Pencarian

Tentang

Pak Guru (bukan profesi sebenarnya): Menulis, mengeluh, dan terus menggerutu sampai maut menjemput paling lambat seratus tahun lagi.

Selengkapnya »

< Facebook Twitter Google+ Plurk <

Detail tulisan

Penulis:
Terbit: 08/02/12 @ 16:30
Tautan pendek: Tautan
Tanggapan: 21 tanggapan
Kategori: Budaya, Selebrasi Diri
Tag: , , , , , ,
Metadata lain: Thumbnail
Print: Print
Sebarluaskan:

Pariwara

Kalau Anda nekat, kebetulan banyak ruang kosong mubazir di sini yang bisa disewakan. Silakan hubungi pengelola untuk bernegosiasi.

BudayaSelebrasi Diri

(Junk) Food for Thought

Ada kebijaksanaan dan ada "kebijaksanaan"—yang terakhir ini cetek dan langsung layu ketika substansinya kita periksa secara serius. Bahasa Inggrisnya, platitude. Bahasa Indonesianya entahlah. Ini filosofi-filosofi ecek-ecek yang katanya bisa kita dapatkan melalui program-program motivasi atau bahkan dari mulut blogger-blogger besar kepala yang merasa sudah bestari. Barangkali berbahaya, barangkali tidak; tapi seringnya menyebalkan.

Obesitas intelektual

Katanya ini obesitas intelektual.

Jadi begini. Baru saja 1 ada lacak-balik yang mampir ke blog ini. Bunyinya: "Jadilah Diri Sendiri dan Berfikirlah Secara Positif Agar Anda Sukses Besar dan Dikagumi Orang Karena Meskipun Anda Luar Biasa Hebat Anda Itu Ternyata Orangnya Baik Hati dan Tidak Sombong Seperti Piyu Padi". Adapun judul aslinya bahkan lebih panjang dari itu, dan saya tak paham benar mengapa nama Piyu Padi dibawa-bawa—tapi isi gerutuan Mas Gentole ini memesona sekali sehingga saya batal berkomentar dan langsung sekalian menyusun esai balasan. Ada baiknya Anda singgah ke sana dulu supaya mengerti duduk persoalannya.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mencari solusi, 2 hanya untuk bahan obrolan saja. Juga sedikit acakadut susunannya, akibat berupa ide kurang matang yang langsung dibawa ke dapur. Kemauan (dan kemampuan) hanya sampai ke sana, harap maklum.

Apa dan siapa: supaya tidak rancu

Mari saya coba perjelas dulu siapa yang tengah "dimarahi" oleh tulisan yang ditautkan di atas. Tafsiran saya seperti ini: pertama, yang dituju yaitu orang-orang yang menghasilkan atau ikut menyebarkan gagasan-gagasan atau falsafah-falsafah yang dangkal. Dangkal, maksudnya bukan berarti salah, melainkan terlalu sederhana, tata pemikirannya kurang baik, terlampau wishful thinking atau apalah yang membuatnya terkesan asal-bikin dan lembek, langsung lumer dan lebur kalau kita periksa dengan cara berpikir yang benar.

Tetapi, menghasilkan atau menyebarkan gagasan tentu saja bisa secara hati-hati dan kritis. Bisa dengan nada santri dan bukan nada imam—maksudnya, gagasan itu dikemukakan seolah-olah sebuah hipotesis ("Rasa-rasanya masuk akal juga kalau hidup mesti sebagai diri sendiri.") dan bukan sebuah aksioma ("Jadilah diri sendiri!"). Maka kita sempitkan lagi golongan yang kita tuju: mereka harus memiliki delusions of grandeur. Merasa bahwa diri sendiri sudah bijak dan apa-apa yang disebutkan sudah mencerahkan.

Gaya berpikir yang gegabah seperti di atas sebetulnya masih bisa mengantar kita ke berbagai merk pemahaman. Namun apabila menilik judul dan berbagai "contoh" yang disediakan, ada satu kiblat yang lebih disorot: yaitu pemikiran terang-benderang dan riang-gembira seperti yang dijual oleh buku-buku pengembangan diri atau juru-juru motivasi. Jadi remaja tanggung yang menganggap dunia itu hampa, mendengarkan musik depresif dan sesekali menyitir Nietzsche sekenanya itu tidak termasuk oknum-oknum yang dibidik. Kita bahas lain kali saja. Yang ada di kepala Mas Gentole nampaknya lebih ke orang-orang yang melihat dunia seperti di dalam iklan "tanggung jawab korporat" perusahaan multinasional: orang-orang tertawa riang dalam slow motion, musik dramatis disetel di belakang, dan ada narasi yang menenangkan tentang hidup, kehidupan, dan masa depan.

"Tiap tarikan napas adalah hadiah. Tiap detik adalah anugerah. Kami di Banalitas.org percaya, bla bla bla…"

Orang-orang seperti ini saya rasa semakin gampang ditemukan, dan boleh jadi sekali-kali kita pernah khilaf terjerumus ke lubang yang sama. Ada beberapa kelompok dan stereotipe yang disebutkan di sana, bisa kita kategorikan berdasarkan jumlah telinga yang mendengarkan ocehan mereka. Yang kelas teri tentu kita semua kenal: kawan yang entah tertiup angin apa membual tentang hidup ketika kita ajak makan siang, dan karena segan menggeleng kita hanya mengangguk-angguk sampai keseleo. Lalu ada yang audiensnya lebih luas, yaitu mereka para blogger yang terkena waham ini. "Blogger senior seleb medioker". Kelas kakap. Kemudian barulah kelas hiunya, yaitu para motivator, yang di situ dituding sebagai pengusaha waralaba kebijaksanaan. Ini istilah yang hebat sekali (McPhilosophy?) dan saya sempat kecewa karena ternyata tidak banyak dipakai.

