Pencarian

Tentang

Pak Guru (bukan profesi sebenarnya): Menulis, mengeluh, dan terus menggerutu sampai maut menjemput paling lambat seratus tahun lagi.

Selengkapnya »

< Facebook Twitter Google+ Plurk <

Detail tulisan

Penulis:
Terbit: 25/03/11 @ 20:14
Tautan pendek: Tautan
Tanggapan: 55 tanggapan
Kategori: Keagamaan, Penulis Tamu
Tag: , , , ,
Metadata lain: Thumbnail
Print: Print
Sebarluaskan:

Pariwara

Kalau Anda nekat, kebetulan banyak ruang kosong mubazir di sini yang bisa disewakan. Silakan hubungi pengelola untuk bernegosiasi.

KeagamaanPenulis Tamu

Kecewa ESQ

(Oleh penulis tamu: Anonim) Keluhan seorang sahabat tentang metode yang dipakai oleh ESQ dalam program-program pelatihan mereka. Menurut penulis, ESQ bergantung pada smoke and mirrors: substansi tiga puluh persen, pensuasanaan tujuh puluh persen. Katanya, ada penyesalan setelah menyisihkan uang untuk ikut serta.

Kecewa ESQ

Dari Editor

Saya, seperti Anda, tentu punya beberapa sahabat yang kaya ide-ide tapi entah kenapa tidak menulis secara online. Ini patut disayangkan. Saya prihatin,™ tapi berhubung berprihatin tidak menyelesaikan perkara, maka saya pikir, apa salahnya kalau mereka diperbolehkan menumpang?

Ini adalah entri pertama dari "serial" Penulis Tamu—diberi tanda kutip sebab tidak ada jaminan akan berlanjut. (Tapi tentu Anda boleh-boleh saja coba berpartisipasi, apabila ingin tulisan Anda dimuat di media tersohor dan bergengsi sini, silakan kirim melalui laman kontak.)

Latar Belakang

Penulis entri tamu kali ini — seorang kawan — memilih untuk tidak disebutkan namanya. Jadi apabila Anda kebetulan berhasil mengenali Beliau, tak perlulah sok bermain detektif dan menerka-nerka di kolom komentar. Tak enaklah jadinya. Ngapain. Jadi, apabila saya lihat akan saya pangkas.

Topik ESQ (separuh self-help, separuh jawaban Indonesia untuk televangelisme) pertama muncul ketika yang bersangkutan mengeluh melalui Twitter bahwa ia menderita rugi besar-besaran. Saya tanyakan ada apa; ditipukah, juru pijat kurang lihaikah, beli produk Applekah? (:D) Menurutnya, itu dikarenakan mengikuti pelatihan ESQ, jadi kemudian saya minta untuk dituliskan detailnya, sekalian kalau bisa dipublikasikan.

Sebagai catatan, saya sendiri tidak pernah mengikuti pelatihan tersebut dan belum ada rencana ke sana. Tulisan di bawah adalah opini dari penulis tamu dan tidak serta merta mewakili opini saya pribadi. Ini dipublikasikan demi menyediakan wacana dan bahan berdiskusi.

Sumber melalui email, telah melalui proses copy-editing ringan.

Buku ESQ

Perkenalan pertama saya dengan ESQ Training sebenarnya terjadi secara tidak langsung. Kira-kira sekitar lima tahun lalu, di Gramedia Pekanbaru, pada bagian Best Seller, saya melihat sebuah buku tebal yang menghilangkan minat baca, berjudul ESQ (tagline-nya saya lupa). ("Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual"—red.) "Judge a book by its cover", itulah saya. Cover buku tersebut sangat-sangat tidak menarik, hanya tulisan ESQ dengan font yang besar, dan gambar planet bumi sebagai background! Dan, Anda pasti bisa menebaknya, saya mengabaikan buku tersebut. Hahaha.

ESQ mulai hilang dari perhatian saya, apalagi saya kuliah di Universitas Katolik Parahyangan. Selama kurang lebih dua tahun setelah masuk Unpar dan pulang kembali, saya heran dengan sifat adik saya yang tiba-tiba berubah. Si adik ini jadi rajin sholat! Zuhur, Ashar yang biasanya lewat pun sekarang ga lagi. Sewaktu masuk ke kamarnya, saya melihat sebuah name tag ESQ Training. Saya tidak menanyakan langsung padanya ESQ Training itu apa, tapi saya berasumsi, perubahan tiba-tiba adik saya ini disebabkan oleh ESQ Training, apapun itu.

Puncaknya, setelah saya balik lagi ke Bandung, seorang teman saya yang bernama *****, bercerita dengan bersemangat tentang ESQ Training! Dia menceritakan, setelah mengikuti pelatihan tersebut dia mulai berubah: rajin sholat, dan bentuk-bentuk perubahan ke arah yang lebih baik, dalam banyak hal. Perlu Anda ketahui, ***** ini bukan tipikal santri yang kalem, pendiam, memakai kemeja atau celana bahan. Tidak sama sekali! ***** ini bisa saya golongkan sebagai orang metroseksual: anak Jakarta gaul lulusan SMA swasta mahal. Ngomongnya "lo", "gue", santai ke cowo, cewe, tanpa canggung sama sekali. Maintenance diri pun ribet; perawatan rambut, kulit, menu makan, menu olahraga, mobil pribadi, dan lain-lain. Jadilah image saya berubah tentang ESQ Training, dari yang saya anggap cuma sejenis pesantren kilat biasa, menjadi sebuah jenis training eksklusif buat kalangan urbanis, ekspatriat dengan biaya mahal!

OK, saya putuskan untuk ikut ESQ Training, apalagi setelah di Pekanbaru saya melihat spanduknya, dengan gambar Ar[y] Ginanjar dan jadwal training. OK, ada jadwal pas untuk saya sebelum balik lagi ke Bandung.

Training eksklusif buat kalangan urbanis, ekspatriat dengan biaya mahal!

ESQ Training yang saya ikuti termasuk dalam kelas profesional. Bukan karena saya profesional, tapi memang satu-satunya jadwal yang pas adalah yang ini. Saya merasa aneh karena tiba-tiba harus berteman dengan banyak orang yang umurnya jauh diatas saya. Dua kali lipat saya, mungkin. Ya, saya kesulitan bersosialisasi dengan mereka. Ada perbedaan pola pikir, perbedaan cara berkomunikasi, dan yang paling parah, perbedaan selera HUMOR! Lawakan orang-orang tua itu bagi saya sangat-sangat garing… Saya mau diem ga enak, mau ketawa juga berasa ga pengen… Tapi justru karena itu, setiap training saya selalu duduk paling depan. Karena malas bersosialisasi dengan peserta lain, dan juga untuk mendapatkan materi training yang lebih optimal karena fokus saya terjaga.

Hari I, bahkan di 1 jam awal, image saya tentang ESQ Training sudah langsung hancur… :| Kenapa? Karena trainer saya menceritakan sebuah analogi tentang burung dan kemudian menirukan gerakan burung elang itu sendiri, dengan tangan terentang dan penuh penghayatan. Saya akan merasa biasa saja kalau itu memang dilakukan dengan niat bercanda, tapi… Dengan penuh penghayatan? Plis deh… Jangan mendramatisir suasana… dan itu semua dilakukan dengan pensuasanaan ruangan: lampu digelapin, musik diputer keras-keras, permainan intonasi trainer… Hahaha… OK, lanjut.

