demikian dahsyat…

    Anyway, request versi mobile dong, biar ndak berat di ongkos kalo mau buka dari gedjet..

  • @ sora9n

    Efeknya gimana toh emang? :

    @ Amd

    manlytears.jpg

    Anyway, request versi mobile dong, biar ndak berat di ongkos kalo mau buka dari gedjet..

    Saya nyalakan WPTouch dulu ya. Tapi belum dites, mungkin besok. :D

  • @ Amd

    Sudah dites, jalan. :P

  • Selamat atas blog baru-nya, Difo. :)
    anw, Banalitas itu apa?

  • ha!ha!ha! *tampar-tampar geddoe*
    duh kangen nyebut geddoe ^_^

  • @ Rizma

    Makasih Mbak; Bersulang! :) Makna silakan lihat laman about.

    @ eMina

    Loh kok ditampar-tampar?

  • Ah, sudah dibuka kembali rupanya. Bersulang!

    *tuang teh poci*

  • @ Disc-Co

    Bersulang!

  • blogging for money, blog copas, blog terjemahan. saya sedang coba yg terakhir ini buat menjembatani *halah* antara blog keren macam ini dengan blog ecek-ecek. Selamat bersulang.

  • @ Berita Pilihanku

    Terima kasih. :) Bersulang juga!

  • mantapp Pak Guru.
    kalau menggunakan bahasa ngawurnya saya : blog akan tetap dan selalu menjadi satu-satunya media dimana pikiran seliar kuda lumping, dan khayalan setinggi pohon kelapa dapat tertuang dengan baik.
    Tentu saja, karena tidak adanya batasan lahir batin yang membuat seorang pemikir, pengkhayal, bahkan sadomasosis ataupun dukun cabul bisa dengan mudahnya membagikan ideologi, paradigma atau sekedar sharing fantasi liar.
    contohnya saja, si dukun cabul tidak akan bisa membagikan fantasinya hanya dalam 140kata; terkecuali dia seorang sastrawan ataupun pujangga yang dapat merangkum birahinya sejumlah karakter yang rendah kalori tersebut.
    saya sendiri merasa lebih nyaman menulis di blog; karena menulis ya menulis. susah menjelaskannya *halahh*
    Anyway, salam kenal pak Guru. saya juga baru disini. :D

  • @ Vomit Volition

    Sepakat. :P Konon Twitter itu pun toh bukan didesain untuk menuangkan pemikiran, melainkan versi hip dari news ticker. Wajarlah kalau menulis terasa lebih nyaman di blog. Salam!

  • Entah kebetulan sangat atau bagaimana, saya membaca ini stelah nonton ulang The Illusionist (2006). Yah setuju mari kita lestarikan budaya telat ngeblog .. saya malah baru belajar. RQC sudah sangat memotivasi .. semoga bisa dilanjutkan disini.
    Selamat.

  • @ draguscn

    Wah Pak Dokter komen di sini. :D

    Saya sisipkan tautan ke blog itu boleh?

  • Saya ragu mo komen di sini, isinya para blogger senior yang tulisannya mengalir dan enak dibaca. Sedangkan saya baru belajar nulis (ngetik) di blog, tulisannya masih galau-galau dan mikir berat hanya untuk berkicau. Tapi, nanggapi postingan aja deh, gamau ngganggu percakapan berbalas2an antar blogger guru. Intinya, saya setuju sama ini

    Lantas kenapa masih menulis? Ya sederhana saja: karena ingin.

  • RT atas saya.. (Virus twitter)

    Sehubungan dengan proses menuju kebal akan kritisasi ketika blog saya dihujani (padahal cuma 1 disebut-sebut hujan) kritik mengenai sucksnya tulisan karena penuh dengan kesalahan Grammar, tetapi mengacu lagi kepada:

    Lantas kenapa masih menulis? Ya sederhana saja: karena ingin.

    Ya begitulah.. xD

  • Maaf komentar dibiarkan terbengkalai. Daripada tidak sama sekali, lebih baik terlambat toh?

    @ Arman

    Pola yang saya perhatikan, blogger yang mengaku baru belajar itu justru kualitas tulisannya sangat bagus. :D

    Menulis karena ingin memang motivasi yang paling baik Mas.

    @ densscessario

    RT komen situ juga deh… :)

  • terimakasih telah bersedia membagikan pengalamannya
    sukses selalu :)

Tinggalkan komentar

Anda boleh mempergunakan HTML dengan atribut-atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote> <cite> <code> <pre> <del> <em> <i> <q> <strike> dan <strong>. Untuk menyisipkan video YouTube, bubuhkan alamat lengkap dengan huruf 'v' sebelum titik dua. (Contohnya: httpv://www.youtube.com/watch?v=oHg5SJYRHA0)