Pokoknya orang-orang demikianlah yang saya pahami sebagai tersangkanya. Orang-orang demikian yang disinyalir keliru. Semoga telah jelas dan tidak akan ada peluru nyasar.

Kebijaksanaan sebagai piala suci

Saya kira wajar apabila orang ingin jadi bijak. Tidak paham benar saya bagaimana persisnya, tapi bagi tatanan budaya kita kebijaksanaan itu, saya rasa, sudah seperti piala suci (holy grail). Anda boleh bilang Anda tidak perlu apa-apa yang secara tradisional dianggap berharga: harta, tahta, atau wanita/pria. Anda juga boleh bilang tidak butuh jadi rupawan, atau bahkan tidak butuh jadi sehat wal'afiat. (Langsung terbayang mahasiswa kere sok nyeni yang merokok sembilan belas bungkus per hari.) Tapi tidak ada saya rasa yang menolak kebijaksanaan—sebab untuk menjelaskan posisi yang tidak lazim itu kita perlu kebijaksanaan itu sendiri. Jadi sifatnya meta.

Begitu pula orang-orang konon yang "tinggi" perkembangan jiwanya seperti Zoroaster, Musa, Buddha, Konfusius, Yesus, Muhammad, atau Ron Hubbard. Jarang sekali dakwah-dakwah berbunyi: Zoroaster itu ganteng, atau Buddha lihai jahit-menjahit. Jualannya adalah, mereka bijak bestari.

Album Wisdom

Bahkan dalam komunitas metal.

Pada cerita rakyat, sastra, film, dan sebagainya pun kita lihat bahwa kebijaksanaan dinilai sebagai sesuatu yang otomatis dimiliki oleh karakter-karakter yang "baik". Bahkan karakter yang terlihat kurang berbudaya pun dapat mengartikulasikan filosofi sederhana — yang ternyata dalam — apabila diperlukan oleh plot (à la Forrest Gump). Terkadang kesannya, itulah yang harus dicapai dalam hidup: kemampuan untuk bermonolog dan menggurui seseorang dengan keren! Mungkin perasaan saya saja, tapi kebijaksanaan di kesadaran populer ini tidak sekadar esensi, melainkan semacam seni bertutur; jadi ada segi puitis yang sebetulnya kurang perlu di situ. Pendeknya begini: jadi bijak itu modis.

Budaya seperti ini apabila dicampur dengan kebebasan informasi, kiranya wajar apabila hasilnya adalah menjamurnya kebijaksanaan dan "kebijaksanaan", baik di dunia nyata maupun maya. Ini tidak mesti palsu, sebab di atas kertas apabila Anda bisa belajar astronomi, dsb. secara otodidak melalui buku dan Internet, toh Anda bisa pula belajar tentang pemikiran-pemikiran yang mencoba memaknai hidup. Kalau kita ingin sinis, maka "kebijaksanaan" yang di dalam tanda kutip boleh kita artikan sebagai rombongan orang sok bijaksana. Kalau sebaliknya, bisa kita anggap sebagai orang-orang yang tengah berupaya bijaksana. Tergantung mood Anda dan bagaimana si penceramah membawa dirinya.

Iya betul, hidup bukan ilmu pasti; siapa saja berhak bicara. Tapi di sisi lainnya, siapa saja berhak menilai omongan yang dibicarakan tersebut.

Dangkal tanda tak dalam

Seperti apa nasihat-nasihat yang tak dalam kita sudah sama-sama familiarlah. Umpamanya, nasihat "jadilah diri sendiri", yang entah kenapa tidak pernah dikasih kepada maling jemuran yang mencoba insyaf. Atau "hidup adalah pilihan". Bermain sepakbola juga berupa pilihan: ketika bola mampir di kaki-kaki Anda, itu bola bisa Anda oper ke kawan Anda, bisa pula Anda coba giring ke arah mana sesuka Anda, atau bisa pula Anda coba tembakkan. Sepakbola adalah pilihan—lalu apa? Bagaimana ini bisa membantu pelatih meracik strategi? Hidup memang pilihan, tapi apa relevansinya? Pada banyak kasus di mana klise ini dipergunakan, 'kan tidak terlalu nyambung sebenarnya. Makanya saya sebutkan di atas, dangkal tidak berarti "salah".

Dangkal tanda tak dalam.

↑ Salah satu bumbu yang paling laris adalah paradoks. Tulis Salman Rushdie di The Enchantress of Florence melalui mulut jagoan ceritanya, paradoks yaitu "a knot that allows a man to seem intelligent even as it is trussing his brain like a hen bound for the pot."

Kalau menurut pengalaman saya lebih kurang ciri-cirinya seperti di bawah ini. Silakan tambah kalau ingin. (Sengaja singkat-singkat supaya tidak perlu saya pertanggungjawabkan, hohoho.)