Saya senang pas dibawa ke bagian materi bukti-bukti Al-Qur'an. Beberapa materi yang bisa saya ingat: tentang teori Big Bang dan teori matahari sebagai pusat edar planet-planet yang sudah disebutkan Al-Qur'an ribuan tahun lalu! Wahhh… Saya senang dengan ilmu-ilmu baru ini. Bukti-bukti sains ini membuat iman saya bertambah, pasti. TAPI… Kenapa trainer saya lebay sih? Kenapa harus pakai teriak-teriak?

LIHATLAAAHHH… LIHATLAAAAHHH… INILAH BUKTI!!! TAKBIIIIIRRRR!!! TAKBIIIRRRR!!! AYO SEKARANG BERSUJUDD!!!

Suasana ruangan pada saat itu langsung dibuat gelap, musik diputar keras-keras… Orang-orang bersujud, banyak yang menangis (sepertinya), panitia mendatangi peserta yang menangis, lalu mengarahkan mikrofon ke orang tersebut sehingga suara tangisannya terdengar keras di ruangan. Dan saat itu, musik berubah menjadi musk super mellow, volume dikerasin.

Yap, Anda berhasil membentuk suasana, panitia! Tapi sayangnya itu tidak berhasil bagi saya, saya masih bisa berpikir saat itu, masih bisa mencermati suasana disekitar saya, dan memberi penilaian (nanti saya sebutkan). Dan setelah suasana tangis-tangisan peserta dan teriakan trainer tadi, suasana kembali normal. Materi dilanjutkan, daaaaannn… Kembali ke suasana tangis-tangisan yang saya jelaskan diatas.

Pada dasarnya yang saya tangkap adalah, ESQ memberi materi kepada peserta, kemudian, diarahkan pada pensuasanaan "tangisan". Porsinya? Kira-kira 30% materi, dan 70% pensuasanaan.

Sebelumnya, saya berpikir kalau hal seperti ini hanya akan terjadi di hari pertama (dari tiga hari). Namun ternyata selalu berulang-ulang di setiap hari pelatihan dengan skenario yang sama! Yang membedakan mungkin hanya materinya saja.

Saya sangat menikmati materinya, saya merasa itu adalah cara pandang baru terhadap hidup, dan bagaimana cara menikapinya. Namun yang saya tidak sukai adalah… KENAPA HARUS DENGAN TERIAKAN TRAINER DAN TANGISAN PESERTA?? WHAAAAAT THEEEEEEEE FUUUUCCCCKKK?!?!?!

Sebelumnya, perlu saya informasikan, saya adalah mahasiswa jurusan arsitektur yang belajar tentang pensuasanaan ruang. Saya paham dengan dampak psikologis pada manusia jika kita memainkan pencahayaan dan suara. Terlebih lagi, saya adalah ketua organisasi kemahasiswaan yang aktif di bidang kealaman—saya sangat paham cara-cara permainan grafik emosi terhadap orang lain karena saya sering melakukan itu itu pelatihan anggota baru. Bagimana cara memberikan pressure dengan menaikkan intonasi suara dan pengkondisian buatan untuk mendorong mereka mengeluarkan sifat-sifat asli dan emosi mereka.

Saya hanya menikmati 30% dari keseluruhan trainingnya. Sisanya menurut saya konyol.

Karena itu, saat ESQ melakukan hal yang sama ke saya… Saya sama sekali tidak terpengaruh. Saya tidak bilang kalau tangisan tobat peserta-peserta lain tidak baik. Baik, kok, asal memang mengarah ke perbuatan yang lebih baik setelah itu. Saya juga membaca dampak ESQ ke sebagian besar pesertanya, memang OK. Jadi rajin sholat, jujur, dan lain-lain. Saya juga baca testimoni-testimoni positif dari perusahaan-perusahaan yang mengikut sertakan karyawannya pada ESQ Training.

Sebenarnya, selagi itu berdampak positif sih, saya ga terlalu musingin. Tapi, metode yang dipakai ESQ Training sama sekali tidak mempan bagi saya. Saya hanya menikmati 30% dari keseluruhan trainingnya. Sisanya menurut saya konyol.

Apakah saya disebut tidak bertobat, ketika saya tidak meneteskan air mata di ESQ Training? Kalau begitu, akan saya beritahu pendapat saya tentang tobat, atau iman itu sendiri:

Bukan hanya di ruangan nyaman ber-AC, tapi juga di panas terik jalanan kota.
Bukan hanya dengan teriakan trainer, tapi juga di tengah kemacetan jalan dan klakson mobil-mobil yang tidak sabaran.
Bukan hanya ditengah-tengah peserta yang menangis tobat, tapi juga ditengah-tengah orang non-muslim yang berdoa dengan caranya masing-masing.
Semoga iman yang didapat bisa bertahan dalam kondisi apapun.

Wassalam.

Gambar: Suasana pelatihan bersama (sepertinya) Ary Ginanjar Agustian, dari blog Training ESQ. Sampul buku ESQ didapat dari Kupasrah @ Blogspot.

«
»

55 tanggapan untuk "Kecewa ESQ"

  • mungkin agak sedikit OOT ya…
    saya memang tidak pernah ikut ESQ. terutama karena saya miskin dan tidak bekerja di perusahaan yang dengan murah hati mengirimkan staffnya ikutan training ini.
    Mungkin pengalaman pacar saya bisa jadi perbandingan. setelah mengikuti ESQ, terpaksa, karena diwajibkan oleh perusahaan. dia bertanya-tanya, "aku gak ngerti kenapa yang lain pada nangis-nangis di acara ini. Apa yang harus ditangisi?"
    Dan saya juga melihat tidak ada perubahan spiritual setelah ikutan ini. pertamanya saya kira karena dia tidak serius.
    tapi setelah membaca pengalaman di sini, saya jadi mengerti…

  • @ itikkecil

    Deskripsi di situ sih mirip dengan pesantren kilat biasa. Yang ini pernah saya ikuti, diselenggarakan oleh sekolah. Nangis gak, tapi memang ada tergetar (dipikir-pikir, pengkondisian memang). Penulis kawan saya itu termasuk yang gak tergetar. Gak perlulah menangis waktu dibisikkan skenario bapak-ibu kita meninggal, kata kawan yang lain. Ada benarnya.

    Nah yang bikin agak penasaran… Ikutan gituan mahal ya Mbak? Berapaan sih? :P Kalau terjangkau kok jadi pengen. Dilihat dari komen pacar Mbak kayaknya ada gambarannya, tapi mungkin perlu ikut sendiri.

  • Kuliah perdana program pasca di kampus saya diisi oleh ceramah Pak Ary Ginanjar, dengan suasana khas ESQ seperti di atas tentu saja, walau tidak 100 persen (prasangka saya, karena ini bukan training berbayar, hanya kuliah perdana gratis). Yang saya tangkap sih, memang strategi dan gaya 'mengajar' a la ESQ memang tidak selalu cocok dengan gaya belajar setiap 'siswa'. Ini sama lah seperti selera film/sinetron; ada yang tersentuh ketika Jack tenggelam di kedalaman Atlantik, sementara yang lain terharu biru melihat Amira dipenjara, dan yang lain lagi justru mewek melihat si Pitung tewas ditembak Belanda.

