Selebrasi Diri
Memperingati
Sebuah non-eulogi yang terlambat sudah tiga ratus enam puluh enam hari.

Mekkah. Musim haji 2010.
4/4.
Yang menyulitkan dari eulogi adalah kesan resminya. Ini 'kan bukan sambutan pembukaan arisan. Jadi kata demi kata, aksara demi aksara mesti diukur dan dipikirkan masak-masak supaya seolah-olah bisa mewakilkan duka-cita dan bingung-luar-biasa Anda. Tengok, misalnya, Dylan Thomas, yang mengantarkan kepergian bapaknya dengan sajak-sajak abadi: "Sajak pada hari ulang tahunnya," "Elegi," dan tentunya "Do not go gentle into that good night." Ada dorongan, dan tekanan, untuk menyisipkan sesuatu yang seremonial, dan bisa ditunjuk di kemudian hari ketika sejenak ingin melihat ke belakang.
Tapi ini susah. Betul. Saya coba sejak setahun lalu, tapi kok kuatir jadi kurang mantap dan terkesan asal jadi. Kuatir sesuatu yang ada maknanya malah tertelan banalitas blogosfir dan lantas menguap kedalamannya. Kuatir jadi sepele karena taji saya berolah kata memang hanya kelas bantam. Saya sadar romantisisme seperti ini sudah masuk ke dalam serat-serat kebudayan kita bersama sebagai manusia—ini bagian dari rasa hormat kita kepada bahasa dan kata-kata. Elok memang apabila, setelah sebuah bala atau malapetaka, kita tuliskan haiku, trenodi atau apalah, sebagai semacam jawaban. (Bung Alex, yang berita-buruknya kebetulan serupa dan berdekatan dengan punya saya, mahir sekali dalam hal ini.) Tapi tentu tak berarti salah kalau memilih diam saja, kemudian duduk dan berpikir sejenak. Menciptakan-hening. Tulisan itu, mungkin kapan-kapan…
Itu toh untuk orang lain. Untuk diri sendiri, sudah tertulis dan terpidatokan di dalam kepala masing-masing. Kalau Anda berpengalaman, tentu paham. Bukan begitu? Begitu, bukan?
8 tanggapan untuk "Memperingati"
05/04/12 @ 06:24
Apa hanya saya yang sampai sekarang malah tidak pernah bisa memandang foto beliau lebih lama dari beberapa detik?
07/04/12 @ 20:12
@ Bapak Guru
Benar begitu. Tidak semua hal harus kau tuliskan. Apalagi rasa dan apa-apa yang lebih dari sekedar huruf dan angka. Kau kira orang yang kau bilang mahir itu juga sudah merasa lepas semua dalam rasanya? Oh tidak. Tetap saja yang terbaik adalah diam dan hening. Karena tanpa diam dan hening, kata dan suara tak akan jadi, musik juga tak akan berdenting.
Hening adalah puisi paling tinggi dan nyanyi paling merdu, paling murni.
Siapa pernah merasakan, mestilah sadar akan hal ini.
@ Mansup
Kau tidak sendirian… :|
08/04/12 @ 14:30
@ Manusiasuper
Foto tentu mengabadikan sesuatu yang sudah lalu, jadi buat saya sekarang lebih kurang tidak masalah. Yang sudah lalu itu tak mengapa, malah menyenangkan melihatnya. Yang cenderung bikin masygul itu membayangkan masa kini/masa depan sambil berandai-andai, betul tidak? Dan itu gambarannya di kepala sendiri, jadi lebih sulit kalau mau berpaling. :P
@ Koben
Iya, memang hening yang paling baik. Maha benarlah tiga paragraf itu. :)
09/04/12 @ 18:05
dulu pernah waktu kakek meninggal saya menulis langsung jadi. kesannya memang jadi banal, karena kadung percaya yang berarti itu biasanya tak terkatakan. dan pikiran ini malah bikin jadi tambah nelangsa.
09/04/12 @ 21:52
@ gentole
Benar. Kebetulan waktu peristiwanya, saya lagi baca travelog yang di kata pengantarnya ditulis (parafrase): "Saya tidak tulis ini sambil berwisata, tapi sesudah setiap perjalanan. Kalau tidak begitu nanti pikiran tidak jernih dan isinya agak memalukan." Ada sih coba bikin draf, tapi ya itu, perlu penulis yang betul-betul ulung. Memang jadi banal dan bikin tambah nelangsa.
10/04/12 @ 09:55
Mmm…foto beliau tidak pernah lepas dari dompet. minimal 3 kali sehari kulihat.
……….(cuma itu yang terkata)
12/04/12 @ 19:35
Hu…hu…hu… Numpang nangis mas !
18/05/12 @ 17:54
@ dodo
Sudah berapa lama itu? :)
@ Iwan
Silakan Mas Iwan.