  1. Terlampau yakin, dogmatis: Gagasan disampaikan dengan nada pasti seolah-olah sedang memperbincangkan matematika. Sering tidak sebanding antara bobot gagasan dan nada penyampaiannya. Ini masalah paling utama kalau saya bilang.
  2. Wishful thinking: Terlalu cerah dan tidak realistis. Saya juga lelah dengan sinisisme, tapi tidak berarti harus banting stir ke arah sebaliknya.
  3. Menghentikan pemikiran: Thought-terminating cliché. Ini ibarat alkohol untuk akal, hanya membuat lupa.
  4. Menjanjikan kebijaksanaan instan: Termasuk konsep atau tujuan yang katanya gampang dicerna, padahal semestinya tidak.
  5. Mengambang: Tidak terlalu jelas konsep yang dibicarakan, bisa diartikan terserah pendengarnya. Apa itu "kebebasan"? "Hati" itu apa? Nada-nadanya serupa dengan yang di kolom-kolom ramalan bintang. Untuk klise-klise biasa tidak mengapa, tapi kalau diperhatikan lebih serius ini seperti beli keripik kentang; isinya kebanyakan angin.
  6. Berorientasi "jawaban": Bukan "pencarian" atau "analisis", jadi hasil akhirnya sudah ditentukan sebelumnya dan kegiatan yang ada hanyalah pencarian rasionalisasi.
  7. Kontan tidak sesuai dengan realitas: Ini yang paling berbahaya, yaitu yang sebangsa The Secret. Biasanya berbau new age atau paling tidak mirip, walau tentu/semoga tak semua new age seperti ini. Ini lain dengan sekadar mencoba memaknai hidup—ini hipotesis ilmiah, dan apabila tidak sesuai dengan apa yang kita ketahui tentang alam semesta, harusnya jangan digubris.
Lantas diapakan?

Saya bayangkan akan banyak yang protes, apa yang dalam bagi satu orang mungkin berbeda dengan orang lainnya. Dalamnya kebijaksanaan tidak seperti dalamnya empang yang bisa diukur. Saya pikir, betul juga. Paling tidak, standar kedalaman yang dipakai boleh jadi tidak sama, meskipun kita sepakat bahwa A lebih dalam dari B atau sebaliknya.

Dihadapkan dengan kenyataan demikian kadang bikin masygul, bimbang apa mencemooh kepercayaan demikian lebih banyak manfaatnya ketimbang mudaratnya. Di satu sisi, tradisi pikir-berpikir itu kaya dan apa-apa yang dianggap lebih berbobot oleh orang-orang di menara gading harus dihargai; tidak boleh asal pukul rata "tergantung individu" atas nama relativitas. Terbayang oleh saya pemuda-pemuda besar kepala yang kebetulan tergolong "sesat" dan muncul keinginan untuk mencoba menjatuhkan mereka. Di sisi lain, kadang yang terbayang justru ibu-ibu dan bapak-bapak biasa yang partisipasinya sebatas menyukai acara-acara motivasi di televisi. Barangkali ini cara berpikir yang naif, tapi saya lembek kalau sudah menyinggung yang demikian. Sekilas ini kesannya intrusif, serupa dengan memolisi asupan budaya lain seperti film atau buku, walau tentu sedikit lebih serius karena menyangkut falsafah hidup. Juga tidak semua yang berbau self-help begitu jelek toh, kecuali sebagian yang tergolong "berbahaya" (lihat di atas).

Jadi yang saya lakukan mungkin sama dengan yang Anda lakukan: apabila situasinya terasa enak untuk mengomentari, ya apa ruginya kalau kita komentari; kalau agaknya kurang pas ya jangan! Semua ini 'kan sebetulnya ide-ide, dan itu sebaiknya terus diasah dan diperiksa kebenarannya. Akarnya saya duga adalah ide-ide yang (entah bagaimana ceritanya) disampaikan hanya satu arah saja sehingga tak bisa dipertajam oleh argumen balasan. Kultur kursus-kursus motivasi cenderung memupuk gaya komunikasi "khotbah" yang kurang sehat ini, sehingga menjalar ke mana-mana. Soal motivator-motivator itu sendiri sebenarnya tidak terlalu masalah kok, sebab memang namanya "motivator" dan bukan "pemikir". Boleh jadi Pak Mario di ruang pribadinya berpikir dengan cara yang lain lagi, tapi ketika naik ke atas "mimbar"-nya mesti menukar ke gagasan-gagasan yang positif-positif saja sebab orang datang ke praktiknya ya untuk dimotivasi. Mereka ini seperti dokter yang menjanjikan bahwa setelah diperiksa Anda tidak akan ditemukan sedang sakit apa-apa.

Pragmatis mungkin pandangan demikian, dan tidak menarik. Tapi ya begitulah. Sebab mau diapakan lagi? Dibilang kurang baik mungkin iya, tapi ini bukan penyakit masyarakat 'kan? Yang penting saya rasa jangan sampai berlindung di balik klise dan aforisma jadi terlalu gampang.