    Sisi afektif dan unsur 'conscience' yang disentuh oleh ESQ, memang tak mungkin bisa memuaskan setiap peserta, karena pemelajar punya 'learning style' dan tingkat skeptisisme yang berbeda-beda pula. Dalam ilmu pendidikan pun kerap disebutkan bahwa tidak ada metode pengajaran yang benar-benar efektif bagi 100% siswa.

    Dan kalau penulis merasa kecewa dengan training ESQ, sedikit bocoran, Pak Ari pun pernah merasa 'kecewa' dengan peserta-nya loh…

  • Jika boleh hamba sarankan kepada duli paduka Bapak Guru, janganlah diikuti segala training begitu. Selain bid'ah, syubhat, adalah konyol kiranya untuk membuat diri merenungi kehidupan diri sendiri mesti dengan pengondisian dari orang lain yang belum tentu juga beres hidupnya.

    ESQ semacam kisah teman Bapak Guru itu hamba pernah nimbrung. Dan sukses nggak datang-datang lagi setelah pertemuan pertama. Hamba teringat malam-malam renungan suci sejak jaman hamba sekolah sampai jadi mahasiswa: seremoni yang selalu hamba tertawakan, karena yang merasa sudah melewati fase hidup yang salah dan sudah ihdinassiratalmustaqim, mengupayakan setengah pingsan cemana cara yang lain merenung-menangis macam orang kemasukan hantu tujuh kuala.

    Elok duli paduka Bapak Guru ikut training silat atau karate saja, jadi pabila kelak ada yang membujuk-paksa Bapak Guru ikut acara menangis-nangis, yang membujuk itu Bapak Guru bikin menangis jika perlu.

    Wallahu'alam bissawab.

  • (Agak aneh juga menanggapi komentar dari tulisan orang, apa mungkin perlu disummon penulis aslinya?)

    @ Amd

    Kayaknya begitu. :D Tentu program ini banyak jasanya—dan sebagian besar peserta saya kira tidak "mau uang [mereka] kembali." Tapi menyorot yang kecewa harusnya ada baiknya juga.

    BTW, apa materi ceramah AGA? Dan rasa "kecewa"-nya seperti apa kalau boleh tahu?

    @ Alex©

    Ini juga menarik, soal apa ESQ bid'ah, sesat, syubhat dan sebangsanya. Yang réwél kebetulan orang Malaysia. :P Ada nemu kat sini. :P Masbro kayaknya lebih ahli. Macam mana dia punya pasal?

    Tapi sejujurnya kalau dibayarkan (yaitu: oleh bos-bos) tak keberatanlah saya ikut ESQ. Ada penasaran juga. Walau lebih baik barangkali berkarate.

  • Wait…

    "If you think training is expensive, think about the cost of ignorance"

    *LoL*
    *eh, apa saya musti nangis-nangis saja ya, lantaran fakir™ dan satu kali pun tiada pernah ikut trening-trening™ iksklusip model begitu?

    Kalau saya——sekedar pamer sharing——paling masygul dan prihatin™ itu kalau terbangun saat tahrim oleh alarm HP, tapi justru kesempatan bangun tersebut digunakan untuk mematikan alarm yang memekakkan telinga, dan kembali ambruk-tiarap di bawah selimut. Ketika bangun tahu-tahu matahari sudah meninggi. *masamasajahiliyah[dot]com*

    *sigh*
    *tersedu-sedu™*

  • Ada satu lagi yang terlupa.

    Sebetulnya, saya ada semacam kepenasaranan pribadi dengan training-training yang konon "wah" dan berdampak super-duper-ultra-positif-eskalatif terhadap para alumnusnya seperti ESQ ini, yakni, kenapa jika "isi" dan metodenya urgen untuk diketahui umat™—dan konon orientasinya semata dakwah—kenapa akses untuk orang-orang awam dan tidak mampu—yang secara logika lebih membutuhkan "pencerahan" ala ESQ—malah nyaris tidak ada sama sekali?

    Saya pernah mendapat brosur training pelatihan mirip-mirip ESQ ini di Bandung, skala lingkupnya lokal (hanya Bandung), dan saya melihat harga yang fantastis, 2,5 – 3 juta perak per kepala—cukup untuk membeli 2-3 biji Nex*an dengan sisa yang cukup untuk membeli satu set tafsir al-Mishbah.

    Intinya, mewakili kaum proletar, saya prihatin™ dan masygul™—termasuk setelah membaca testimoni teman Bung Guru.

  • nganu…saya malah jadi inget sama pengalaman 2 orang begundal yang notabene adalah oknum teman saya sewaktu mereka diajakin ikutan esq.

    (kalimat di bawah ini tentunya menggunakan bahasa jawa dgn slank jokja. tapi ya saya terjemahin aja artinya ketimbang pada ndak tau)

    "crut, yg lainnya pada nangis kok kita berdua biasa-biasa aja ya? apa kita ini memang bajingan nggak ketulungan?" tanya salah satu oknum tersebut pada temannya sambil sibuk celingak-celinguk nontonin peserta lain yg nangis sampe nunduk-nunduk.

    mungkin mereka berdua berusaha nyari teman senasib. nyari peserta lain yg kebetulan se"bajingan" mereka

    :lol:

  • Bapak Guru yang baik,
    kalau bapak punya uang 2 juta yang bisa dipergunakan. silakan mendaftar langsung ke website ESQ165
    tapi sepertinya ada paket-paket lain yang mungkin lebih murah.
    kalau saya sih, duit 2 juta mending buat nambahin beli hp android *jangan ditiru*

  • @ Pak Presiden

    Saya baru tahu itu harga persisnya sampai dua-tiga juta. Memangnya kira-kira apa yang perlu dikeluarkan penyelenggara untuk mengedukasi? Berdasarkan testimoni sih gak banyak, lagipula fasilitas dipakai beramai-ramai, jadi kaget juga sampai segitu hitungannya.

    Boleh agaknya kita buka usaha ESQ versi kaum proletar? :P Sampeyan yang khutbah dan mengaji, saya pentang-pentung dan suruh sujud. Pegimana? Balsem buat benjut disediakan. Mutu jauh berkurang, tapi harga bersaing.

    @ setan belang, eh, setan tampan

    *ngakak*

    Boleh itu dijadikan tulisan tamu di blog Masbro. :P

    @ itikkecil

    Ya, saya baru tersadar ongkosnya mencapai angka segitu. Tadi saya kira kisaran sepuluh-dua belas ribu. *halah* Mohon maaf. Saya ikut kalau dibayarkan bos-bos saja.

  • "Untuk sebuah taubat, haruskah…bayar?" :D

  • Baca ini bikin pengen rame-rame sama temen ikut ESQ :D

  • @ Mihael Ellinsworth

    Ya gak juga,

    1) Naik haji juga bayar.
    2) Tidak harus.
    3) Jualan utamanya self-help, bukan berarti tobat.

    @ Herman Saksono

    Hahaha, iya, pikiran bandelnya begitu. Masalahnya ini gak murah ternyata.

  • Intinya sih, ESQ itu kan training kepemimpinan (dalam arti sempit maupun luas), tapi kalau akhirnya jadi berkesan 'tobat instan' atau malah 'Islamisasi', well, mungkin karena cara penyampaiannya itu memang ada yang kelewatan, deh.

