Aktual • Budaya • Televisi
Homo Sinetronosus
Banalitas sinetron, banalitas respon terhadap sinetron, serta banalitas respon terhadap respon terhadap sinetron. Ada hubungan antara sinetron, budaya populer Indonesia, dan nilai gengsi yang tersirat dalam mengonsumsi karya-karya tertentu.

Di sebelah kiri Anda adalah gambar yang diambil dari laman Facebook untuk "Gerakan Koin untuk Putri yang Ditukar". Dari apa yang diwartakan ke saya, ini (seperti gampang ditebak) adalah semacam sentilan buat sinetron yang bersangkutan, Putri yang Ditukar. Jadi sepertinya sinetron ini kwalitetnya lebih menggelikan dari judulnya.
Sebetulnya saya meraba-raba dalam gelap di sini, sebab memang belum pernah satu detikpun mencicipi serial tersebut. Maklum tidak punya televisi, dan siarannya pun di luar jangkauan. Tapi menurut apa yang dijabarkan [di sini] memang kelihatannya sukar untuk dipertahankan tajinya dari segi seni. Ya sejauh ini kejadian biasalah — sinisme ringan yang memang jadi tanda tangan generasi kita. Seperti wacana lainnya di Indonesia, sebentar juga akan berlalu. Sebab lebih daripada ramah-tamah, murah senyum, atau apapun juga, sifat utama orang Indonesia yaitu pelupa. Sehingga tak perlulah saya unjuk bicara, sebab belum mencoba barang yang dipermasalahkan.
Nah, masalahnya ini: mulai dari 10 Februari sampai tadi pagi, saya ada di goa. Terisolasi dari dunia luar. Apa boleh buat, ada laporan berkala yang mesti dikerjakan. Hanya sekali menengok ke dunia luar, yaitu ketika liga Italia bergulir (Palermo 2-4 Fiorentina!). Tidak tahu menahu saya apa yang terjadi.
Ternyata yang ada, Bung Aris angkat senjata membela sinetron dari bulian penduduk media sosial. Dari sini, ini jadi topik yang lebih menarik.
Rekapitulasi
Pertama saya mesti umumkan terlebih dahulu betapa terpukaunya saya melihat akibat yang ditimbulkan Putri yang Ditukar ini. Sungguh hairan saya dibuatnya:
- Ketika diberitahu bahwa ada program opera sabun yang ditayangkan tiga jam durasinya, bukan maraton tapi reguler, pada prime time pula, mesti diakui membuat menggaruk-garuk kepala yang sebetulnya tidak gatal. Ini 'kan berarti audiens sangat antusias sekali, haus akan sinetronnya. Masakan satu jam tidak cukup? Terlepas dari bagus atau tidak bagus.
- Menurut laporan Bung Joe di tulisannya yang anyar, resistensi yang ditawarkan oleh penggemar Putri yang Ditukar sudah terhitung passionate sekali, tidak kalah dengan perang fandom-fandom media yang sudah lebih mapan. Bingung luar biasa saya: apa memang sudah sebesar ini demografis penggemar sinetron? Lagi, terlepas dari bagus atau tidak bagus.
Kemudian di situ Bung Aris menuliskan bahwa ia menonton sinetron yang bersangkutan dan hendak membelanya dari buli blogger-blogger yang menurut hematnya sedikit keterlaluan. Ini melawan arus memang. Awalnya saya menduga, sebab Bung Aris setahu saya juga tergolong pemikir dan pembaca yang tidak sempit wawasannya (dia baca sastra-sastri Indonesia yang nama penulisnya pun tak pernah saya dengar), dia hanya menonton sinetron yang bersangkutan secara ironis saja. Istilahnya so bad, it's good, seperti film-filmnya Ed Wood. Tadinya saya pikir, ini 'kan wabah hipsterisme juga, wajarlah. Banyak anak muda yang nyentrik dan secara ironis menikmati budaya yang biasa diasosiasikan dengan kalangan pekerja: dangdut, bir murahan, kretek tradisional (jadi bukan A-Mild, B-Mild, Ini-Mild, Itu-Mild, dst.), atau apalah lagi. Ternyata tidak (sepenuhnya?) seperti itu.
Di satu sisi memang ada kecenderungan (lewat kacamata saya) buat komunitas blogosfir Indonesia untuk saling mengiyakan saja. Solidaritas seperti ini kalau kebablasan bisa sangat ngawur, tapi ini dugaan saja, sangat bisa salah. Jadi para trendsetter membuat tren, kemudian jamaatnya mengamini. Ditambah dengan sentimen bahwa media sosial itu semacam "kekuatan baru", jadilah lautan komentar yang "prihatin" tersebut.
Oh sabar. Turunkan pangkur dan garpu taman Anda. Ini dari segi sinisnya, segi lainnya tentu lebih sederhana: demografisnya sama, cara berpikirnya sama. Alami saja. :)
Elitisme/Bukan Elitisme
Sebetulnya Bung Aris (walau analogi Spongebob-nya maksa), tulisannya tetap berbobot. Cara berkomunikasi kubu anti-sinetron ini sedikit banyak mengalienasi banyak lapisan penonton yang memang menikmati acara tersebut—sebutlah homo sinetronosus. Barangkali tidak membodoh-bodohi, mereka menikmatinya juga sebagai hiburan ringan saja. Walau hipotesis ini sedikit kandas kalau membaca protes-protes di laman Facebook di atas.
Yang hendak dikemukakan oleh Bung Aris, sepemahaman saya, adalah mengeluhkan implikasi halus bahwa ada yang salah dengan penikmat sinetron-sinetron. Saya akui saya dan Bung Aris di sini sedikit meromantisasi keadaan, tapi poinnya valid: orang-orang biasa, salt of the earth, letih setelah membanting tulang, hanya ingin hiburan ringan yang beberapa lama juga lupa. Mengkampanyekan untuk "mengoreksi" selera mereka bisa terkesan intrusif dan sedikit congkak. Apa salahnya? Tentu bisa dibalas dengan sentimen "oleh karena itu, mereka pantas mendapatkan hiburan yang lebih baik," betul, akan dibahas selanjutnya.