Ketika pertanyaannya diputar ke arah Anda

Saya percaya Anda tidak harus jadi serba-tahu untuk sekadar memprotes gagasan yang Anda pikir memang kurang mantap pondasinya. Tentunya kita tidak kepingin jadi kurang ajar, tapi kalaupun saya terkesan duduk-pagar, 3 saya condong ke kubu kontra yang tidak merestui praktik seperti ini. Jadi petuah (bah!) saya bukan "jangan protes kecuali situasinya enak", tapi "proteslah kecuali situasinya jelek". Bagusnya apa, wabah ini biang keroknya lebih pada sikap ketimbang materi. Okelah, kalau slogan-slogannya membikin Anda geli, tapi rasa gemas itu kok rasanya tidak sepenuhnya ada pada slogannya, melainkan kenyataan bahwa slogan-slogan basi seperti demikian dikultuskan sedemikian rupa.

Sehingga, barangkali yang diperlukan ialah peluluhan otoritas—memecahkan mantra. Tertawakan saja sekali-sekali. Buat orang-orang sekitar Anda tahu bahwa masih banyak yang menganggap remeh nasihat-nasihat yang mungkin dianggap self-evident itu. Pecahkan saja kepala mereka biar ramai! Jadi, apa yang harus diperbanyak adalah sinisisme, supaya mengimbangi optimisme keblinger yang menjangkiti saudara-saudari kita? Masakan jadi mirip soto, yang kalau sudah kebanyakan sambal, kemudian dibanjiri kecap manis supaya seimbang? Ya mungkin. Gak tahu! :D Saya tidak ahli memecahkan masalah, hanya saya suka sok memeriksa masalahnya supaya (semoga) lebih gampang dipecahkan oleh kawan-kawan yang lebih pandai.

Ayo coba dipecahkan! Anda pasti bisa! Manusia punya potensi yang tak terhingga! Ulangi setelah saya! Manusia punya potensi yang tak terhingga!

[1] Saya mulai menulis naskah ini mulai dari 27/8/11. Kalau kemudian mandeg dan tidak selesai-selesai sampai nyaris enam bulan, ya itu sudah rencana yang di atas.™ Istilahnya, sorakunitis, tapi lebih parah.
[2] Tadinya sih maunya begitu, tapi tak kesampaian. Biarlah, daripada membusuk di draf.
[3] Fence-sitting apa padanan Bahasa Indonesianya?

Gambar "obesitas intelektual" dari The Age of Uncertainty.
Kover album Words of Wisdom dari Metallyrica.
Kartun dari Nedroid Picture Diary.

«
»

21 tanggapan untuk "(Junk) Food for Thought"

  • Amankan pertamax dulu lah. Dendam juga dari kemarin tak muncul2 di Hello World. :P

  • Fence-sitting apa padanan Bahasa Indonesianya?

    Penengah? Ini cukup biasa dipakai untuk berpura-pura jadi Judge Bao meski plin-plan, ambigu dan nggak tahu mau berpihak kemana. Aku kadang-kadang mempraktekkan ini. Cukup nyaman rasanya. LOL.

  • @ Alex©

    Sudah teramankan!

    BTW, "penengah" itu kok terlalu mulia kedengarannya. Fence-sitter itu biasanya 'kan cemoohan, ya? :/

  • Maka kita sempitkan lagi golongan yang kita tuju: mereka harus memiliki delusions of grandeur. Merasa bahwa diri sendiri sudah bijak dan apa-apa yang disebutkan sudah mencerahkan.

    THIS

    Jadi remaja tanggung yang menganggap dunia itu hampa, mendengarkan musik depresif dan sesekali menyitir Nietzsche sekenanya itu tidak termasuk oknum-oknum yang dibidik.

    THAT

    *sujud syukur*

    Anda juga boleh bilang tidak butuh jadi rupawan, atau bahkan tidak butuh jadi sehat wal'afiat. (Langsung terbayang mahasiswa kere sok nyeni yang merokok sembilan belas bungkus per hari.)

    THIS

    *njlebb*

    Tapi tidak ada saya rasa yang menolak kebijaksanaan—sebab untuk menjelaskan posisi yang tidak lazim itu kita perlu kebijaksanaan itu sendiri. Jadi sifatnya meta.

    Lha itu makanya… putar-putar di situ saja. Postingan Gentole, postinganmu atau bacritku juga sebenarnya "unjuk kebijaksanaan" tersendiri :D

    Begitu pula orang-orang konon yang "tinggi" perkembangan jiwanya seperti Zoroaster, Musa, Buddha, Konfusius, Yesus, Muhammad, atau Ron Hubbard. Jarang sekali dakwah-dakwah berbunyi: Zoroaster itu ganteng, atau Buddha lihai jahit-menjahit. Jualannya adalah, mereka bijak bestari.

    Ada pendapat lain soal ini. Kebijaksanaan mereka ada juga ditunjukkan dengan profesi. Yesus, Musa, Muhammad dan sejumlah para Nabi adalah penggembala. Ini seperti memetaforakan ke-ada-an mereka sebagai pembimbing. Sementara dalam kasih Nabi Idris, beliau disebut sebagai penjahit (salah satunya). Ini cenderung pekerjaan yang agak "mojok" sendiri, sehingga boleh tak dibantah bahwa peranan beliau dalam umat tak sebesar peran "penggembala", jadi wajar-wajar saja diberi one way ticket ke sorga alive-alive.

    Tapi ya, jarang memang. :?