    Isi kuliahnya? Tentang menjadi manusia yang 'cendekia, mandiri, dan bernurani' – Motto UNY, hohoho… Beliau juga bercerita asal-usul awal mendirikan ESQ, dari nol, dari bangkrut, hingga sebesar sekarang, tipikal kisah sukses para motivator lah. Saya sebisa mungkin lebih fokus ke isi, mumpung ceramah kali ini beliaunya tidak pake jerit-jerit…

    Yang paling menarik perhatian saya, mungkin adalah tantangan untuk membalik 'Hierarki Maslow'. Menjadikan transendensi diri sebagai kebutuhan utama. Terkesan utopis, tapi sepertinya kalau diresapi dengan cara tertentu, ya masuk juga sih… kita bisa jadi manusiasuperb!!!

    Mengenai kekecewaan, ini dia, yang bikin dia kecewa adalah para bos di salah satu BUMN penyedia setrum yang malah bersikap makin arogan usai ikut training ini, merasa sudah tobat dan masuk surga saja lagaknya… Tak heran jikalau pelayanan di BUMN tersebut demikian terkenal parahnya.

  • Boleh agaknya kita buka usaha ESQ versi kaum proletar? :P Sampeyan yang khutbah dan mengaji, saya pentang-pentung dan suruh sujud. Pegimana? Balsem buat benjut disediakan. Mutu jauh berkurang, tapi harga bersaing.

    *ngakak tersedak-sedak*

    Melihat lapangan kerja sekarang yang makin sempit & kompetitif, ide Bung ini—entah sekedar guyon ataukah beneran—sungguhlah profitable dan patut dipertimbangkan™ :-j

    Eh, eniwe, itu untuk training mo-del ESQ ya, bukan ESQ itu sendiri, soalnya sekarang di mana-mana sudah menjamur training-training a la ESQ—mirip mirip fenonema bimbel lah, tumbuh satu tumbuh seribu (baca: latah). Jadi jika untuk training yang ndompleng™ model ESQ saja sudah seharga segitu, apatah lagi ESQ, tentu harganya bisa lebih tinggi dari itu, betul™? *tapi entah juga sih*

    Ps: Kalau saya ada yang mbayarin, saya bakal senang hati sekali ikut, sungguh, ikhlas. Tidak dapat pencerahan di ESQ pun ya syukur-syukur dapat yang "bening-bening", di sana pasti banyak akhwat bohay binti semlohay dong? iya dong?

    *kembali puter asma'ul husna-nya Pak Ary Hermawan Ginandjar Agustian*

  • @ Amd

    Nah, jadi praktiknya bagaimana, apa memang unsur agamanya sekental itu? Kemarik Google sedikit ada yang bilang baik diikuti individu dari kepercayaan apapun. Tapi kok testimoninya ada pembuktian kebenaran Al-Qur'an dan seterusnya. Apa itu opsional?

    Isi kuliahnya

    Yaaa… Beliau juga di kesempatan itu memang dibayar untuk ngomong materi-materi motivator, ya. Kayaknya. Masak disuruh ESQ gratisan.

    para bos di salah satu BUMN

    *ngakak tersedak-sedak*™

    *pasang topi sinis*

    Adapun saya ragu bos-bos itu satu-satunya yang "tidak lulus". u_u

    @ Pak Presiden

    Nah para pendompleng itu harganya berapa pula? Ini menyulitkan—orang mau murah, tapi jangan terlalu murah, nanti terkesan kelewat murahan. Nasi goreng premium 30 ribu itu mahal, tapi kesannya kelas wahid. 3-5 ribu murah, tapi kalau 100 perak saya ragu ada bahan-bahan mengerikan di dalamnya.

    *terpekur*

    di sana pasti banyak akhwat bohay binti semlohay dong?

    Banyak akhwat galau. Apalagi yang bayar sendiri. Self-help itu makanan orang galau.

  • Self-help itu makanan orang galau.

    protes!

    saya banyak bukubuku selfhelp…

    dengan alasan yang boleh jadi agak mirip dengan citacita pak presiden: membuayai mendekati akhwat-akhwat manis yang lagi galau

  • @ setanmipaselatan

    Berarti saya ralat: makanan orang galau, atau orang yang hendak membuayai mendekati akhwat-akhwat manis yang lagi galau.

  • itu.. ada satu nama yg lolos sensor (paragraf 3 bagian isi). Atau memang sengaja?

    Anak baru di kampus saya (mulai 2007 kalo ga salah) diberi pelatihan ESQ sebagai pengganti ospek kampus. Mungkin karena makin "murahan", dalam artian kebanyakan peserta jadinya ya tidak berkesan bagi beberapa peserta yang saya tanyai.

    Oh yang paling berkesan dari para alumni ESQ adalah panggilan ayah-bunda dan perkumpulan aluninya. Sepertinya lumayan, memperlancar urusan dengan para dosen (yang kebetulan sesama alumni ESQ juga) *ditulis dengan nada sirik berat*

  • @ Takodok!

    Eeeee… Makasih mengingatkan. :D

    BTW, jadi ada sugestinya? Jumlah duit yang dikeluarkan membuat orang secara bawah sadar meyakinkan diri kalau pelatihannya berhasil?

  • Loh?? Judul postingannya berubah e

    semestinya persetan saja soal urusan kaidah baku :-"

    *kecewa banalitas* :-"

  • @ Pak Presiden™

    Biarin.

  • Eeeehh!! Biarin™ itu trade-mark-nya Mas Ary Gentole!

    Bayar royalti :-"

  • @ Pak Presiden™

    Biarkan.

  • Saya salah satu orang yang pernah ikut pelatihan ESQ… Awal-awalnya saya masih mencoba merenungkan materi yang disampaikan (terutama bagian tentang menghormati orang tua), tetapi di hari kedua dan ketiga udah sepenuhnya kebal. -_- Frekuensi disuruh "SUJUUUUDDD!!! MOHON AMPUN PADA ALLAH SWT" terlalu sering kayaknya. Saya jadi kayak bakteri yang udah baal sama antibiotik.

    Sebenarnya lucu juga, sih, (atau nggak ya?), dibilangnya sih cocok untuk semua umat, tetapi saya jamin sebagian besar materinya Islam-sentris, kok. Tentang bagaimana Nabi Muhammad itu sosok paling influensial, tentang bagaimana fenomena di alam semesta membuktikan sejumlah ayat Qur'an lah, bahkan teriakannya ("Mohon ampun kepada ALLAH") kayaknya sudah cukup untuk membuat beberapa teman non-Muslim saya sungkan ikut.

    Itu belum memperhitungkan harga jutaannya, ya.

    Tapi setidaknya makanannya lumayan enak :p Tapi nggak kuat AC-nya, kegedean banget.

  • @ Pak Guru

    Biarkan.

    =))

    .
    .
    .

    @ AMNDK
    *nah, ada testimoni baru*

    Awal-awalnya saya masih mencoba merenungkan materi yang disampaikan (terutama bagian tentang menghormati orang tua), tetapi di hari kedua dan ketiga udah sepenuhnya kebal. -_- Frekuensi disuruh “SUJUUUUDDD!!! MOHON AMPUN PADA ALLAH SWT” terlalu sering kayaknya. Saya jadi kayak bakteri yang udah baal sama antibiotik.

    Hoo… jadi harga berjuta-juta itu sekedar untuk brush-up bagaimana menghormat orang tua dan sujud-sujud ya. Hm. *catet*——*ini bisa jadi bahan informasi penting sebelum ESQ versi proletar™ nanti launching*

    [...] bahkan teriakannya ("Mohon ampun pada ALLAH!")
    [...] Tapi nggak kuat AC-nya, kegedean banget.