Sudah disebutkan, bahwa tuntutan "bikin tandingannya" ialah absurd. Lebih absurd dari dinding gabus di adegan Putri yang Ditukar. Bikin sinetron tidak murah, satu episode ongkosnya bisa sembilan dijit. Di sisi lain, tuntutan "harus mendidik" juga kelewatan. Sinetron tidak perlu mendidik seperti makanan tidak harus super-sehat. Mendidik bukan tanggung jawab mereka. Jadi solusinya apa? Jalur tengahnya, tentu, hendaknya para rumah produksi mulai menyediakan acara yang kualitasnya tidak medioker. Dengan begini, kubu anti sinetron tidak perlu membuat sinetron sendiri, sebab SinemArt dan kawan-kawan sudah bisa memproduksi yang berkualitas baik.
Menariknya buat saya di sini: sejauh apa kita mau memolisi bagus/tidak bagusnya suatu karya? Saya tidak menyukai sinetron lebih daripada Anda yang ikut gerakan koin di atas, tapi tentu di atas langit masih ada langit. Kalau sinetron bisa kita asosiasikan sebagai hiburan kelas pekerja ("hiburan pembantu"), maka selera sebagian besar kita bisa dikategorikan sebagai hiburan kelas menengah. Sekiranya snob-snob berselera kelas atas — yang doyan musik klasik kontemporer, sastra Rusia, filsafat kontinental, film art house/Ekspresionisme Jerman/Fellini, dan masakan-masakan yang namanya berbahasa Perancis — tiba-tiba memiliki ide serupa, mampuslah kita semuanya! Tidak ada lagi itu filmnya Nolan atau Tarantino, tidak ada lagi itu anime, tidak ada lagi itu Harry Potter, tidak ada lagi itu musik populer sampah yang kita masukkan ke iPod kita. Maka bapak-bapak itu akan berkacak pinggang: "Mau dikemanakan bangsa ini? Kok karya-karya mentah seperti ini bisa disukai? Bagaimana negara ini bisa maju kalau anak muda mengeringkan otaknya dengan sampah-sampah semacam ini? Segini cuma kapasitas berpikir orang Indonesia?"
Jadi apabila dilihat dari perspektif seperti di atas, ini sedikit slippery slope. Juga, apabila tinggal di rumah kaca, ada baiknya tidak mulai melontarkan kerikil. Saya akui saya terkadang merasa gerah juga kalau ada kawan atau saudara yang mulai memutar lagu yang menurut saya lowbrow dan superfisial, inginnya mereka mengapresiasi yang "lebih bagus": saya ingin menunjukkan betapa eklektiknya Tom Waits, betapa hipnotisnya My Bloody Valentine, betapa elegannya Eno. Tapi saya tahu itu faux pas.
Muter-muter
Apabila ditanya memihak siapa, sejujurnya saya bingung juga. Di satu sisi sinetron itu saya yakin tidak bermutu dan tidak terlalu layak tonton. Penduduk yang diromantisasikan tadi, pantas mendapat lebih. Tidak perlu menyuapkan uang ke rumah produksi yang sudah tenggelam dalam fulus, atau menghadiahkan popularitas pada aktor-aktris level tarkam. Memang ada yang perlu diubah.
Di sisi lain saya tidak mampu menemukan alasan lain, kecuali selera saya, untuk memaksa penonton sinetron untuk berganti haluan dan mengapresiasi jenis hiburan yang i) belum tentu mereka sukai, dan ii) sejatinya tidak lebih valid ketimbang apa yang mereka punyai saat ini. Juga, saya kira pekerja-pekerja yang menghasilkan sinetron-sinetron tersebut juga tidak harus seenaknya. Barangkali mereka bersungguh-sungguh, tapi materi yang ada di tangan memang lembek, apa mau dikata?
Betul, ada semacam konsensus masyarakat seni untuk mengukur bagus tidaknya suatu karya. Dan apabila ada upaya memperbaiki karya yang disuguhkan ke rakyat berdasarkan konsensus tersebut, itu suatu kemajuan. Hanya saja ada yang mengganjal di sini, yang tidak bisa saya artikulasikan dengan baik.
Terkait:
- nonadita: Absurditas di Putri yang Ditukar
- +._cHoRo_.+: Yang Putri yang Ditukar
- Esensi: Masygul
- The Satrianto Show: Barang yang Sudah Terlanjur Dibeli Tidak Bisa Ditukar Ataupun Dikembalikan
- nonadita: Jangan Tukar Isu Putri yang Ditukar
- hermansaksono: Gerakan Koin untuk Sinetron Putri Yang Ditukar
- Catatan Gentole: Menalar (Polemik) Sinetron
- Rahmad Hidayat's Blog: Balada Argumentasi Sinetron Yang Tertukar-Tukar
- ZENOSPHERE: Seni, Budaya, dan Debat Tiada Ujung
- Catetan Masova: Sinetron
- r e s t l e s s a n g e l: Pilih Sinetron atau Si Bolang?
- Dian Paramita: Gerakan Agar Sinetron Indonesia Harus Mendidik
- +._cHoRo_.+: Yang Bola Ditukar Putri Yang Liar
Poster yang sudah "dikerjai" dari laman Facebook "Koin yang Ditukar".
70 tanggapan untuk "Homo Sinetronosus"
14/02/11 @ 16:11
Saya malah curiga kalo memang kelas kita itu memang masih sinetron. Toh, TV Berita saja malah mensinetronkan berita.
14/02/11 @ 16:17
Aku meng-idem-kan saja komentar Dana. Bahkan gera'an kontra-sinetron yang kontra-revolusi™ itu sendiri macam sinetronisasi ala kalangan socmed juga. Apa-apa dibikin gera'an (koin). Apa-apa di-bully massal. Warga socmed ini persis kelompok/individu antagonis di dalam sinetron: cerminan umat yang merasa dirinya powerful, mayoritas, dan suka menindas apa yang dianggap berbeda dengan mereka. 15-20 dengan kelompok radikal keagamaan. Beda tipis. Beda cuma di slogan yang juga munafik, yang satu berslogan jihad satu lagi berslogan kebebasan berekspresi/berpendapat.