    Terkadang kesannya, itulah yang harus dicapai dalam hidup: kemampuan untuk bermonolog dan menggurui seseorang dengan keren! Mungkin perasaan saya saja, tapi kebijaksanaan di kesadaran populer ini tidak sekadar esensi, melainkan semacam seni bertutur; jadi ada segi puitis yang sebetulnya kurang perlu di situ. Pendeknya begini: jadi bijak itu modis.

    Lha iya. Cak kau tengok Tumblr atau Twitter, misalnya. Mudah sekali kau menemukan sejumlah quotasi bijak ala "emakku bilang hidup itu macam sekotak coklat, kau tak tahu kapan akan meleleh dalam mulutmu"-nya Gump. Ada semacam trend, bahwa me-reblog/me-retwit quotasi begini adalah tanda luas wawasan dan bijak berpikir. Cuma tinggal aminkan saja: kau keren.

    Kalau kita ingin sinis, maka "kebijaksanaan" yang di dalam tanda kutip boleh kita artikan sebagai rombongan orang sok bijaksana. Kalau sebaliknya, bisa kita anggap sebagai orang-orang yang tengah berupaya bijaksana. Tergantung mood Anda dan bagaimana si penceramah membawa dirinya.

    Nah itu. Sebenarnya kalau cuma per individu, mungkin tak jadi masalah. Tapi kalau kutengok repetan gentole ini ya semacam kegelisahan sekaligus terusik "rasa bijaksana" dalam diri sendiri, yang mestinya personal bak wahyu Ilahi pada Musa di Thursina, kok jadi massif begitu. Celakanya, jadi semacam mainstream. Massa manut-manut saja dan menyebarkannya laksana spam. Tak beda dengan laku orang yang baru dicecoki khotbah Habib Rijiq lalu ngetok semua pintu rumah dan bilang "sungguh benar Sang Habib dengan segala bacritnya".

    Iya betul, hidup bukan ilmu pasti; siapa saja berhak bicara. Tapi di sisi lainnya, siapa saja berhak menilai omongan yang dibicarakan tersebut.

    *mrenges*

    Lantas diapakan?

    Biarkan saja. Sama kayak orang ngebut, yakin kalau motornya (sebut saja Yamahmud, kolaborasi Jepang-Arab) adalah paling yahud dan berada di jalan yang benar. Ntar kalau masuk jurang atau nabrak paling juga bisa kita bilang dengan prihatin: Soookoorr.

    *tawa setan*

    Di satu sisi, tradisi pikir-berpikir itu kaya dan apa-apa yang dianggap lebih berbobot oleh orang-orang di menara gading harus dihargai; tidak boleh asal pukul rata "tergantung individu" atas nama relativitas.

    Benar memang. Tapi individu yang sudah berkelompok, lain cerita. Seorang Gentole, adalah individu, dan (umpama) kebetulan ramai massa. Dia sudah bukan individu lagi. Gagasannya bukan gagasan individu lagi. Saat dia sudah menyebar, maka gagasan di menara gading itu mesti disambit laksana mangga masak terancam busuk.

    Terbayang oleh saya pemuda-pemuda besar kepala yang kebetulan tergolong "sesat" dan muncul keinginan untuk mencoba menjatuhkan mereka.

    Lha, mereka itu -para pemikir menara gading™ itu- juga berasal dari pemuda-pemuda besar kepala yang percaya bahwa isi kepalanya itu adalah paling mulia. Kalau mereka tak besar kepala, plin-plan dengan gagasannya, tak akan mereka di "puncak" sana. Kukira wajar saja, kalau mereka jatuh dan berganti. Rotasi lah itu. Kebijaksanaan mereka mesti diuji, kalau tidak, mereka bikin puisi saja di lembah sunyi. LOL.

    Di sisi lain, kadang yang terbayang justru ibu-ibu dan bapak-bapak biasa yang partisipasinya sebatas menyukai acara-acara motivasi di televisi.

    Hehe. Benar sih ini. Semacam sinetron lah. Hak mereka juga untuk menikmati.

    Dibilang kurang baik mungkin iya, tapi ini bukan penyakit masyarakat 'kan?

    Belum. Gagasan begini belum cukup kuat untuk mewujudkan tata dunia baru. Hoho.

    Okelah, kalau slogan-slogannya membikin Anda geli, tapi rasa gemas itu kok rasanya tidak sepenuhnya ada pada slogannya, melainkan kenyataan bahwa slogan-slogan basi seperti demikian dikultuskan sedemikian rupa.

    Hehehe. Begitulah.

    Jadi, apa yang harus diperbanyak adalah sinisisme, supaya mengimbangi optimisme keblinger yang menjangkiti saudara-saudari kita? Masakan jadi mirip soto, yang kalau sudah kebanyakan sambal, kemudian dibanjiri kecap manis supaya seimbang?

    Kira-kira begitu. Terutama di kala ada arus untuk menganggap rendah yang tidak tahu kebijakan mereka, mestilah mereka diajak pula untuk menertawai diri. Terkadang caranya memang mesti disinisi. Ditempelenglah. Dan kutengok, itu yang kemarin dibikin oleh Gentole. Aku, dalam hal ini, di pihaknya. Haha. Haha. Haha.