    … :|
    *kapan-kapan saya juga eksperimen ah, efek semodel begitu; ruangan gelap, sound-system stereo dengan rekaman suara menggelegar, selusin kipas angin puter kenceng-kenceng… nah, apa lagi?*

    Tapi setidaknya makanannya lumayan enak :p

    Nha, berita seperti ini yang saya demen. *penikmat kuliner*
    Arr, baiknya mungkin dibikin saja kali ya, pros & cons-nya selama ikut training ESQ oleh mereka yang pernah ikut.

  • @ AMNDK

    (Aih, satu lagi yang tercecer dari blogroll. Ditambahkan boleh toh?)

    Jadi memang keluhannya lebih ke cara penggiringannya yang berlebihan, ya? Semua testimoni, apabila protes, protesnya ke arah situ semua. Bayangan saya juga suasananya seperti cult, atau setidaknya megagereja. Saya kurang pas yang seperti itu, mungkin sekadar selera.

    Mungkin memang dikelompokkan berdasarkan kepercayaan? Tapi yang minoritas diletakkan di mana? Apa ada program sendiri (mahal), tidak disertakan ke acara yang terlalu Islamsentris (mestinya dikorting), atau dibaurkan (kurang etis)? Atau ya walau secara teori untuk semua kalangan, praktiknya yang ikut homogen saja.

    @ Pak Presiden™

    Ini untuk beksaun. Gelapkan ruangan, khutbahkan perkara neraka. *kipas-kipas*

    httpv://www.youtube.com/watch?v=hIR1KfKXH6s

    Nha, berita seperti ini yang saya demen. *penikmat kuliner*

    Mengingat tiket masuknya, coba kau pikir harga makanan itu… *elus-elus dagu*

  • @ Pak Guru

    Ha, tadinya cuma mau ambil Halloween Theme, bolehlah ini pun diuji.
    "It Took The Night To Believe". *pas bener judulnya*

    Ok, trim's, sudah saya downl— unduh, bisa dicoba lah nanti malam insya Allah. Sekalian ngetes gadget baru. B-"

    .
    .
    .

    Mengingat tiket masuknya, coba kau pikir harga makanan itu… *elus-elus dagu*

    Eh, saya kira model prasmanan, itu. Jadi… kali saja bisa sikat seenak jidat, begitu. Jadi tak akan terlalu ada keluhan lah, agaknya. Apalagi kalau menimbang besarnya probabilitas ketemu bidadari-bidadari dunia™ di sana, 2 juta apa sih. *sok kaya*

  • Nyumbang link yang udah bahas tentang ESQ, disini disebutkan kalau ESQ itu mirip ajaran New Age Movement (gak tahu nich istilah apa :D)

    http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150392886545385

  • Sepertinya, memang targetnya adalah bagaimana membuat agar peserta bisa menangis. Jadi ukuran keberhasilan trainer ESQ ala ari ginanyar ini memang seperti itu. Sudah, beres. Kalau yg membawakan materinya ikhlas atau tidak… ya mbuh. …saya kebetulan dipaksa ikut oleh kantor, dan sungguh tidak ada kesan sama sekali kecuali pemborosan utk suatu yang ……….

  • Berasa kaya jurit malam di sekolah jaman dulu yak?

  • saya besar dan berpengalaman di organisasi kaderisasi dan sering menggunakan konsep training yang ada di ESQ. yang saya anehkan napa dia mudah banget mematenkan konsep itu, padahal jauh sebelum dari ESQ konsep pelatihan, brain storming, psikologi dll udah dipake di dunia pendidikan. tobat sudah jadi privatisasi ESQ

  • @ Pak Presiden™

    Prasmanan pun kalau ongkosnya tujuh dijit, ngapain? Kecuali makanannya sungguh berkwaliteit, tapi ongkos yang kau bayarkan itu perginya 'kan bukan ke hidangan.

    @ Suluh

    Memang rasanya ada kemiripan. Tapi kurang tahu apa ESQ terinspirasi dari sana. Terima kasih tautannya.

    @ Asoy Ginanjoy

    Betul. Rasanya itu gak terlalu sinis, kok. Memang "bikin peserta menangis" itu tujuan yang realistis; memang banal kalau kita sinis, tapi 'kan tetap bermakna pesertanya tersentuh.

    Pemborosan? Masnya yang bayar? Atau pemborosan di pihak kantor?

    Walau tentu kalau kita membayangkan alumni ESQ yang hidupnya sudah dicerahkan, tidak ada salahnya juga. Toh menangis memang sudah jadi simbol bertobat.

    @ Ladeva

    Saya belum pernah ikutan, Mbak. :D Kesan saya sih seperti itu. Tentunya dengan peralatan yang lebih memadai.

    @ guru rusydi

    Wah. Memangnya dipatenkan, ya? Apanya yang dipatenkan kalau boleh tahu? Kalau sekadar nama bolehlah, tapi metode-metodenya bukannya terlalu umum?

  • Ladeva:
    Berasa kaya jurit malam di sekolah jaman dulu yak?

    +1 banget T___T

    Sialnya yang beginian masuk di kampus saya dari Jamaah Muslim Fakultas, dan masuk pula ke mata kuliah agama (yang mana merupakan mata kuliah wajib universitas).

    Yang jelek hanya satu, karena kebetulan saya bukan tipe yang mudah tergetar, mengalirlah itu julukan "tidak punya hati" atau yang semacamnya.

  • Wah, ketika airmata jadi barometer utama. Hm… kasian yang susah buat meneteskan airmata ya?

    Saya padahal sempat mau ikutan, Eh, keburu keluar fatwa tentang menyimpangnya ESQ. Ya weslah, ndak jadi. Hahah

  • Wah baru liat blog ini, jadi aware deh.
    rencananya besok 2 hari saya akan mengikuti training ESQ ini, wajib dari kantor.
    Doakan semoga saya dan kawan2 selamat ya..

  • Saya ikut sekitar empat tahun yang lalu, kuliah perdana institut. Saya menangis? Iya, saya akui sisi sensitif saya. Bermanfaat? Sedikit berguna, tapi tidak bertahan lama. Instan. Easy come easy go. Komersialisasi? Sempat terpikir begitu. Kebutuhan spiritual? Iya, sepertinya itu menjadi komoditas di kehidupan modern. Bid'ah dan sesat? Hm.. biarkan ahli agama yang memvonisnya. Mahal? Banget.

    *sekarang jadi pengin baca bukunya lagi, hehe.. mungkin ada sedikit kebaikan yang bisa diambil, tapi yang jelas tidak menelan utuh seluruhnya*

  • Saya ikut kelas 1 SMA, dua kali, masa labil-labilnya. Sempat berubah beberapa minggu tapi kemudian menyadari bahwa perubahan itu jadi enggak saya banget. Yah, namanya remaja.
    Kenapa juga dulu saya terpengaruh? Mungkin suasananya walau saya enggak ingat saya pernah nangis. Sempat bengong sih ingat. Bagian paling saya ingat mungkin adalah soal adanya klaim, "ESQ tidak eksklusif untuk satu agama." (entah masih ada atau tidak). Jadi saya sempat mengekspektasi bakalan sekuler banget ini, atau setidaknya pas udah muncul satu-dua ayat Qur'an bakalan ada juga kutipan-kutipan dari Bibel atau Tipitaka dan Veda sekalian. Weton, Babad Tanah Jawi, apa lah. *plak* Tapi rupanya yah, saya cuma nemu ayat Qur'an aja tuh :D Saya ingat kecewa soal ini tapi kenapa saya masih bisa terpengaruh buat rajin sholat selama beberapa minggu ya? Haruskah saya bersyukur, harus saya ikut lagi biar rajin sholat lagi? Lebih merasa baik sekarang sih. Ah, ini subjektifnya, curhatnya.