Jika mereka yang mengklaim diri aktivis socmed mau kebebasan, mereka mesti terima ada "sampah-sampah" seperti sinetron dan kaum alay yang mereka hujat dengan congkaknya. Karena selera adalah kebebasan juga.
14/02/11 @ 16:24
Masalahnya ged, di banyak rumah2 (termasuk tempat tinggalku sekarang), tevenya cuma satu. Kasihan kami2 yang sadar akan keburukan sinetron tersebut kalo harus terpaksa nonton/denger PYD 3/7 hanya karena mayoritas seisi rumah nonton. :evil:
#penderitaantiaphari
14/02/11 @ 16:31
Syukurlah akses saya ke TV Indonesia terbatas, jadinya ga perlu nonton baik sinetron maupun berita yang, seperti kata Mas Dana, tersinetronkan. :-"
Komen ga bertanggung jawab.14/02/11 @ 16:32
Daku gak mau membeo tapi ya sudah terwakili sama Bung Dana e.
Sederhananya gitu lah. Mungkin ya macam orientasi seksual, ada yg doyan cowok ada yg doyan cewek. Ada yg doyan bom seks ada yg doyan ayu nan lugu. Gak bisa juga paksakan sama-sama kita doyan yg ayu nan lugu ber-megane dengan moe-moe factor. Tsundere kehilangan pamor, hilang jodohlah mereka. Menghormati selera..
Ah, saya cuma ngelebarin analogi saja. Tapi ini aku geli juga, usaha Bung Aris itu mirip-mirip sama usaha mengkritisi anime moe-moe fanservis juga tak tahu lah..
14/02/11 @ 16:37
gak ada seni (termasuk sinetron) yang bagus atau jelek. yang ada cuma disukai atau gak disukai.
14/02/11 @ 16:44
@ Dana
Sayangnya saya gak terlalu ngeh soal politik. Tapi sewaktu liburan dulu, saya saban hari nonton Metro TV kala kasus Antasari Azhar sedang hangat-hangatnya. Di situ, dengan musik suspense, kolase gambar, dan narasi sok puitis, saya terkadang lupa sedang nonton berita dan bukan Silet.
Jadi yaa… Mungkin bener ya? :D
@ Alex©
Wah gak familiar sama gerakan-gerakan. :D Setelah generasi 2007 itu 'kan vakum, gak terlalu paham sama komunitas. Kesan ya ada sepintas lalu saja.
Saya sebetulnya kurang suka apa-apa dibikinkan gerakannya. Kalau sudah begitu gampang dikarikaturkan oleh lawannya, lewat teori konspirasi. Bikin gerakan membela Ahmadiyah: ooh dibayar Amerika/Israel/CIA/JIL
/Liverpool! Bikin gerakan melawan PYD: oooh dibayar PH tandingan! Tapi ini ya pendapat sotoy sahaja. Barangkali memang efektif.@ jensen99
Iya ya. :| Tiga jam pula. Untung gak beradu sama bola. Jadi beginilah, bagus/tak bagus, pertahankan/bubarkan, mbok sejam saja porsinya seperti dulu. Tiga jam itu parah betul…
@ lambrtz
Saya pun. :D
@ LSS
Tapi saya belum yakin e. :| 'Kan ada konsensus di luar, yang bagus kira-kira seperti apa, lebih kurang standarnya diakui masyarakat dunia. Nah, apa salahnya kita tawarkan rasa yang baru itu pada masyarakat, siapa tahu suka?
He? *gak ngeh*
@ Kebon jahe
Sejatinya tak ada, tapi 'kan ada karakteristik-karakteristik yang bisa diukur. Makanan juga tergantung selera, tapi ada teknik memasak yang baik. Ada dua sudut pandang menurut saya. :)
14/02/11 @ 16:56
Pertama-tama: kenapa itu Homo sinetronosus dikaitkan ke blog saya? :twisted: Sori-sori ye, biarpun mirip, Homo religiosus di tulisan itu ide akademik yang serius. Bedha dengan pertengkaran berbau hipster di atas. :twisted:
ada citation-nya segala lho*dibekap karena OOT*
*ahem*
Ah, ya, soal sinetron ini rada menarik memang. Sempat memperhatikan komen-komen yang bertebaran di situ. Ada yang bawa-bawa konspirasi rumah produksi lah; bilang itu ceritanya sesuai keseharian lah; dan lain sebagainya. Beuh. :))
Saya sendiri memandangnya ya, selera orang itu subyektif. Seperti pernah saya tulis di plurk tempo dulu: "Kalau orang lebih roused mendengar Wali Band daripada Vivaldi, kita bisa apa?" Apresiasi seni ga bisa dipaksa. Sebab pasti kembali ke upbringing & situasi sosial penikmatnya. Dan itu sangat subyektif.
On related note, saya bertanya-tanya, berapa orang di antara antisinetron itu yang benar-benar punya selera "berkelas" (dalam tanda kutip, sebab saya tak percaya "kelas" selera itu ada).
Hampir pasti masih lebih banyak yang nongkrongin Hollywood dan MTV (atau alternatifnya pop Jepang/Korea). Bukan berarti itu jelek sih. Cuma seperti ente bilang, di atas langit ada langit. Belum lagi bahwa apresiasi seni itu subyektif. Cultural snobbery itu tindakan gak mutu lah. :|
14/02/11 @ 16:58
@ Bapak Guru
Lha sama. Too much gera'an will kill you. Banalitas® gera'an di Indonesia sekarang bertitik jenuh di "gera'an koin". Lalu apa? Sinetron bubar? SBY nggak curhat soal gaji lagi?