  • BTW, "penengah" itu kok terlalu mulia kedengarannya. Fence-sitter itu biasanya 'kan cemoohan, ya? :/

    Kalau mau lebih kasar, ya "cari aman". Ini istilah untuk orang yang duduk di pagar sekolah kalau anak-anak terbelah antara manjat dan kabur atau mikir-mikir. Dianggap anak baik, malu, dianggap pengecut, tak mau. Kalau kelihatan sama guru, bisa pasang alasan bermacam, seperti "saya malah manggil kawan-kawan untuk balik ke sekolah. kan saya nggak loncat turun kan? kan? kan?"

    LOL

  • Sehingga, barangkali yang diperlukan ialah peluluhan otoritas—memecahkan mantra. Tertawakan saja sekali-sekali. Buat orang-orang sekitar Anda tahu bahwa masih banyak yang menganggap remeh nasihat-nasihat yang mungkin dianggap self-evident itu.

    Ha, saya yakin intinya demikian. Sejujurnya sih, saya juga sering begitu. :))

    (everything is more palatable with humor, methinks)
    (walaupun di sisi lain agak berempati juga. ga semua orang tahu filsafat "betulan", dan mereka ya, karena ga nyampe & ga tahu, akhirnya bergantung ke filosofi kacangan. :| )

  • @ sora

    (walaupun di sisi lain agak berempati juga. ga semua orang tahu filsafat "betulan", dan mereka ya, karena ga nyampe & ga tahu, akhirnya bergantung ke filosofi kacangan. :| )

    Ini sebenarnya termasuk dalam elitisme filsafat juga. Menara gading? Filsafat itu sendiri berpijak pada hal-hal sederhana, hal-hal mendasar seperti pertanyaan klise "mana duluan telur dan ayam" atau "apa itu hidup?". Cuma ya itu, nggak semua bagian dari umat mau/mampu jadi pengangguran yang kerjanya merenungkan pertanyaan sederhana namun berarti banyak itu. Ditambah rutinitas harian, dan lupa dengan hal-hal yang sebenarnya mereka/kita bisa maklumi. Di sini, mereka menemukan itu dalam filsafat ala Mario Teguh. Ini seumpama buku Art of War Sun Tzu. Tidak semua petempur peduli, tahu atau mau tahu soal buku begitu. Tapi mereka bertempur juga, dengan taktik yang sebenarnya sama, cuma beda istilah. Lalu datang seorang lulusan Akabri, membacrit soal filosofi perang Tiongkok purba. Mereka merasa melek. Sama seperti penggemar filsafat kelas tinggi merasa melek juga dengan khotbah dari filsuf yang mereka suka. Situ-situ saja itu benarnya :D

  • Saya sempat tertarik tentang seberapa besar sih efektifitas pengkhotbah kebijaksanaan ini dalam mempengaruhi umatnya? seberapa significant, apa ke arah yang positif or negatif (perlu didefinisikan lagi tentang ini), dan berapa lama? Sebagai sebuah hasil studi ilmiah misalnya (psikologi kah?)

    Nanyain hal ini di fb, ternyata dapat testimoni dari kubu yang sepertinyakontra. Kalau salah satu HRD di perusahaan ABC (entah dia ngarang or tidak tentang hal ini) bilang, berubahnya itu paling lama 1-2 bulan, selanjutnya kembali seperti semula

  • Nah, ini yang dicari. Kritis untuk para motivator.

    Bener sih katanya Suluh. Di kantor lama banyak acara2 kayak gini, dan manfaatnya nggak terlalu kerasa dan malah terasa membuang waktu.

    7 Habit lah, motivasi lah, apalah.

    Masalahnya adalah ada anggapan perubahan atau motivasi itu instan.

    Di sisi lain, nggak perlu lama juga efeknya. Cukup terpapar secara kontinyu maka sikap kritis kita akan berkurang.

    Soal buku motivasi, aku menyarankan buku 59 seconds ini:
    http://www.amazon.com/59-Seconds-Little-Change-Borzoi/dp/B0057DCE7M/ref=sr_1_1?ie=UTF8&qid=1328699742&sr=8-1

    Well, I prefer "Now with science" version sih. :))

  • @ alex©

    Memang menyebalkan kesannya, dan ditanggapi pun susah karena bisa dituding "ah itu 'kan menurut sodara saja…" sehingga memutar-mutar dan tak selesai-selesai. Tapi itulah yang bikin masygul… Kuatir jadi kelewatan dan malah menyinggung "tersangka-tersangka" yang ringan seperti ibu-ibu/bapak-bapak imajiner yang saya sebut itu. Pengguna Twitter/Tumblr yang awalnya dibidik bisa jadi malah tak merasa.

    Nah itu. Sebenarnya kalau cuma per individu, mungkin tak jadi masalah. Tapi kalau kutengok repetan gentole ini ya semacam kegelisahan sekaligus terusik "rasa bijaksana" dalam diri sendiri, yang mestinya personal bak wahyu Ilahi pada Musa di Thursina, kok jadi massif begitu. Celakanya, jadi semacam mainstream. Massa manut-manut saja dan menyebarkannya laksana spam. Tak beda dengan laku orang yang baru dicecoki khotbah Habib Rijiq lalu ngetok semua pintu rumah dan bilang "sungguh benar Sang Habib dengan segala bacritnya".