    Tapi ya saya jadi lebih sepakat aja lah kalau ada yang merasa ESQ ini lebih cocok disebut pesantren kilat for the elite, tapi enggak perlu pakai kopiah, baju gamis, sarung, dan atribut-atribut eksklusif satu agama tertentu lainnya.

    Sekarang saya udah kuliah, udah lebih tercerahkan, atau udah lebih kafir. Sempat mengira ESQ ini sudah turun pamornya tapi ternyata beberapa bulan lalu sempat muncul di kampus saya yang "Green Campus". Saya kira ini ESQ sudah turun pamor kalah sama MTGW tapi yah itu ternyata masih ada aja ya.. :p

  • saya belum pernah ikutan ESQ, tapi klo yang sejenis kyk gitu sih udah -umat terbaik hidup berkah (UTHB). Setelah mengikutinya, bagi saya sih, sebenarnya pelatihan2 kyk gitu buat menyemangati aja (dengan metode yang dahsyat dan wah tentu saja) dalam bidang agama maupun lainnya (misal bisnis, kepribadian dll). Rasanya dimanapun dan semahal apapun pelatihan kyk gitu kebanyakan berkisar di teori aja (apalagi yang kolosal sampai ribuan, mana bisa benar2 aplikatif) dan para trainer itu juga ngasih teori2 doang (apalagi yang program gratisan semacam UTHB. yah, program eksklusif juga ada sih -sampai tahap pendampingan agar bisa sampai sukses.

    entah klo ESQ apakah ada yang semacam itu jg atau tidak. Tapi, menurut saya sih ya gitu2 aja. Kolosal dan mahal banget sampai jutaan.

  • di kantor saya pernah ada training ESQ untuk para pejabat (krn saya "staff only" jadi tidak dapet jatah), waktu saya tanya teman saya yang ikut bilang bahwa training itu bagus dan mempengaruhi kehidupan mereka, tetapi 2 minggu kemudian pendapatnya berubah, mereka berpendapat untuk orang yang sudah "tua", training itu hanya "mempan" selama 2 minggu setelah itu kembali lagi ke karakter aslinya.

    btw, bagaimana untuk yang usianya masih relatif muda (teen), apakah mungkin lebih mudah memasukkan dan mempengaruhi pikiran mereka sehingga bisa menjadi pribadi yang lebih baik (tentu tidak semua peserta akan bisa berubah)?

  • Trainner ESQ membuat mantan istri dan anaknya menderita

    Assalammualaikum WRB

    Penderitaan seorang wanita bersama anakny yg disebabkan oleh seorang Trainer ESQ bernama Singgih Kartika Sekti.

    Sudah habis kata2 untuk menceritakan sikap dan perbuatan Singgih yang amat sangat tidak mencerminkan seorang Trainer ESQ, tapi justru lebih mencerminkan seorang manusia yang nol pengetahuan Agama Islam dan nol sopan santun dan tata krama. Apabila ingin penjelasan lebih lanjut silahkan bertanya langsung ke mantan Istri Singgih yang selama menikah sampai melahirkan anak tidak pernah mendapatkan hak berupa moril dan materiil. Contoh ketika masih menikah: sewa kontrakan, pembelian semua alat elektronik, bahkan biaya makan sehari2 dibebankan kpd istri, sampai membeli jam tangan Swatch, bahkan rencana membeli rumah pun uang istriny. Sampai cincin pernikahan pun Singgih jual dengan alasan yg selalu ada. Biaya kontrol kandungan, biaya selamatan, biaya saat melahirkan, bahkan saat istri pulang dari rumah sakit setelah istri melahirkan Singgih tdk bisa menjemput dengan alasan yg selalu ada, biaya membeli semua kebutuhan bayi mulai dari popok, pakaian, selimut, baju, dan semuany istriny yang mengeluarkan uangny, biaya aqiqah anak, sampai ongkos untuk orang tua Singgih pulang dr rumah Istri saat anak di aqiqah pun uang istri. Jadi istri dalam keadaan hamil bekerja dan seperti sapi perahan Singgih. Tinggal di rumah mertua tapi tidak punya sopan santun. Tidak ada niat baik untuk: membuat akta anak, membuat KK bahkan KTP Singgih pun dibuat oleh orang tua istri, setelah orang tua Istri kesal melihat kelakuan Singgih yang apatis.
    Masih banyak cerita2 lainny yang seperti melihat Sinetron Indonesia dimana Istri yang amat sangat menderita karena suaminya.
    Bahkan sampai istri menggugat cerai karena penderitaan ini, Alhamdulillah Allah SWT masih memberikan kesehatan fisik terutama jiwa kepada mantan istri Singgih sampai hari ini.
    Kewajiban menafkahkan anak yang di dalam Alqur'an tertulis tdk dengan ikhlas diberikan Singgih setelah bercerai tetapi harus selalu di ingatkan oleh mantan istri ny. Astaghfirullah. Jumlahnya pun tdk cukup untuk membeli susu per bulan. Uang untuk makan anakny, membeli pakaian, membeli mainan, mantan istri yang mengeluarkan. Tagihan dari Indovison 1 bln dan biaya untuk mencopot krn langganan belum 1 tahun dibayar Singgih itupun setelah berkali2 di email ke ESQ baru dibayar oleh Singgih. Terakhir ada 2 orang penagih hutang dari Kartu Kredit BCA datang ke rumah mantan istri mencari Singgih untuk menagih hutang kartu kreditny yang tidak kunjung dibayar. Bahkan Singgih sudah membuat anakny sakit parah sampai muntah dan diare setelah dari siang Singgih dan istri baruny membawa anakny berenang, manusia bernama Singgih, memberi makan anak usia 2 tahun 5 bulan mie pedas pada siang hari spontan anak pintar ini menolak karena kepedesan, bahkan sampai sore hari anak dibawah umur ini tidak diberi makan apapun, minum susu hanya 1 kotak itupun susu yg dibawa dr rumah mantan Istriny, anak dibawah umur ini dipulangkan setelah Isya. Bayangkan, anak kecil dibawa berenang, dalam keadaan perut kosong, bahkan meminum air yg penuh bakteri dan virus, dipulangkan dalam keadaan perut kosong, dengan bibir pecah dan luka, di pulangkan sudah tidur. Luar biasa Singgih dan Istri ny membuat anakny sakit. Paginy, diare berupa air sampai 4 kali dengan bau busuk yg disebabkan bakteri, muntah berkali2 saat diisi susu dan makanan. Perut anak dibawah umur yang hanya diisi makanan saat pagi di rmh mantan istri, jadi dari sekitar jam 10 terakhir minum susu sampai jam 20 malam sekitar 10 jam anak dibawah umur tidak diberikan makan apapun oleh Singgih, hanya siang itupun Mie yang pedas dan anak pintar ini menolak karena kepedesan. 10 jam perutny kosong sehingga proses metabolisme tubuh terganggu bahkan produksi asam lambung meningkat tinggi, disertai bakteri yang ada di dalam usus dan disertai energi yang keluar dengan mengambil bahan bakar yang disimpan tubuh, membuat anak ini pagi hariny menderita sakit yang luar biasa. Selama dirawat oleh Mantan Istri dan keluargany anak ini tdk pernah menderita sakit parah apalagi sampai muntah2, diare, demam dan tdk mau makan. 4 hari sampai hari ini anak ini harus menderita karena kecerobohan Singgih. 2 kali mantan Istriny membawa berobat ke IGD RS internasional dan ke Dr Konsulen Spesialis Anak. Tapi sampai hari ini masih muntah, merintih perutnya sakit, menangis, sampai ketakutan makan karena pasti muntah dan mulutny tdk enak shg tidak mau makan, berat badan sampai turun, keceriaan sudah hilang dari dirinya. Selamat Singgih Kartika Sakti, anda sudah melengkapi penderitaan mantan istri anda, keluarga mantan istri anda dan terutama membuat penderitaan sempurna anak anda. Insyaallah suatu hari nanti, anda akan merasakan penderitaan yang sudah anda perbuat ini. Amin.
    Kepada orang yang membaca email dan surat ini bisa menarik kesimpulan siapa Singgih sebenarnya.