Ini bukan masalah gampang, memang. Mengeritiki sesuatu yang bukan selera kita itu mudah, tapi mengganti selera orang bukan semudah bikin gera'an koin.
Dulu film Indonesia juga pernah parah. Era akhir 80-an sampai akhir 90-an, didominasi film bau sperma dan derit ranjang serta kuntilanak cari perjaka. Cuma sempat muncul Naga Bonar dan Tjoet Nja' Dhien dari sedikit yang masuk hitungan bagus. Tapi Suzanna yang vakum tetap diganti Eva Arnaz dan Ayu Azhari. Lalu muncul upaya sineas muda membuat film bagus. Pasir Berbisik dan Bintang Jatuh yang sama-sama menampilkan Dian Sastro, sampai perfilman Indonesia "bergairah" dengan meletupnya Ada Apa Dengan Cinta.
Apa semua lalu jadi bermutu? Tidak. Tema cinta kemudian menjadi banal dengan Eiffel I'm In Love, 30 Hari Mencari Cinta dan blablabla lainnya.
Sinetron begitu juga. Dulu ada seri Tembang Di Padang Ilalang, Jendela Rumah Kita, Sengsara Membawa Nikmat dan Siti Nurbaya yang kemudian jenuh dan berganti kemodernan cerita ala Raam Punjabi yang membuat sinetron jadi mewah macam telenovela atau sinema India.
Ini cuma soal rotasi saja. Mengukur selera zaman/massa dengan selera kaum intelek, sukar ada titik temu. Kecuali gera'an untuk koin itu berani memulai pendanaan untuk bikin sinetron "indie" yang bermutu™ :D
14/02/11 @ 16:59
@ Alex©
This. (u_u)
And…
THIS. :mrgreen:
14/02/11 @ 17:07
Lupa…..
@ Bapak Guru
Memang ada desas-desus bahwa pembela Ahmadiyah di belakangnya ada
Fiorentineyang membayar…?*bangau never walk alone pun walking-walking*
14/02/11 @ 17:29
@ sora9n
Iya, saya juga terpana melihat itu lamannya. Kok sudah macam nerd war, kok seperti isu yang besar betul…
Betul, seperti yang saya bilang, sejatinya memang seni itu samarata. (Tapi tentu bukan lantas song fic Naruto di FFN bisa disejajarkan dengan WB Yeats. Ada nilai yang didapat lewat perspektif lain: konsensus, sejarah, kompleksitas, dst.)
Beberapa mestinya adalah yang ngerti gimana serial TV/film yang baik, mungkin dari pengalaman membaca, menonton, dan seterusnya. Tapi tentunya ada pula yang… seperti Sodara jabarkan di atas itu.
If you live in a glasshouse… etc. :D
@ Alex©
Ya itulah. Kalau diperlakukan terlampau kasar toh yang perlu diluruskan ke jalan yang benar bukannya akan tersadar, melainkan semakin ngéyél karena merasa ditantang. Tapi ya yang dihadapi sekarang memang mutunya kurang baik secara teknis/tradisi sinema. Sinetron itu mahal, jadi ngelawannya itu ya bukan gampang.
14/02/11 @ 17:40
@ Bapak Guru
Betul. Bagus atau jelek itu (kadang2) relatif. Tapi jangan sampai tiga jam lah. Tiap hari pula. Ada banyak sinetron yang sama atau lebih jelek daripada PYD, tapi gak jadi seheboh ini karena jadwal tayangnya lebih normal. Gak 3/7.
14/02/11 @ 18:15
sebenarnya sih sinetron PYD itu ga jelek-jelek amat *nonton 1 episode full gara2 ini* cuma waktunya yg malesin, 3 jam! Cuma ya itu ide crita sinetron Indonesia segitu2 aja, kl ga rebutan harta, rebutan suami, ya tukar2an anak, tengkar mulu. Sinetron mendidik macam keluarga cemara jd jarang ato malah uda ga ada lagi
14/02/11 @ 18:38
weh jadi ini apa semacam gera'an seniman puritan fundamentalis vs neo liberalis pragmatis umum?
*halah yg penting ninggalin jejak*14/02/11 @ 19:09
fence-sitting inih.
14/02/11 @ 20:06
Jadi gimana? Kita bikin gerakan koin untuk pirsawan berselera agar membuat sinetron berkelas?
14/02/11 @ 20:53
Paling lucu itu saat membaca selera ditakar dengan apa yang disebut common sense.
HAHAHAHAHAHAHA!
Sinetron itu bumbunya memainkan emosi penonton. Tak ada common sense soal emosi. Aku merelakan almarhumah ibuku dan perempuan-perempuan dalam keluarga menonton beberapa sinetron yang mereka suka dengan tetap menyentil sekian cacat dalam sinema elektronik yang mirip-mirip teater itu. Karena soal kesenangan, tak ada common sense. Tak semua orang suka untuk merepotkan kepala dengan menonton sesuatu yang mirip film Memento yang memusingkan itu.
14/02/11 @ 20:55
@ jensen99
Itu kira-kira bagaimana ke depannya, yang ditayangkan sekarang apa porsi satu musim yang porsinya dua-tiga kali lipat (sehingga dua-tiga kali lebih cepat tamat), atau tak ada kabarnya kapan akan berakhir?
Kalau men-tersanjung sampai bermusim-musim, tiga jam per hari, tiap hari, teruklah awak dibuatnya…
@ rukia
Lebih laris kali. Si Siapalahnamanya di poster itu 'kan lebih seksi daripada Adi Kurdi. :D
@ Berita Pilihanku
Wah kurang paham saya gera'an apa. Cuma menyampaikan dari apa yang saya tahu dan baca. Dan tonton sedikit, barang 2-3 menit.
@ gentole
Demikianlah. Masbung nanti di sebelah mana pagar? Seragam dengan Aris nampaknya?
@ Amd
Koin di sini Ringgit, gak valid. :P
@ Alex©
Itu barangkali lahir dari sentimen "musti mendidik" yang saya tak sepakati itu. Sinetron tak harus mendidik sebetulnya.