    Itu dia. Kalau obrolan sesama kawan 'kan kita saling mematah-matahkan; ini bagus, supaya ide-ide diasah, dipertajam, dibuang lembek-lembeknya. Sedang kalau dari motivator 'kan tidak seperti itu, main terima saja dan diiya-iyakan. Kalau memang mantap sih ndak masalah, tapi toh banyak yang merasa isinya banyak anginnya.

    [M]ereka itu -para pemikir menara gading™ itu- juga berasal dari pemuda-pemuda besar kepala yang percaya bahwa isi kepalanya itu adalah paling mulia. Kalau mereka tak besar kepala, plin-plan dengan gagasannya, tak akan mereka di "puncak" sana.

    Betul, tapi rasanya, apabila kita paham pemikiran kita berlawanan dengan konsensus "ahli"-nya, dan melawan arus juga, tentu mesti ada pembelaan tersendiri di situ. Kalau tidak demikian tentu lebih congkak dari congkaknya orang-orang menara gading tersebut, sebab haqqul yaqin mereka didukung oleh tradisi dan bukan hasil pemikiran mereka sendiri.

    Jadi baiknya umat motivator-motivator ini jangan langsung dibilang "salah!", itu berarti kita sama saja yakinnya, tapi ditengokkan mereka ke orang-orang yang tidak sepakat, supaya tidak seyakin itu dengan perkara buram dan kabur seperti "kebijaksanaan" ini. Kalau orang di seberang sama saja pongahnya itu masalah terpisah, tidak membikin kaum yang pertama itu lantas benar. :?

    Kira-kira begitu. Terutama di kala ada arus untuk menganggap rendah yang tidak tahu kebijakan mereka, mestilah mereka diajak pula untuk menertawai diri. Terkadang caranya memang mesti disinisi. Ditempelenglah. Dan kutengok, itu yang kemarin dibikin oleh Gentole. Aku, dalam hal ini, di pihaknya. Haha. Haha. Haha.

    Hahaha, iya, kayaknya begitu. Sukses besar nampaknya, tapi sayang kolom komentarnya tidak seribut "Mengapa Para Hipster Menyebalkan". :))

    Kalau mau lebih kasar, ya "cari aman"

    Iya, "cari aman" itu padanan pas buat "fence-sitting". Tapi kayaknya bukan itu yang saya maksud, mungkin lebih ke "bingung memihak ke mana".

    @ sora9n

    Sepakatlah. Prinsipnya, untuk membuat keputusan yang baik, informasi harus lengkap. Betul?

    @ alex©

    +1

    Pihak perantara semacam itu memang masih perlu sekali. Seperti penulis sains pop/filsafat pop/psikologi pop; kadang dicemooh memang oleh akademisi yang merasa karya mereka tak ada isinya, tapi ya itu, tak semua orang punya waktu buat membaca semua kitab-kitab itu huruf demi huruf.

    Cuma dari atas menara sana juga 'kan ilmu-ilmu begitu ada macam-macam merk dan warnanya, jadi kalau cuma satu yang diturunkan ya masalah begini yang muncul.

    @ Suluh

    Mengingat bahwa tujuan program-program motivasi model begini adalah menuju "bahagia", saya ingat pernah dengar/baca (konfirmasi, Bung Sora?) bahwa menurut studi mood orang itu cenderung sama dan susah diubah. Sehabis menang lotere/kehilangan orang yang dikasihi pun, walau pada awalnya sangat bahagia/sangat sedih, sebentar juga akan kembali ke titik awal. Jadi mungkin tidak seefektif itu…

    Nanyain hal ini di fb, ternyata dapat testimoni dari kubu yang sepertinyakontra. Kalau salah satu HRD di perusahaan ABC (entah dia ngarang or tidak tentang hal ini) bilang, berubahnya itu paling lama 1-2 bulan, selanjutnya kembali seperti semula

    Nah 'kan betul! Jangka pendek saja ini kelihatannya.

    @ dnial

    Tapi itu 'kan bisa dianggap sebagai hiburan gratis. :D

    Itu memang salah satu yang saya kurang pas. Apa-apa diinstankan, 'kan terlalu muluk-muluk.

    Dan segala-apa yang versi "now with SCIENCE!" memang selalu lebih baik. ;) BTW itu buku apa isinya lebih kurang?

  • @Pak Guru

    Soal Piyu Padi. Itu karena saya lihat dulu dia pernah jadi apa yang bukan Ahmad Dhani. Sosok musisi yang humble yang meraih sukses dari bawah, sejak dari tukang bawain gitarnya Andra Dewa. Kagak aroganlah. Jadi, begitu, tidak sombong seperti Piyu Padi, tidak seperti Ahmad Dhani.

    Soal istilah waralaba kebijaksanaan.Saya ambil istilah ini kalo gak salah dari tulisannya Zizek tentang franchised spirituality. Saya agak lupa. Tapi dia merefer ke Zen dan New Age dan segala macam agama-agama yang lagi ngetrend.Dalam bahasa Indonesia saya agak bingung terjemahannya. Penggunaan kata waralaba sendiri masih agak kaku. Kebijaksanaan waralaba lebih merujuk pada kebijaksanaan yang dijadikan bisnis waralaba. Tapi ya saya kira kita punya preferensi berbeda soal ini.

    Soal gerutuan saya itu bisa dijustifikasi atau enggak ya itu kan cuma gerutuan. Bermasalah atau tidak, pada akhirnya saya melihat semuanya sebagai apa yang tampak saja. Tidak ada niatan betul untuk membawa perubahan whatsoever. Aidit sudah mati. Anas Urbaningrum kena kasus korupsi. Andi Arief sibuk nyari peradaban tua. Begitulah.

