Pencarian

Tentang

Pak Guru (bukan profesi sebenarnya): Menulis, mengeluh, dan terus menggerutu sampai maut menjemput paling lambat seratus tahun lagi.

Selengkapnya »

< Facebook Twitter Google+ Plurk <

Detail tulisan

Penulis:
Terbit: 13/02/12 @ 01:14
Tautan pendek: Tautan
Tanggapan: 12 tanggapan
Kategori: Budaya, Hiburan
Tag: , , , , , , , , , , ,
Metadata lain: Thumbnail
Print: Print
Sebarluaskan:

Pariwara

Kalau Anda nekat, kebetulan banyak ruang kosong mubazir di sini yang bisa disewakan. Silakan hubungi pengelola untuk bernegosiasi.

BudayaHiburan

Star Wars, Schmar Wars

Kembali menggerutui orang-orang yang sibuk memolisi apa yang orang-orang lain boleh dan tidak boleh baca atau tonton. Juga dari Internet, tapi kali ini biang keroknya dari kalangan bule.

Star Wars, Schmar Wars

Pelik memang menjadi bagian dari massa middlebrow—kelas menengah dari tatanan kebudayaan kita. Memang menggoda untuk menengok ke bawah dan menjulurkan lidah, tetapi sering cemas akan ada juluran lidah balasan dari orang-orang di "atas". Barangkali inilah perasaan penjahat-penjahat tingkat bawah pada sinetron-sinetron di televisi: ingin ikut serta dalam tindas-menindas, namun sewaktu-waktu bos besar (yang lebih bengis) bisa datang dan meruntuhkan ego mereka. Perumpamaan ini tentu familiar, sebab pertama kali ini saya bincangkan, perkaranya adalah sinetron. Sekarang, ini kembali mengganggu pikiran.

Jadi begini. Waktu membunuh waktu di Internet kemarin saya perhatikan ada yang mengolok-olok pembaca serial remaja (wanita?) Twilight, dan menganjurkan supaya yang bersangkutan membaca "sastra sebenarnya" sembari mempertunjukkan The Lord of the Rings-nya J.R.R. Tolkien. Ini hanya berupa guyonan dan tidak betul-betul terjadi, tapi ramai-ramai kemudian diamini oleh para hadirin. Saya duga ada kebanggaan tersendiri di situ. Merasa seperti pemerhatilah mereka, menggeleng secara berjamaah menyayangkan selera awam yang kurang terasah sembari memuja-muji legendarium Tolkien: naga-naga, penyihir-penyihir, dan suku kerdil berbulu kaki lebat. Kegiatan demikian rasa-rasanya memang menyenangkan.

Celakanya, datang pula orang iseng yang balik mengerdilkan. Ini apa ini. Ini bukan sastra ini! Jadi, jangan Lord of the Rings yang dibaca, tapi Lord of the Flies. Tentu saja ribut jadinya. Orang-orang yang baru dilukai ini tidak terima dan mulai membela karya yang barusan dihujat tersebut. Argumentasi yang disediakan: ini karya yang mendetail sekali dan dibikin dengan kehati-hatian. Atau, kelas-mengelas karya seni itu cuma konstruksi sosial saja yang keblinger dan perlu disambit keluar dari wacana-wacana kita. Atau, berpura-pura jadi lebih berselera lagi untuk menyatir, misalnya, dasar hipster! Lord of the Flies itu udah gak jaman! Pergi sana baca F. Scott Fitzgerald dan Immanuel Kant! (Hah? Immanuel Kant?)

Ini buat saya menjijikkan. Betul, kita harus hati-hati jangan sampai mengorbankan LOTR, sebab kasihan Pak Tolkien yang tidak ada sangkut-pautnya dengan kejumawaan salah sasaran di atas. Tapi di sini terang sudah terlihat dilemanya kebanyakan kita, rakyat kelas menengah dengan hiburan kelas menengah. Menolak stratifikasi budaya (seberapapun kasarnya) sama sekali tentu merusak kebanggaan awal kita tadi dalam menjatuhkan Twilight, karena kalau sudah begitu semuanya jadi sama rata. Sebaliknya, berupaya berargumen bahwa LOTR lebih baik dari LOTF kemungkinan akan membuat Anda kelihatan lucu. (Poin "mendetail", misalnya, sudah lama dipakai para kritikus justru sebagai titik lemah buku-buku fiksi ilmiah dan fantasi—terlalu fokus pada hal yang tidak substansial, kata mereka.)

Maka yang sering dilakukan ialah menuduh bahwa si perusak tadi hanyalah "hipster". Hanya orang pongah biasa yang tak perlu kita perhatikan pendapatnya. Mungkin betul, bahwa dia cuma cari ribut. Tapi kenyataannya adalah, mekanisme yang sama dengan yang menghadiahi Batman, Pokémon, Harry Potter, dan Star Wars (favorit mereka) posisi yang lebih mulia dari Twilight dan Justin Bieber, menghadiahi pula In Search of Lost Time kehormatan yang melebihi semua yang barusan disebut. Menolak satu kesimpulan akan menolak seluruhnya. Mungkin mereka mengerti ini, jadilah respon "hipster!" yang dipakai—cengeng dan gak fair menurut saya. Alternatif lainnya, mereka memang tidak tahu bahwa ada langit di atas langit, tapi ini juga bukan keadaan yang bagus.