14/02/11 @ 21:17
@ Pak Guru
Duuuudee… mereka itu kejar tayang. Ga ada skrip yang menentukan "episode sekian harus tamat" atau "si X tewas" atau sebagainya… T_T
/sad fact: Cinta Fitri was supposed to end after ep. 777 (season 5)
//it didn't
14/02/11 @ 21:41
Sebenarnya sinetron Indonesia itu lumayanlah untuk sepuluh episode pertama (tidak terlalu jauh dari drama korea). Tapi setelah itu — jika ratingnya bagus — mulailah dipanjang-panjangi tidak karuan dengan cerita yang terlalu dibuat-buat.
Mungkin disini ini, production housenya tidak mau ambil resiko untuk menyetop sinetron tersebut dan "berspekulasi" dengan sinetron baru.
14/02/11 @ 22:16
masalahnya, selain hal-hal teknis pembuatan film, sebenernya cuma satu: inkonsistensi. ide ceritanya dangkal pun asalkan konsisten sebenarnya nggak masalah. tapi…lha ini, sudah dangkal ketambahan tidak konsisten pula.
dan kembali ke masalah selera, ada yang berselera untuk mengritik inkonsistensi ini secara terbuka di hadapan publik, dan ada yang berselera untuk beranggapan inkonsistensi macam itu tidak perlulah untuk dikritik.
seperti makan wortel, meskipun (katanya) sehat, ya ada yang suka dan ada yang nggak. ada yang memaksakan anaknya yang nggak suka makan wortel supaya suka makan wortel, dan ada yang mengambil sikap simpel – kalo anaknya nggak suka wortel ya sudah nggak usah dipaksa :D
14/02/11 @ 23:00
tar lagi ada tuh gantinya 'Kemilau Cinta Kamila, Cinta Tiada Akhir' bakal berjam2 jg kekx itu sinetron dan ga bakal berakhir kekx. Btw, cinta fitri dah sampe season 7 kan? Dah mati lom si miska itu? *lah kok jd ngegosip* *dikeplak*
Aduh, lebih mending nonton sinetron macam FTV yg sekali putar habis =)
15/02/11 @ 01:48
@ Bapak Guru
Tuh, seperti yang dijelaskan sora. Sinetron kita kejar tayang. Semua bergantung dari rating dan perolehan iklan. Kalo rating tinggi, cerita bisa diulur2 sepanjang mungkin, dan akhirnya jadi inkonsisten seperti kata Joe. Tapi penonton setia senang, PH senang, stasiun TV senang, artisnya juga (keknya) senang. Puih…
Bisa disimpulkan bahwa rating PYD sekarang lagi tinggi2nya. Walopun kalo mau ngikuti dikit ceritanya kita bisa mudah tau bahwa konfliknya sebenarnya gak sulit tuk diselesaikan. Jadi lupakan sajalah soal kapan berakhir itu.
15/02/11 @ 02:12
Mau liat yang (menurut saya) lebih absurd dari PyD? Tontonlah Supergirl, sinetron terbaru Manohara Odelia Pinot. Bagi saya sih menghibur karena sebagian orang di timeline rame-rame berceloteh "lucu" sambil menontonnya. Jadi secara tidak langsung, walau bukan penonton setia sinetron, salah satu sinetron telah sukses menghibur saya. *OOT kayaknya* :D
Oya, jadi inget pernah ada salah seorang penulis skenario (@amrazing) yang membahas kenapa sinetron sekarang sedemikian "parahnya". Intinya sih permintaan pasar. Tanggungjawab moral mencerdaskan bangsa vs duit menang mana sih? :D
Mudah-mudahan gerakan-gerakan tidak hanya jadi buih di lautan. Eh, buih berkumpul lama-lama jadi ombak badai juga ya?
15/02/11 @ 02:16
@ sora9n, @ jensen99
*ngakak koprol* =))
Jadi itu entah sampai kapan akan disodori 3 jam tiap harinya tanpa jelas kapan akan berhenti? Yaaa, mau gimana lagi. Apa daya. Mendingan dulu ya minimal ada Dunia Dalam Berita wajib pukul 9. #eh
@ Dana
Soal drama Korea, itu saya lebih asing lagi. Tapi sebetulnya dari segi cari duit sih logis-logis aja itu langkah-langkah kemaruk PH-nya. Itulah yang agak menyulitkan, susah keluar dari sistem ini.
@ satch
Jadi kira-kira orang akan eneg sendiri atau masih akan lama kita harus bertahan? Tapi iya juga itu. Sama seperti suka/tak suka dengan sinetronnya, perkara protes/tak protes pun berpulang pada selera.
BTW, saya suka wortel. Kadang dimakan begitu saja macam hewan. :))@ rukia
Eh, rekornya yang terpanjang sinetron yang mana sih? Tahu gak?
Ya, yang macam FTV itu minimal 'kan kalau tak suka, bisa coba lagi episode depan, boleh jadi kali itu sesuai selera.
@ Takodok!
Ooo iyaaa saya dengar. :P Minimal yang ini kayaknya memang bukan untuk ditanggapi serius. Orang yang terlibat pun pasti sadarlah ada bakal dicela. :)) Perkara tuntutan pasar/produser, yaaaa… gimana ya, pikirnya mesti, menolakpun apa gunanya, toh produsernya tinggal cari orang lain. Kwalitet bukan masalah 'kan? Mendingan terima, sekalian dapat duit. Gak dosa sih sebenernya.
