Pencarian

Tentang

Pak Guru (bukan profesi sebenarnya): Menulis, mengeluh, dan terus menggerutu sampai maut menjemput paling lambat seratus tahun lagi.

Selengkapnya »

< Facebook Twitter Google+ Plurk <

Detail tulisan

Penulis:
Terbit: 14/05/13 @ 16:22
Tautan pendek: Tautan
Tanggapan: 8 tanggapan
Kategori: Budaya
Tag: , , , ,
Metadata lain: Thumbnail
Print: Print
Sebarluaskan:

Pariwara

Kalau Anda nekat, kebetulan banyak ruang kosong mubazir di sini yang bisa disewakan. Silakan hubungi pengelola untuk bernegosiasi.

Budaya

Romantisisme Berpikir Mandiri

Romantisisme Berpikir Mandiri

Retorika "berpikirlah mandiri" pada awal kemunculannya saya kira kuat dan relevan. Barangkali dia berkembang di lingkungan-lingkungan dengan tradisi yang kaku, di mana ada perbedaan pendapat antara pandangan awam dan pandangan cendikiawan. Retorika seperti ini berupa ajakan; ajakan supaya orang yang tengah digurui lebih rajin dan kritis lagi, supaya orang itu mau memeriksa kasusnya lebih dalam lagi. Supaya tidak sekadar bertaklid pada guru-gurunya, sekolahnya, pemerintahnya, orang tuanya, atau siapa-siapa saja yang bisa mempengaruhi arah dia berpikir.

Cara berdebat semacam ini paling enak dipakai sewaktu kita ada di posisi minoritas, atau terlalu nyeleneh sehingga opini yang kita kemukakan tampak sulit untuk bisa dikampanyekan tanpa berujung ribut-ribut. Ini gaya berpikir yang romantis lah, sebab meletakkan diri sendiri sebagai pejuang, sebagai pemikir independen yang walau kewalahan menghadapi rombongan orang dungu, tetap bisa gagah berdiri.

Ya tapi apa iya kita ingin orang berpikir mandiri? Atau ini malah berhala saja? Menyuruh orang bertaklid, walau tidak sampai buta, itu tidak politically correct sebetulnya. Susah untuk mengatakan "Berpikir jangan terlalu mandiri" tanpa kedengaran agak totaliter. Dalam bahasa Inggris perintahnya lebih keras: "think for yourself." Ini kalau dilarang kesannya kita jahat.

Memang jelas, ketika saran ini disebutkan, maksudnya tidak lantas membolehkan berpikir seenaknya tanpa mengindahkan konsensus. Niatnya tentu bukan mempersilakan nyerocos soal kimia tanpa (katakanlah) gelar sarjana. Tapi kalau sudah demikian, retorika ini malah terasa terlalu spesifik kegunaannya. Kebijaksanaan yang ia bawa terlalu tawar, karena sudah akal sehat. Justru ulahnya membawa-bawa dikotomi taklid vs. mandiri bisa bikin bingung karena garis batasnya biasanya kabur.

Seperti biasa, ini bukanlah bentuk kepedulian, melainkan pelampiasan kekesalan. Masalahnya begini, beberapa kali saya ada menemui orang-orang yang pandangannya (menurut saya pribadi dan/atau konsensus umum) agak bengkok-bengkok, dan pembenaran yang diajukan pun lembek dan kurang meyakinkan. Meski begitu, kesannya yakin sekali. "Saya sudah periksa sendiri," katanya. Jadi menurut penuturan si katak ini, dia sudah mempelajari kok geologi dan geografi, dan wah, ternyata, bumi itu datar. Atau sudah mempelajari sejarah secara serius dan ternyata masih yakin kalau Ratu Inggris itu semacam reptil (seperti kata David Icke yang gila itu). Betul, contoh-contoh ini berlebihan dan sekadar ilustrasi saja, tapi mudah-mudahan Anda paham lah perasaan gemas seperti apa yang saya maksud.

Biang keroknya ya mungkin retorika seperti "berpikirlah mandiri" itu. Nada penyampaiannya 'kan seolah-olah: asal mau coba berpikir di luar kebiasaan, pasti bisa belok opininya. Jadi kita kadang merasa, setelah menyicip sambil-lalu literatur dari seberang, langsung merasa sudah mendidik diri sendiri dengan argumentasi dari dua kubu. Ini selain menyebalkan kalau terjadi pada orang lain, juga menakutkan kalau ternyata terjadi pada diri sendiri. Belum lagi potensinya memupuk kepercayaan diri yang tak pantas bagi orang yang opininya benar-benar ngawur.

Jadi mungkin ada baiknya retorika ini diistirahatkan saja, kecuali benar-benar perlu.