    Wassalam.
    Kami yang amat menderita menuntut keadilan.

  • ^
    1) Sumber?

    2) Ini benar Singgih Kartika Sakti yang Anda maksud? Kok berbeda dari klaim Anda. Siapa Anda?

  • Teriak-teriak trainer, wakakaka. Mengingatkan saya kepada calon mertua ngga jadi. Sedih juga mengetahui diri saya sebagai orang yang dingin, diteriak2in motivasi masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Saya sebenernya sih ingin aja, biar jadi rajin, cukup ikut seminar motivasi, langsung beres jadi. Tapi, apa boleh buat, sifat prokastinasi dasyat melandai saya.

    Hidup menyebalkan, kecuali banyak uang :D

  • Saya dulu pernah ikut ESQ pas awal-awal masuk perguruan tinggi. Katanya sih wajib buat mahasiswa baru. Pas di dalam, kondisi saya kurang lebih sama kayak yang di postingan: Ga tau kenapa yang lain nangis. Paling-paling saya cuman ngerasa lega aja setelah sempat tidur di acara itu. Perubahan sih buat saya cuman bertahan 1-2 hari, setelah itu I'm back to myself. :mrgreen:

    BTW, di sini emotnya pake standar WP atau apa masbro? Takutnya salah pasang emot :P

  • Tuh kan, emot mrgreen-nya ga keluar :S

  • Maaf numpang komen hehe

    Menurut saya ini hanya masalah sudut pandang kita masing-masing. Kita boleh mengutarakan ketidaksukaan terhadap suatu hal tapi apakah yang tidak kita sukai tsb juga tidak disukai oleh orang lain? Belum tentu.

    Saya terkesan dengan pernyataan saudara Amd yang mengatakan

    "Dan kalau penulis merasa kecewa dengan training ESQ, sedikit bocoran, Pak Ari pun pernah merasa 'kecewa' dengan peserta-nya loh"

    Itu mempertegas bahwa kita jg harus melihat dari sudut pandang yang berbeda dalam menyikapi suatu hal. Saya melihat penulis menyatakan bahwa dia menikmati 30% materi yang menurut dia bagus. Tapi dia lebih memilih untuk menghujat 70% pensuasanaan yang menurut dia tidak bagus dalam tulisannya. Agaknya kurang adil.

    Sekian komentar saya. No offense ya. Hanya berpendapat hehe

  • *belated*

    @ celo

    Sampeyan tidak punya hati!

    @ Usup Supriyadi

    Penyimpangannya itu seperti apa kalau boleh tahu?

    @ Kang Udin

    Saya mau doakan, tapi kayaknya sudah selesai ya prosesnya? :) Semoga bermanfaat.

    @ Arman

    Saya menangis? Iya, saya akui sisi sensitif saya. Bermanfaat? Sedikit berguna, tapi tidak bertahan lama. Instan. Easy come easy go. Komersialisasi? Sempat terpikir begitu. Kebutuhan spiritual? Iya, sepertinya itu menjadi komoditas di kehidupan modern. Bid'ah dan sesat? Hm.. biarkan ahli agama yang memvonisnya. Mahal? Banget.

    Quoted for truth.

    @ LSS

    Kelihatannya memang lebih dibuat untuk yang beragama Islam, unsur kenetralannya itu tidak begitu kentara, jadi boleh jadi kurang kumplitlah kalau ingin mengikuti ESQ sebagai umat Kristiani atau umat yang ingin motivasi bebas nilai agama.

    Macam hendak makan salad (dan bukan ayam) di KFC: menu saladnya cuma satu dan itupun mesti mengawaskan ayamnya. :P

    @ eMina

    Tapi itu 'kan memang ada efeknya Mbak, walaupun plasebo dan mungkin tidak melekat lama. Salahnya memang di biaya, ya. Kalau secara awam kira-kira berapa duit yang sudi dikucurkan buat servis yang semacam ini?

    @ senopati pamungkas

    Mungkin begitu, seperti yang disebut Mas Arman di atas, kalau gampang/cepat menempelnya, kemungkinan gampang/cepat pula khasiatnya memudar. Apa boleh buat.

    Barangkali lebih efektif kalau ditanamkan ke individu-individu yang masih muda. Lebih gampang dibentuk. :) Cuma ongkosnya 'kan premium itu, kurang paslah sama anak muda.

    @ singgih, lambrtz

    Wah betul kata lambrtz, mengarah ke libel ini. Ada sumbernya tidak?

    @ densscessario

    Kalau mau lengket pencerahannya, mesti dengan proses yang lambat dong. :P Pencerahan instan efeknya sebentar. Kecuali satori.

    @ Reinhart

    Ya Bung Pandu, nampaknya kesimpulan demikian paling populer. Tahannya cuma sebentar. Ada ide bikin versi yang lebih efektif? :P

    Saya belum pasang emoticon. Belum ada rencana ke sana. Maap. :D

    @ Sony Andrio

    Setuju dengan komentar Anda. Hehehe, barangkali penulis di atas cuma kecewa karena servisnya tidak sesuai harga yang dia bayar.

  • Sueer…gw juga kecewa ikut ESQ, dan itu juga terpaksa krn disuruh kantor.
    And..suer..gw juga ga nangis pas yg laen nangis, gw kira gw aja yg ga nangis.
    Gw malah dibilang dah mati rasa…
    Gw ga bisa nangis klo mesti dibikin2…lagian dalam sehari2 gw juga udah sering nangis kok tanpa ikutan esq, lagi ada musibah, lagi shalat, taubat, dsb gw pasti nangis…
    So ngapain nangis dibikin2??
    Gw juga yakin kebanyakan peserta dalam suasana terhipnotis, byk banget yg takjub ama esq…and suasana mendukung banget buat kita terhipnotis…ACnya yg super dingin, gelap, musiknya yg 'dalem' banget…yakin itu pasti hipnotis.
    Dan peserta lain yg saat acara nangis bombay…buktinya sampe sekarang blm tobat juga, shalat masih males, zakat masih ke mall aja,alias ga mau zakat…
    Itu sih tgt orangnya…
    Gw juga ga suka teriakan trainer ga nyaman banget, lebih keras dari ospek.
    Yakin deh yg terkagum2 sama esq kena hipnotis kayak uya kuya

  • hehe…

    yuk istigfar dulu.. semoga Allah bisa membuka pintu hati kita semua…

    ESQ itu hanya oksigen, itu toh yg pertama kali dipublish ?