15/02/11 @ 08:20
kenapa sih ga ada yg berpikir simpel,
kalo doyan tonton,
kalo ga ya tinggal tutup mata dan kuping,
plus idung kalo perlu
beres toh
:mrgreen:
15/02/11 @ 14:35
@warm: apa iya ndak ada om? Silent majority-nya kan justru lebih banyak yang bersikap demikian? Berapa orang sih netter yang mengupas masalah ini, baik pro maupun kontra? Ditotal total mungkin da nyampe seribu apalagi seratus ribu… Bandingannya itu 250 juta eh…
15/02/11 @ 16:14
@amd: betul juga, med. rakyat yang dibela sih dak dengar apa-apa. kecuali bunyi deru mesin angkot di jalan-jalan yang sibuk di kota, atau bisik angin di sawah-sawah yang hijau di desa. :)
15/02/11 @ 18:09
@warm
Err…saya? *grin*
Dan pemikiran elitis saya lebih dari sekedar tutup mata tutup mulut. :-"15/02/11 @ 21:02
3 jam bo.. mana sebenernya bisa disolve bila mikirnya ga ribet kaya gitu …
16/02/11 @ 00:49
Maaf beberapa tanggapan dijarang Akismet.
@ warm
Hahaha, iya juga. Kebetulan saya gak bisa nonton tapinya, gak perlu tutup apa-apa. :P
@ Amd, @ gentole
Tuul… Tapi gonjang-ganjing ini masuk situs berita lho. Siapa tahu ada perpanjangannya (walau pasti gak segitunya) di meatspace.
@ lambrtz
Elitis! *tabur garam* >:)
@ mypcgadget
Normalnya berapa jam ya? Sejam masak gak cukup?
16/02/11 @ 10:56
@Pak Guru @Alex:
Ketika link gerakan koin mulai berseliweran di timeline Twitter, saya nangkepnya ini adalah parodi lucu-lucuan atas banalitas gerakan-gerakan socmed (sekaligus nyindir sinetron tentunya). Bagi yang sudah baca statement adminnya, it's pretty obvious kok.
Agak kaget juga ketika saya cek, anggotanya di FB sudah mencapai 1300an. Diskusi PyD di blog juga memang menjadi cukup anget. Bagi saya ini menjadi indikator, kalau ada masalah di sinetron Indonesia.
16/02/11 @ 11:12
@rukia
lha, kalo ngga salah ada sinetron tentang socmed juga kok, judulnya "Update Status" di Global kalo ngga salah. eh, itu bisa dianggap sinetron ngga ya? :P
@sora
gimana mau selesai? seperti yang kemaren diomongin di kopdar, udah ada algorithm nya itu:
if plot mau selesai
then orang ketiga datang menggagalkan penyelesaian plo†
:P
16/02/11 @ 12:10
astaga, di sini juga nulis soal PyD. :))
Mama saya seneng banget nonton film ini. Akibatnya papa di rumah saat jam tayang PyD, jadi tidur lebih cepat. Sekitar jam 11 baru bangun dan mulai nonton film (entah itu layar lebar atau film seri) karena saat itu Mama sudah selesai nonton sinetron PyD.
Dari sini terlihat jam tayang PyD yang kelewat lama jadi menindas para pengguna televisi yang tidak mengkonsumsi sinetron PyD tersebut. :|
Saya sendiri sih protes karena jam tayangnya yang ajaib. Mbok ya dibikin sejam aja kayak sinetron normal, dijamin protes tak akan sekeras ini. Intinya sih ada pihak yang dirugikan karena durasinya yang terlalu lama.
16/02/11 @ 13:48
@ Herman Saksono
Aku percaya bahwa ada masalah dengan sinetron di Indonesia. Seperti ada masalah dengan banyaknya melodrama Asia, termasuk drama Korea di TV swasta. Seperti percaya juga bahwa video bokep adalah sebuah masalah tersendiri.
Gera'an itu jika untuk mengeritik jam tayang 3 jam, bolehlah. Secara bukan penikmat sinetron, 3 jam itu memang kebanyakan.
Tapi bahwa gera'an itu dan pendapat-pendapat yang beredar sudah mendegradasikan penikmat sinetron, ini aku sukar menerima, Mon. Orang boleh tak suka dengan sinetron seperti tak suka pada rokok, tapi memvonis penikmat sinetron sebagai "selera rendahan, bodoh, nanti tergiring untuk jahat, kampungan, lebay" seperti menghakimi perokok seolah yang tidak suka sinetron/perokok itu lebih waras.
Aku pun percaya banyak penikmat sinetron menikmati itu sebagai hiburan semata. Mereka tidak sebodoh yang dikira para pirsawan yang merasa diri mereka berselera tinggi. Mereka juga ada yang tahu kok kalau itu bohong-bohongan belaka. Akting standar. Atau berlebihan ceritanya.
Di sini, aku berdiri pada pihak yang haknya untuk menikmati sinetron dicibiri, serendah apapun hiburan itu. Silakan kritik PH-nya, silakan kritik stasiun TV, tapi mereka yang menikmati ya jangan diremehkan dengan kesan tidak cerdas lah.
16/02/11 @ 14:53
kok isunya jadi rebutan TV sih?
16/02/11 @ 14:59
@herman saksono
Kalo saya baca tulisan di blog mas sepertinya bukan sekedar lucu-lucuan. Saya mungkin tidak terlalu tertarik pada substansi perdebatannya, sih, apakah sinetron itu bermutu atau tidak, mungkin tidak bermutu, mungkin komersil, mungkin selera murahan, whatever. Tetapi cara aktifis soc-med yang berfikir mulia ingin menyelamatkan ibu-ibu dari apa yang dianggap selera murahan itu yang menurut saya absurd. Logikanya sederhana saja, kalo sinetron itu tidak disukai, gak bakalan lama hidupnya. Ini kan industri, bukan sekolah seni. Yang berwenang ya mekanisme pasar. Dan lantas kalo orang suka PYD apa mau dikata? Dipaksa gak suka seperti Anda? :P
16/02/11 @ 17:00
@ Herman Saksono
Ya, kalau perkara ada yang salah dengan sinetron Indonesia saya rasa memang tak bisa dipungkiri lagi. Walaupun ada suara yang membela penonton sinetron untuk menikmati sinetron tersebut, dan bahwa selera tak bisa dipaksakan dan seterusnya, secara tradisi/konvensi sinema memang sinetron Indonesia tidak terlalu membanggakan.