Paling tidak, orang-orang di sana tidak jadi seperti beberapa pembaca SF/fantasi kelas hiu yang saya kenal dan begitu dendam terhadap budaya atas. Kalau diprovokasi, akan berpidato. Tear down the Western Canon! Katanya, "tidak ada respek sama sekali" pada kritikus dan pendidikan seni "tidak boleh dibiayai pemerintah". Saya pikir, wah, ini dia korban paling ekstrem dari balada budaya middlebrow. Susah bersimpati dengan sentimen demikian—apabila ada tipe manusia yang lebih menyebalkan dari para snobs/elitis, merekalah para reverse snobs/elitis-elitis berlawanan kutub.

Jadi ketimbang jadi berapi-api seperti itu, penceletuk "dasar hipster!" lebih baik. Tapi saya lebih suka mereka tidak lempar batu sama sekali. Rumah kaca, sih.

Tulisan serupa
  1. Mainstreaming
  2. Para Pengkhianat Novel atau Mengapa Saya Sering Meninggalkan Toko Buku Gramedia dengan Tangan Kosong
  3. Seni, Budaya, dan Debat Tiada Ujung

Gambar olahan sendiri, dengan bahan-bahan dari Luna's Café dan Cool Things.

«
»

12 tanggapan untuk "Star Wars, Schmar Wars"

  • Weleh kok tulisan lama saya dibawa-bawa. Kan sudah lama. Tidak usah diungkit-ungkit lagi. :P Meski saya masih sama sih pendiriannya.

    Saya juga lihat itu di 9gag cibiran Twilight. Agak aneh juga. Tapi begini. Kan ini sudah dibahas berulang-ulang, soal preferensi itu setiap orang beda-beda. Ibarat celana dalam, urusan pribadi lah. Orang juga bisa aja secara ironis menggilai Twilight atau melihat novel itu dalam perspektif yang sama sekali lain dan kemudian menahbiskannya sebagai sebuah mahakarya sastra kontemporer. Dan ini juga dalam batas2 tertentu urusan pribadi, meski ada bagian publiknya bilamana orang itu mau mengutarakan mengapa begini mengapa begitunya.

    Yang jadi soal menurut saya adalah tidak menempatkan diri pada tempat yang benar (halah apa ini?). Maksudnya kalo memang bicara sastra di tengah sastrawan ya bacritannya serta seleranya mesti agak sophisticated lah, masak sukanya Harry Potter. Kalo di tengah keramaian ya datar-datar ajalah. Kalo di depan cewe, ya agak songong dikit gapapa lah buat naikin harga diri. Nah, postingan saya yang lama itu ya ditujukan buat mereka yang merasa perlu menyanggah paham saya aja. Saya yakin tidak ada penggemar Laskar Pelangi atau Ayat-ayat Cinta yang hidupnya serba positif dan jernih (yang membaca novel itu sebagai novel pembangun jiwa) bakal tersinggung dengan apa yang saya bilang. Paling mereka pikir saya iri belaka.

  • enggak bisa. Harry Potter itu bukan novel, tapi buku filsafat!
    *eh?*

  • @ gentole

    Hah, pemirsa 9gag ternyata? Itu situs memang sarangnya kerajaan budaya pop/SF/fantasi merk barat yang saya sebutkan. Saya membacanya sering berharap-harap cemas nyambung apa tidak.

    Seterusnya, sepakat sajalah. Intinya paham seperti ini ujung-ujungnya standar ganda, terperangkap di ghetto budaya tertentu, atau malah dua-duanya. Kalau ternyata tulisan "Gramedia" itu kurang senada, ya tak apa-apalah, 'kan klaimnya hanya "serupa". >:D

    @ genduk

    Wah saya gak pernah baca. Tapi 'kan tidak kelihatan Emma Watson-nya di situ. Jadi malas. :P

  • Tapi 'kan tidak kelihatan Emma Watson-nya di situ. Jadi malas. :P

    THIS.

  • @ Alex©

    Alhamdulillah, tidak sendiri… :))

  • bertiga! saya juga emma watson, kok :D

  • @ sitampan

    Bukan. Situ bukan Emma Watson. :v

  • Jadi marilah kita membaca fanfic-fanfic besutan para remaja saja.

    9Gag itu… Ah, ya memanglah kalau mau dibilang macam "sarang" yang berantakan. Saya menjadi hipster dengan bertopang dagu aja kalau mau baca.
    Ngomong-ngomong selera pribadi memang urusan privat, bisa dipahami. Kemudian saya ingat teman saya ngomong hal mirip perkara lagu-lagu lokal yang silakan nilai sendiri kualitasnya gimana. Oh, tentu saja maksudnya yang mainstream.

  • @ LSS

    Sekadar baca tak mengapa. Sekadar baca, apapun boleh-boleh saja toh.

    Juga, 9gag itu dekaden. Hindari.

  • Sekedar baca sekedar tahu. Kalau untuk yang masuk ke deretan Top 10 ya silakan lah preferensi masing-masing. Saling menghina atau membandingkan Top 10 saja silakan :D

  • Waah betul betul sebuah tulisan yang mencerahkan dan memperluas wawasan Ged. Tapi ya tetep aja: Twilight sucks donkey balls. LULZ!

Tinggalkan komentar

Anda boleh mempergunakan HTML dengan atribut-atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote> <cite> <code> <pre> <del> <em> <i> <q> <strike> dan <strong>. Untuk menyisipkan video YouTube, bubuhkan alamat lengkap dengan huruf 'v' sebelum titik dua. (Contohnya: httpv://www.youtube.com/watch?v=oHg5SJYRHA0)