Gambar: Making Maps

«
»

8 tanggapan untuk "Romantisisme Berpikir Mandiri"

  • wah saya udah berbusa ini ngomong sama kawan soal ini. kayaknya masalahnya bukan di belajar sendirinya, tetapi terlalu yakinnya. ente sendiri sampai batas tertentu kan merasa yakin dengan apa yang ente pikir benar, meskipun mungkin masih ada celah untuk salah. masalahnya dengan sikap seperti ini adalah siapa yang menentukan siapa yang bisa belajar dan berpikir sendiri? yang keliatannya ngawur-ngawur itu kayaknya ekses yang bisa dihiraukan. melepaskan pengetahuan dari otoritas lembaga itu lebih penting kayaknya.

  • @ gentole

    Mengukur sampai mana boleh yakin itu ya susah. Sikap asal-yakin-karena-iman, seperti pada agama, itu juga kayaknya esoteris dan gak tau seumum apa di dunia nyata. Mentoknya di urusan otoritas lembaga memang. Pada derajat tertentu kita semua toh menyerahkan pada ahlinya. Sejatinya gak ada yang berpikir mandiri, tapi sejauh mana boleh bertopang pada orang? Gak jelas. Ujung-ujungnya, orang awam jadi kesulitan kalau mau berdiskusi. Tahu apa orang awam?

    Jadi belakangan saya kalau berargumen bukan mencoba benar, cuma membela supaya posisi sendiri tidak lantas ngawur saja. Itu rasa-rasanya lebih gampang, lebih realistis. Umpamanya saya percaya X: asal orang gak lantas berpikir "gila kalau percaya X" itu saya udah tentram lah. :))

  • Ketika berdebat menurut saya yg sedang dipertaruhkan bukanlah argumen, melainkan diri si pelaku debat. Hal-hal yang diperdebatkan sebenarnya cuma alat saja. Yg jadi berubah sebelum debat, selama debat dan setelah debat kan manusia-manusia pelakunya. Daya nalarnya, konsentrasi, stabilitas emosi, saya tahan, daya juang dll, bahkan termasuk kejujuran, kehendak baik dan berbagai hal berkaitan moral lainnya.

  • Tulisanya pak guru bagus-bagus ya, namun sayang font yang digunakan di blog ini kecil banget mas, mungkin bila ada teman yang bisa membenahi template bisa minta tolong membesarkan ukuran fontnya mas, kan sayang mas, tulisan2 berkelas disini agak kurang nendang hanya karena fontnya yg kekecilan IMHO

  • @ Furisodeshon

    Benar. Apa bisa dikurangi kira-kira kalau nada yang kita pakai diperbaiki? Atau sama saja?

    @ Yos Beda

    Tema ini saya kembangkan sendiri, dan memang sudah lama hendak diupgrade. Sayang tidak sempat-sempat. Tapi terima kasih sudah diingatkan.

    (BTW ini yang dimaksud ukuran tulisan di kolom komentar atau artikel? Atau dua-duanya?)

  • di lingkungan saya, saya lebih sering menemui kata-kata 'tanya mbah google dulu deh makanya" :mrgreen:

  • Pertama, apakah telah mengambil posisi pada kebenaran? Dari situ baru bisa bergerak ke pertanyaan: apakah harus mandiri atau mengikuti konsensus?
    Perasaan romantis menjadi pejuang mandiri juga perlu dikritisi. Siapa tahu konsensus benar? Perlu terbuka akan dialog dimana yang single fighter dengan massa membeberkan posisinya. Dengan begitu, mungkin, selanjutnya akan lebih jelas duduk perkaranya.
    Berpikir mandiri, ya. Namun juga perlu kerendahan hati untuk mengakui kesalahan (Jika memang posisi lain lebih dekat pada kebenaran. Agar tidak pundung karena mungkin sudah ngotot tapi kok salah.) dan kebenaran (Jika memang posisi yang mandiri tersebut lebih dekat dengan kebenaran; biar tidak semena-mena nyombong mengasosiasikan diri dengan kebenaran tersebut. Kebenaran berdiri sendiri.)

  • Yang dimaksud berpikir mandiri kalau betul-betul bebas dari bias apapun, harusnya jawabannya sama saja dengan konsensus…bukan begitu? :3

Tinggalkan komentar

Anda boleh mempergunakan HTML dengan atribut-atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote> <cite> <code> <pre> <del> <em> <i> <q> <strike> dan <strong>. Untuk menyisipkan video YouTube, bubuhkan alamat lengkap dengan huruf 'v' sebelum titik dua. (Contohnya: httpv://www.youtube.com/watch?v=oHg5SJYRHA0)