Ah. Coret terlalunya. Tidak membanggakan.
@ rifu
while (get_profit() > get_cost()) {
if (plot_mau_selesai()) datangkan(penggagal_penyelesaian (orang_ketiga));
}
@ cK
Wah kok ngebela-belain banget buat nonton film. :P
Betul, kayaknya soal 3 jam ini semuanya kecuali produser memang gak setuju. Bahkan aktor-aktornya pun saya yakin capek juga syuting tiap hari. Gak masuk akal memang, pertama saya tahu, saya kira cuma spesial menyambut apa kek selama 2 minggu paling lama. Ealah ternyata…
@ Alex©
Iya betul. Akting di video bokep biasanya tak meyakinkan, belum lagi skenarionya yang banal. Versi Indonesia, biasanya kameranya tidak bagus. #eh
BTW 1) soal durasi saya kira semua sepakatlah, tinggal implikasi-implikasinya itu yang dididkusikan, 2) saya amini betul yang menyangkut rokok.
@ gentole
Setuju, tapi yang mengganggu saya, seperti yang saya omongin sama Sora, sinetron yang ada 'kan the only game in town. Sinetron yang katanya mutu seperti Si Doel juga 'kan ratingnya tinggi. Jadi memperbaiki kualitas sinetron tidak mesti juga mengorbankan selera ibu-ibu imajiner yang Masbro bela.
16/02/11 @ 17:09
[OOT]
@ Pak Guru
Saya mencium bau-bau stres TA di sini…
:ngacir:
[/OOT]
16/02/11 @ 17:40
Iya emang enggak. Di tulisan saya juga saya bilang sinetron bisa diperbaiki dengan memperbanyak penulis naskah yang baik. Saya juga gak bilang perbaikan kualitas sinetron ini bakal mengorbankan selera ibu-ibu. Kan saya juga bilang kalo selera bisa berubah, menjadi lebih baik atau buruk, gak penting, yang pasti bisa berubah. Yang jelas, sinetron yang gak mutu ini gak bakal selamat kalo gak ada penontonnya. Tiga jam karena ada demand. Dan demand ini jangan dihina-dinakan dong. Dan kalo semua PH dan Ibu-Ibu harus ganti tontonan karena segelintir orang bilang sinetron busuk, yah absurd aja. Kalo ongkosnya mahal dan datengin duit gak apa-apa, kalo ternyata enggak? Absurd. Ini, seperti saya bilang, sama aja kayak kamu gak suka Slank dan minta stasiun TV gak nyetel musik slank lagi, karena musiknya buruk, asal-asalan, gak berkualitas dst. Absurd. Kalo kamu percaya gak ada "baik" dan "buruk" dalam kesenian, mendukung upaya perbaikan sinetron itu absurd toh, absurd banget
16/02/11 @ 17:50
@ sora9n
"Study and Implementation of a Plot Generator Mechanism for a Sappy Television Series: Sacrificing Coherence and General Watchability in Favour of Extreme Longevity, by Difo Aldiaz (I08002284)"
@ gentole
Oke, berarti kita sepakat. Bedanya, kalau lewat pemikiran saya, tindakan "aktivis-aktivis" itu walau ada nada patronisasinya tetap saja masih reasonable. Mereka juga terhitung konsumen, dan merasa dikibuli oleh kebijakan PH yang merendah-rendahkan standar.
Soal "perbaikan", seperti yang saya tuliskan di blog Sora, betul saya percaya sejatinya gak ada "baik" atau "buruk", tapi secara tradisi/konvensi ada takaran-takaran tertentu yang mesti dihormati. Ini berarti saya gak menganggap serius baik snob a la Harold Bloom atau penyair kelas SMA yang karyanya acakadut. Belum lagi ada "selera saya" yang tak mesti mengamini dua sudut pandang di atas. :P
16/02/11 @ 17:56
Elaborate. Enlighten me. Reasonable gimana.
16/02/11 @ 18:05
@ gentole
Jadi begini. Sejujurnya saya udah nyaris lompat dari pagar ke lapangan Masbro dan Aris, tapi yang menarik buat saya itu ya laporan Sdr. Alexander Thian yang juga dikutip Mas Amed. Di situ 'kan berarti fenomena yang ada ini gak sealami yang saya bayangkan. Bukan sekadar penonton mau X, produser kasih X, masyarakat senang, lalu ada gerombolan yang protes minta prosesnya dihentikan. Tapi ada kibul-kibul korporat di situ. Jadi para "aktivis" itu merasa sebagai konsumen mereka tidak diberikan apa yang mereka mau, melainkan cuma karikatur dari apa yang diterima baik sebelumnya.
Tentu ini juga berasumsi gerakan sosmed itu berlatar belakang seperti yang saya sebutkan.
16/02/11 @ 18:12
@geddoe
.
It's natural, Ged. The only reason why the US has so many reality shows is that people there just love it so much. Dan reality show sama busuknya dengan sinetron in many ways. Sumpah deh. :| Soal dipaksa produser. I doubt it. Mereka produser cuma pikir profit. Dan itu hanya bisa dilakukan kalo mereka bisa memberikan insentif pada konsumen.
16/02/11 @ 20:15
@ Bapak Guru
Benar sekali. Video bokep Indonesia masih kualitas murahan. Mainnya kalau ndak di losmen murahan ya di gudang kosong. Malahan ada di pinggiran empang. Norak. Rendahan. Kampungan. Aku yang orang kampung(an) saja merasa itu kampungan. Kita mau kualitas minimal seperti Vivid Video! Bikin gera'an koin untuk perekam video bokep macam Ariel dan Luna Maya! Jika tidak, boikot mereka. Kita gabung dengan FPI dan usir mereka. Tolak Miyabi. Dukung Tiffy!
*ngos2an orasi*
____________________
PS: Sudah me
Ha, sama pikiran lagi soal "dipaksa produser". Itu orang-orang beralasan produser tapi seolah-olah "beridealisme" malah sudah kehilangan idealisme sama sekali. Itu cuma pleidoi. Kalau tak berdagang-sapi antara idealisme sebagai penulis naskah dengan produser, kenapa tak mundur dan bikin yang "indie" versi sendiri? Memang cuma satu produser?