  • @ Cik Gu

    Betul, tapi rasanya, apabila kita paham pemikiran kita berlawanan dengan konsensus "ahli"-nya, dan melawan arus juga, tentu mesti ada pembelaan tersendiri di situ. Kalau tidak demikian tentu lebih congkak dari congkaknya orang-orang menara gading tersebut, sebab haqqul yaqin mereka didukung oleh tradisi dan bukan hasil pemikiran mereka sendiri.

    Benar, memang. Mesti ada pembelaan tersendiri. Tidak bisa juga main "sambit mangga" begitu rupa. Cuma terkadang pembelaan juga tidak cukup. Ini seperti melawan kelompok yang sudah terlalu dianggap benar. Tradisi di menara gading™ itu 11-12 dengan tradisi dalam keagamaan juga: sudah macam dogma. Meski bisa saja dirubuhkan, tapi bisa di-bully massal juga.

    Jadi baiknya umat motivator-motivator ini jangan langsung dibilang "salah!", itu berarti kita sama saja yakinnya, tapi ditengokkan mereka ke orang-orang yang tidak sepakat, supaya tidak seyakin itu dengan perkara buram dan kabur seperti "kebijaksanaan" ini. Kalau orang di seberang sama saja pongahnya itu masalah terpisah, tidak membikin kaum yang pertama itu lantas benar. :?

    Benar lah ini. Mesti ditengokkan mereka ke sisi lain.

    @ Cik Gen

    Mau bawa perubahan apa jaman 'gini dengan tulisan seabrek-abrek di internet ini? Semua orang bisa jadi politisi, filsuf dan seniman-wannabe macam awak. :lol:

  • Jadi remaja tanggung yang menganggap dunia itu hampa, mendengarkan musik depresif dan sesekali menyitir Nietzsche sekenanya itu tidak termasuk oknum-oknum yang dibidik.

    Ini kapan dibidiknya?

    …Boleh jadi Pak Mario di ruang pribadinya berpikir dengan cara yang lain lagi, tapi ketika naik ke atas "mimbar"-nya mesti menukar ke gagasan-gagasan yang positif-positif saja sebab orang datang ke praktiknya ya untuk dimotivasi….

    Saya kok mikirnya ya karena distorsi juga sih. Saya pinjam seenak jidat omongannya Scott McCloud tentang niatan membuat komik di bukukomiknya "Understanding Comics" itu ibaratnya komikus awalnya bikin apel dari dalam keluar kemudian ada fanboy mau bikin komik gara-gara baca komik itu tapi dia buatnya apel itu dari kulitnya ke bijinya. Entah jelas atau tidak deh maksudnya :-?
    Ini juga saya bersikap kayak motivator itu yang ngasih "kebijaksanaan" ngawang.

  • @ gentole

    Oh begitu, saya kira sarkas. Soal istilah itu… Ya rasa-rasanya sudah mendekati lah. :D

    Dan iya, memang gak dimaksudkan untuk membawa perubahan. Juga, susah dibayangkan lah seorang Gentole mengaku-aku membawa perubahan. OOC. :P

    @ alex©

    Hahaha, jadi, tempo hari setelah bangun pagi ternyata Twitter masih ada. Patut disayangkan.

    @ LSS

    Ini kapan dibidiknya?

    Itu 'kan sedang menafsirkan tulisan Mas Gentole. Jadi itu bidikan dia; kapan mau membidik yang lain, tagih ke yang bersangkutan. :P

    Saya kok mikirnya ya karena distorsi juga sih. [...] Entah jelas atau tidak deh maksudnya :-?

    Saya gak ingat bagian itu dari Understanding Comics. Dan gak ngerti. Maap. :(

  • Soal Piyu Padi emang sarkas. Aku kira sudah jelas. Enggak ya? Entahlah saya selau curiga sama mereka yang ketara sengaja keliatan low profile. :|

  • Mana komentar saya? Hilang?

  • Nah, kalo gak ngerti berarti saya selangkah lagi sukses jadi apprenticenya Mario Teguh :p /diusir

  • @ gentole

    Nggak jelas sarkasmu itu. Kebanyakan yang baca aku berani taruhan colok 3 angka togel mesti mengira kau malah mengidolakan Piyu Padi karena terpukau dengan sikap profil-rendahnya itu. :D

  • LOH harusnya jelas toh karena memang dari awal judul artikel itu sarkas semua. Masak tiba-tiba pas bagian Piyu padi beneran. :|

  • @ gentole

    Macam mana pulak harusnya? Wakakakaka. Asumsi orang kau itu -karena kau sudah ngomel2 soal segala elitisme, hipster, alay, dan entah apalagi simbol kecongkakan itu- terharu akan sikap Piyu Padi. Wakakakaka.

Tinggalkan komentar

Anda boleh mempergunakan HTML dengan atribut-atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote> <cite> <code> <pre> <del> <em> <i> <q> <strike> dan <strong>. Untuk menyisipkan video YouTube, bubuhkan alamat lengkap dengan huruf 'v' sebelum titik dua. (Contohnya: httpv://www.youtube.com/watch?v=oHg5SJYRHA0)