    Sharing sedikit yah…

    1. Anda percaya gak kalo saya bilang, dunia ini semuanya palsu.. tau film the matrix kan ?? ini tuh palsu.. hihihi… dikira anda pinter karena diri anda sendiri ?? hihihihi…. mobil, rumah, pendidikan, nafas, mata, idung, mulut.. itu punya anda ? Subhannallah, tp itu semua semata2 hanyalah kebaikan dari Allah meminjamkannya utk kita… krn takdirnya that's why ESQ came to me, just to show me… semua yang ada di dunia ini palsu, ini hanyalah sementara, waktu di dunia hanyalah seupil detik dari keabadian yaitu AKHIRAT…

    2. Anda percaya gak manusia bisa meninggal ? kalo meninggal mereka ngapain? Manusia is not an immortal, ada kehidupan abadi yg namanya akhirat, ente percaya ? pilih deh kalo gitu… mau surga mau neraka ? …."nah, tau darimana saya bakal masuk neraka, situ tuhan ?" —– saya gak tau kita bakal masuk neraka apa surga, nah… karena kita sama2 gak tau, ada jaminan tuh ciri2 penghuni surga.. semua ada di AL QURAN. ane jd sering2 baca + artinya deh, rasanya kayak baca novel… and I'm really enjoyed :p

    3. saya menangis, karena AL QURAN dibacakan dan di perdengarkan bukti buktinya, bulu kuduk naik, hati menjadi resah… mungkin bisa dibilang… kemanee ajeeee gueee ?? kenapa gw baru tau sekaraaang… bodoh sekalii… hehehe…

    Tidak menyesal tuh ikut ESQ, kenapa menyesal? apalagi ngomongin masalah duit… haduuuuh…. udah dibayarin kantor masih aja ngedumel, niatnya opooo to yooo…. ketemu Allah kok nawar2…

    biar ESQ dibilang aliran sesatpun, ane gak peduli :p wong gak ada pelajaran agamanya tuh… hehehe…

  • esq cuman sarana, sound, slide cuman sarana. Ada yang berhasil ada yang tidak tergantung hidayah allah. Pandangan saya mengenai esq gua ba gi dua ( biar gmpang bukan sok ngajarin ):
    Positif
    1. Menjelaskan kebenaran al qur'an dengan science sehingga kebenarannya tidak dapat disangkal lagi.
    2. Menggunakan suara dan layar supaya bukan hanya dimengerti tapi juga bisa dirasakan.
    Negatif:
    1. Banyak yang dipaksakan tangisan, sujud dll. seharusnya biarkan orang menangis dengan ikhlas tanpa dibuat 2. Bukan cuman kita orang awam, sebagian ulama dari malasya menyatakan hal yang sama.
    Akan tetapi disebalik itu semua esq sangat psitif. Bahwa ada temen2 yang tidak terkesan, itu wajar. Dan yang sya suka temen2 ngk muna, ngk purak2 trkesan.
    wslm

  • Maaf sebelumnya,saya cuma ingin menyampaikan pendapat.

    Saya kurang setuju dengan pendapat penulis kalau menyalahkan porsi substansi tiga puluh persen, dan penyuasanaan tujuh puluh persen. Mengapa? Karena ini memang training emosional bro, bukankah emosi lebih tersentuh dengan suasana daripada dengan materi? Beda lagi kalau ternyata menurut penulis training ESQ ini semacam kuliah yang menyampaikan ilmu untuk masuk di otak saja. Sekali lagi, saya setuju dengan besarnya porsi penyuasanaan, disadari atau tidak oleh pesertanya, karena memang training ini diikuti untuk dihayati dan dirasakan, bukan untuk dipikirkan.

    Mohon maaf jika ada tulisan yang kurang berkenan, tidak ada maksud apa-apa, saya akui saya kurang pandai menulis,hehe,jadi mohon dimaklumi :)

    Terima kasih

  • @ cewek kece

    Mungkin gak sesuai dengan metodenya ESQ. Asal jangan bayar ya gak apa-apa lah Mbak. :P

    @ candra

    :) Oleh si penulis (bukan saya) 'kan yang dipermasalahkan adalah pendekatannya. Menurut beliau, apa-apa yang Mas tuliskan di komentar tersebut, bisa dicapai dengan jalan yang gak semahal dan sepretensius ESQ. Jadi tidak melawan hasilnya, melainkan jalannya.

    @ iswadi

    Saya kurang sepakat dengan pendekatan sains ESQ, yang sejauh tinjauan saya kebanyakan semu dan tak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tapi di luar itu, saya sejalan dengan komentar yang disediakan.

    Pandangan saya, agama sebaiknya mengisi ruang spiritual saja. Sering rawan keliru kalau menyentuh sains.

    @ okkypratama

    Kayaknya dia menyesal karena (1) gak cocok dengan pendekatan emosional dan (2) kebetulan gak tahu bahwa pendekatan yang dipakai berat di sisi emosional. :P

    Mungkin ada baiknya itu diberitahukan sebelumnya.

  • ass. temen2 yg ngk tersentuh dgn training esq wajar krn ngk ada satu metodepun yg 100 persen sesuai untuk semua orang. Tapi secara umum esq bisa merubah seseorang menjadi lebih baik dan ini sudah di surbei oleh sebuah lembaga kredibel. Setiap perusahaan yang sudah mengikuti inhouse training kinerja perusahaan meningkat.

    Saya merasakan hal yang sama, sujud yg dipaksakan airmata yang ngk tulus membuat saya ngk nyaman. Tapi karena secara umum esq bermanfaat untuk mengurangi hal negatif kenakalan dll maka saya dan kita harus dukung esq. ok bro…. mohon komentar
    wslm

  • @Sony Andrio: sependapat dg anda…
    aku udah pernah beberapa kali ikut training dan beberapa diantaranya karena saya jadi seorang ATS( membantu jalannya training)..
    kalau menurut saya sih keberhasilan dari training itu bukan karena menangis atau tidaknya,kalau masalah kecewa semua orang pasti pernah kecewa..kalau metode mungkin itu metode yg digunakan pak ary, apa ada yg salah??
    belum tentu kita bisa membuat metode yg sama, setidaknya hargailah arya orang lain…

    keberhasilan training ini adalah seberapa baik kehidupan sehari-hari kita, dan seberapa bermanfaat kita untuk orang lain…

  • 7 Budi Utama ESQ:
    Jujur
    Tanggung Jawab
    Disiplin
    Kerja Sama
    Adil
    Visioner
    Disiplin

    Ketika Indonesia Emas terwujud, saya berharap orang-orang kita semua bisa merasakan tak terkecuali…

Tinggalkan komentar

Anda boleh mempergunakan HTML dengan atribut-atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote> <cite> <code> <pre> <del> <em> <i> <q> <strike> dan <strong>. Untuk menyisipkan video YouTube, bubuhkan alamat lengkap dengan huruf 'v' sebelum titik dua. (Contohnya: httpv://www.youtube.com/watch?v=oHg5SJYRHA0)