Aku tak yakinlah itu. Boleh jadi benar mereka tertekan. Tapi itu cuma cuci tangan. Masa kalah dengan anak-anak yang ikut apa-lah-itu award di Metro untuk film dokumenter. Dana? Ya kalo soal dana, mending gera'an koin itu untuk mendanai para penulis naskah yang curhat tapi tak berani mundur dari PH/produser yang konon memaksa mereka itu.
16/02/11 @ 20:17
wah… keputus…
*keplak ponsel*
@ Geddoe
PS tadi itu maksudnya gini:
PS: Sudah merokok lagi kau?
#abaikan
Begitu…
*keplak ponsel lagi*
16/02/11 @ 20:20
Dan…. komen panjang-lebar-tinggi-rendah soal curhat penulis naskah itu maksudnya ditujudkan pada komen Gentole di atasnya yang "doubt it" soal penulis skenario….
*gaktegangeplakponsellagi* x(
16/02/11 @ 23:11
@ gentole
Ya ujung-ujungnya memang susah sih. :|
@ Alex©
Sebetulnya sih gak terlalu masalah apa para pekerja itu betulan idealis atau cuma sok-sokan. Buat saya sih yang penting para produser ini *katanya* maunya musti formulaik terus sinetronnya. Tapi ya itu. Namanya juga jualan. Masak mau kita suruh coba-coba spekulasi? Mana mau mereka. :P
*sulut 234*
Jadi komentarnya mau diedit atau biarkan saja?
17/02/11 @ 00:59
@ Bapak Guru
Ya susahlah itu, Ged. Hukum pasar berlaku. Kalau mereka, penulis skenario, mau trial-and-error dengan konsep mereka yang konon idealis itu, kenapa mereka tak cobakan dulu dengan format FTV atau sinetron indie, semacam dulukala ada sepekan sinetron indonesia di TVRI. Mau idealis? Ya jangan cuma: "kami tidak diberi kesempatan, produsernya bla-bla-bla, padahal kami bli-bli-bli". Ciken itu. Sineas-sineas macam Rudi Soedjarwo dan Hanung juga berangkat dari film-film dengan konsep sendiri. Ya macam Pasir Berbisik atau Drupadi.
Itu juga kalau siap menerima konsekuensi seperti sinetron Dunia Tanpa Koma yang padam karena kelewat-njelimet untuk dijadikan hiburan massa di primetime :D
Soal komen, editkan saja, susupkan ke komen aseli. Jadi kayak nyampah begitu. Hapus saja komen2 klarifikasi-ku itu.
*sulut lukistraik*
17/02/11 @ 01:38
Mari kita kutuk Aris karena sudah bawa-bawa kita terjun bebas ke dalam perdebatan yang tak berfaedah ini.Tapi ya soal protas-protes ini. Apa ada kita sadar kalo nonton TV itu GRATIS. Udah gratis banyak maunya.17/02/11 @ 07:34
"seperti makan wortel, meskipun (katanya) sehat, ya ada yang suka dan ada yang nggak. ada yang memaksakan anaknya yang nggak suka makan wortel supaya suka makan wortel, dan ada yang mengambil sikap simpel – kalo anaknya nggak suka wortel ya sudah nggak usah dipaksa :D"
yang belon mbikin anak monggo mbikin ndulu.
baru kemudian praktekkan ke anak masing2.
jangan coba2 mempraktekkan ke anak tetangga :)
17/02/11 @ 10:15
@sora & geddoe
:lol:
17/02/11 @ 10:56
@ sampah masyarakat
kok jadi ngaco? :D
17/02/11 @ 12:43
@ Alex©
Wah gak tahulah ya. :P Kayaknya kalau merengek-rengek ingin menuangkan ide segitu hebatnya mestinya usahanya juga lebih nekat toh. Jadi boleh jadi tingginya kemauan berbanding lurus dengan banyaknya jalan. Meski begitu, ya, dengar dari kawan yang coba bikin-bikin barang demikian, kok duit yang bergulir di situ banyak betul. Bisa kasih makan sekampung untuk bikin satu jamnya.
Jadi gak tahu jugalah. Tapi kalau sok idealis rasanya memang belum pada tempatnya.
@ gentole
Memang Aris ini sumber segala balanya.@ sampah masyarakat, @ setanmipaselatan
Wah ada apa ini?
@ rifu
:D
18/02/11 @ 03:18
@ gentole
Karena di Indonesia belum sampai rasio satu orang-satu teve seperti kepemilikan hape. Masalah jadi muncul ketika orang yang tidak suka PyD kalah jumlah dengan penikmat PyD di TV yang sama. Padahal mungkin lagi pengen TV time juga. Andai tayang per hari gak 3 jam barangkali gak segitu betenya sama PyD (dan RCTI?). Mungkin begitu kira2… :D
15/06/11 @ 18:15
yay, tulisan terkaitnya ada 13! hahah,
maap OOT,
cuma kalo ada pendapat yg setuju sama sinetrn karena merupakan pembodohan masyarakat, saya setuju, :D
03/08/11 @ 13:15
@ Arman
Kebetulan saja itu. :D
Ping/trackback
Lacak balik pada 14/02/11 @ 16:14
Lacak balik pada 14/02/11 @ 16:43
Lacak balik pada 15/02/11 @ 08:51
Lacak balik pada 15/02/11 @ 10:04
Lacak balik pada 16/02/11 @ 00:38
Lacak balik pada 16/02/11 @ 11:02
Lacak balik pada 16/02/11 @ 13:40
Lacak balik pada 16/02/11 @ 13:49
Lacak balik pada 16/02/11 @ 23:17
Lacak balik pada 20/02/11 @ 16:08
Lacak balik pada 29/03/11 @ 22:55
Lacak balik pada 04/04/11 @ 00:35